News Update :

ACEH

POLITIK

NUSANTARA

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Aceh Harus Hebat

Kamis, 20 Juli 2017

SATU poin menarik yang memenangkan pasangan Irwandi-Nova adalah jargon kampanye mereka; salam JKA! Masyarakat mana yang tidak tahu JKA. Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) ini termasuk program unggulan Irwandi masa pemerintahannya (2007-2012), dan terbilang cukup fenomenal karena telah dirasakan manfaatnya hampir seluruh rakyat Aceh. Sehingga juga menjadi rujukan negara kita saat ini dalam memberi pelayanan kesehatan gratis kepada rakyat.
Masing-masing politikus memang mempunyai senjata sendiri untuk mempengaruhi massanya. Kita berikan contoh, terpilihnya Donald Trump menjadi presiden AS tidak lepas dari jargonnya make America great again. Begitu pula terpilihnya presiden Jokowi (2014). Figurnya yang sederhana adalah media kampanye itu sendiri. Ia memanfaatkan jargon “revolusi mental” sebagai cara mempengaruhi rakyat. Sehingga tidak tanggung-tanggung “metode blusukan” menjadi amunisinya. Blusukan menjadi metode efektif yang menghantarkan Jokowi menjadi presiden RI.
Program JKA sangat fundamental, ia menusuk jantung hati rakyat sehingga jatuh hati padanya. Kehadiran JKA semacam revolusi kesehatan untuk kalangan masyarakat Aceh. Disebut revolusi karena belum pernah ada sebelumnya. Sehingga kebanyakan rakyat mengingat betul JKA ini; seperti rindu ingin bersua kembali. Sanking rindunya dengan JKA, sosok Irwandi adalah harapan mereka.
Kita sengaja menyebutkan dua contoh sosok presiden negara, Trump dengan slogan make America great again dan Jokowi dengan “revolusi mental”. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam dua slogan ini memiliki banyak sisi positif dan memberi inspirasi untuk kita terapkan dalam peri kehidupan kita. Make Aceh great again, dengan cara merubah mentalitas masyarakatnya.
AS adalah negara superpower yang mampu mempengaruhi seluruh dunia. Mereka memiliki perekonomian kuat meskipun sumber daya ekonomi itu kadang berasal atau berada di negara lain. Mereka bisa mengatur dan mempengaruhi sistem perekonomian dunia agar berpihak padanya. Mungkin wajar saja kalau ada warga penduduk dunia dari kutub selatan yang tidak tahu negara Indonesia, namun mereka pasti tahu negara Amerika.
Hari ini dengan mudah sekali kita dapat mengakses dan membeli produk AS, karena semua itu telah hadir di tempat kita, baik itu pakaian, makanan, kosmetik, aksesoris dan lain sebagainya. Kita tidak perlu ke AS untuk membeli McDonald, KFC, dan lain-lain. Artinya dunia yang begitu luas ternyata bisa dijangkau hanya dalam satu genggaman smartphone kita. Adakah produk Aceh yang benar-benar menjadi perhatian dunia? Adakah produk-produk Aceh yang benar-benar menjadi kebanggaan Indonesia?
Musuh Aceh
Trump memang dinilai cukup kontroversial, bahkan hampir tidak bisa diterima logika sehat insan-insan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karena dia disebut anti-imigran muslim. Ia selalu menyampaikan bahwa semua itu dilakukan hanya demi keamanan dalam negerinya. Jika saja Aceh memiliki musuh di luar sana, barangkali kita akan melakukan hal serupa. Musuh adalah tantangan hidup, dan musuh tidak saja bermakna frontal. Terkadang dengan cara itu kita bisa membangun diri menjadi lebih baik dan hebat. Musuh Aceh saat ini adalah kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
SDA Aceh begitu kaya raya mempesona dan menggiurkan siapa saja yang memandang. Bumi Aceh terbentang luas dari Sabang ke Tamiang, dengan gunung menjulang dan lelautan semuanya adalah sumber daya alam yang mesti digali untuk kepentingan kita sendiri. Kalau tidak kita yang menggali pasti akan datang orang lain menikmatinya. Untuk menggali SDA ini, tentu saja kita harus punya SDM yang handal. Misalnya kita tidak ingin lagi mendengar petani gagal panen karena hama.
Wadah untuk menampung aspirasi petani diperlukan disetiap daerah, dan mereka harus benar-benar profesional untuk menyelesaikan masalah. Bukan berteori belaka. Aceh adalah wilayah agraria, pertanian merupakan sumber penting keberlangsungan pasar kita. Demikian juga harga jual hasil pertanian harus lebih menguntungkan petani. Begitu pula hasil alam gas, batubara dan minyak bumi mesti kita kelola sendiri. Seterusnya industri-industri perlu didirikan agar kita tidak selalu menampung impor luar daerah.
Penyakit pemerintah Aceh adalah mereka membuat kebijakan dan program-program yang kadangkala sifatnya temporal selama masa kepemimpinannya saja. Tidak melihat jauh ke depan kepada generasi-generasi anak cucu kita. Ketergantungan kita kepada orang lain semakin memperparah trauma terhadap generasi mendatang. Mereka akan berkilah suatu saat “apa juga yang dilakukan gubernur kita lima tahun yang lalu.” Bagaimanapun juga, agar Aceh menjadi hebat haruslah berdikari dan mengelola sumber daya alam yang melimpah ruah dengan cara menghapus kebodohan.
Musuh kita lainnya yaitu perpecahan masyarakat. Perpecahan masyarakat ini bukan saja karena perbedaan golongan agama atau aliran kalam dan fikih, melainkan perpecahan sesama aktor politik di Aceh. Inilah perpecahan cukup parah melanda sosiologis kita saat ini. Karena akan mempengaruhi pembangunan daerah.
Membangun Aceh
Kesatuan dan persatuan aktor-aktor politik untuk membangun Aceh adalal hal yang niscaya. Aceh akan hebat jika semua aktor politik memiliki tujuan yang sama sebagai penyambung aspirasi rakyat demi mencapai kesejahteraan hidup. Semua kandidat yang kalah harus dilibatkan dalam menjalankan program-program masa depan, baik secara institusional ataupun swasta. Karena mereka memiliki potensi untuk memajukan Aceh.
Membangun Aceh bukan saja membangun aspek fisik saja. Melainkan juga membangun aspek psikis masyarakat. Karena kalau “jiwa sehat” pekerjaan pun akan berjalan dengan baik. Revolusi mental (morality) sama dengan membangun aspek psikis dan ini merupakan tujuan dari agama itu sendiri. Yaitu menciptakan masyarakat yang jujur, amanah, demokratis, bersatu, toleran, berkasih-sayang, etos kerja dan lain sebagainya (QS. 39:33, 16:4,105, 2:256, 49:10-13, 10:99, 4:1,59, 3:103,105, 28:77).
Kebijakan pemerintah harus diarahkan untuk menciptakan masyarakat harmonis dan memiliki etos kerja tinggi untuk keberlangsungan hidupnya. Caranya gubernur itu harus memberi teladan yang baik kepada rakyat, ia harus benar-benar seorang pekerja keras, dan ia mesti bersikap adil atas segala golongan masyarakat. Ia sendiri harus benar-benar ber-akhlakul karimah dan menyeru rakyat agar menjunjung tinggi nilai-nilai yang dikandung agama. Demikianlah cara kita mengalahkan musuh-musuh kita seperti kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
Sayembara Pilkada Aceh telah usai, dan telah berjalan dengan aman dan lancar. Kita beri apresiasi tinggi kepada seluruh masyarakat Aceh karena telah menjalankan satu aspek demokrasi dengan aman dan lancar. Hal ini membuktikan pula bahwa pemahaman demokrasi masyarakat kita sudah demikian cerdas dan patut dibanggakan.
Selamat kepada pasangan Irwandi-Nova karena telah memenangkan pilkada dan kini resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022. Kita harapkan masa pemerintahannya selama lima tahun ke depan, benar-benar memberikan perubahan Aceh menjadi hebat. Semoga!
* Syamsul Bahri, M.A., Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh. Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA), dan mahasiswa Program Doktoral PAI Multikultural Universitas Islam Malang (UNISMA), Jawa Timur. Email: syamsulbahri167@ymail.com | Opini ini diambil dari laman Serambinews.com

Akai Ku’eh, Jadi Penyebab Saling Bakar Bendera Di Kembang Tanjong ?

Kamis, 03 November 2016

acehtraffic.com- Sejak pilkada 2007 akal ku’eh merusak dan mencuri spanduk calon sudah berlangsung. Tingkat terparah terjadi pada pilkada 2012 lalu. Spanduk dan baliho para calon banyak yang rusak dan dibakar. Kejadian  ini memang banyak terjadi dimalam hari, alias kala waktu sepi dan tidak ada orang yang melihatnya.
Sebelum kejadian di Kembang Tanjung Pidie, di Aceh Timur spanduk pasangan Ridwan Abu Bakar (Nektu) – Abdur Rani juga sempat dirusak oleh orang tak dikenal, kemudian pada awal Agustus 2016  sejumlah baliho dan spanduk pasangan balon dari jalur Independen bupati dan wakil bupati Bireuen 2017 – 2022  Tu Sop-dr.Pur  di kawasan kecamatan Makmur  juga di obrak abrik pelaku misterius sekira pukul  01.00 dini hari.
Kejadian terbaru, Rabu 2 November 2016 sekitar pukul 05:30, 3 lembar bendera Partai Nasional Aceh (PNA) dibakar orang yang tidak diketahui identitasnya. Bendera lainnya dibuang ke sungai. Baliho pasangan Gubernur Aceh Irwandi-Nova yang diusung PNA, Demokrat, PDA, yang terpasang di kawasan kantor camat juga dirusak.
Model-model penghilangan atau perusakan spanduk pada malam hari atau dinihari atau dikala shalat Jumat berlangsung adalah model lama yang dipraktikkan kembali pada pilkada 2016-2017 ini- BACA LENGKAPNYA 

Memori Aceh 26 Maret 1873

Kamis, 02 April 2015

Rabu 26 Maret 1873, Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, Nieuwenhuijzen, berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Belanda, menyatakan PERANG terhadap Kerajaan Islam Aceh. Pernyataan Nieuwenhuijzen inilah yang menyebabkan kehidupan rakyat Aceh tidak menentu hingga saat ini. Perlawanan dan pengkhianatan telah bercampur aduk di sana.

Belanda dengan segala kelicikannya, harus menemukan taktik khusus perang untuk menaklukkan Kerajaan Aceh. Bahkan orientalis terkenal Prof. Dr. Snouck Hurgronje (Abdul Gaffar) sebagai konspirasi dikirimkan dari Belanda ke Arab Saudi dan ditempatkan di Aceh untuk mempelajari watak dan karakter kaum muslimin Aceh.

Perang menundukkan Aceh merupakan perang Belanda yang terlama, dan perang termahal yang harus dilakukan Belanda untuk tidak bisa menundukkan Aceh. Sebuah perang dimana dalam catatan sejarah Belanda, merupakan perang yang begitu panjang dan yang paling pahit (mungkin) melebihi pahitnya pengalaman mereka di Eropa.

Kenyataan bahwa perang Sabil terus berkobar dan berkecambuk hampir di seluruh Aceh, Belanda tidak mampu menaklukkan Aceh. Bagi Belanda, Perang di Aceh merupakan kegagalan mereka menerka Aceh.

Itu sebabnya mengapa Aceh dijuluki sebagai “Daerah Modal” bagi Indonesia, satu-satunya daerah yang tidak pernah dijajah oleh Belanda. Peperangan yang panjang dan melelahkan ini telah mengorbankan ratusan ribu nyawa manusia dari kedua belah pihak, baik Belanda maupun Aceh.

Demikian juga dana perang sedemikian besar telah dikeluarkan Belanda, dan nyaris membuat bangkrut kas Hindia Belanda sehingga menyebabkan semua perusahaan-perusahaan sebagai sumber ekonomi Belanda terpaksa gulung tikar sebagai konsekuensi logis dari perang yang dahsyat dan paling lama dalam sejarah Belanda.

Bagi Belanda segalanya sudah menjadi tidak terkendali lagi. Bangsa Belanda tidak pernah menghadapi satu peperangan yang lebih besar dari pada peperangannya di Aceh. Menurut kurun waktunya, perang ini dapat dinamakan sebagai perang delapan puluh tahun.

Menurut korbannya, lebih seratus ribu orang yang mati, perang ini adalah suatu kejadian militer yang tidak ada bandingannya dalam sejarah bangsa Belanda. Di lain sisi, rakya Aceh menganggap bahwa tersebut sebagai bentuk surga kiriman Tuhan, dimana orang Aceh seperti berlomba-lomba untuk mati syahid karena aqidah Islam sudah masuk ke dalam tulang sumsumnya. Itulah sebabnya mengapa perang ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat Aceh, tak kecuali perempuan Aceh.

Menggugat Penyebutan Perang Aceh

Perang Aceh atau Perang Aceh dengan Belanda, itulah yang selama ini seringkali kita dengar bukan? Dalam buku-buku sejarah, artikel, opini, acara seminar, atau apapun yang terkait dengan itu, jika sedang membicarakan sejarah Aceh, pastilah ada pembicaraan tentang Aceh pada masa perang dengan Belanda. Kemudian pembicaraan tersebut yang dikategorikan salah satu dalam babak sejarah Aceh ini disebut sebagai Perang Aceh. Penyebutan Perang Aceh sudah menjadi senjata andalan (kata-kata) tersendiri bagi kita. Ketika tanggal salah satu peristiwa dalam sejarah perang itu tiba, entah itu tentang Sultan Alaiddin Mahmud Syah, Panglima Polim, Tengku Chik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan sebagainya, sebutan Perang Aceh tak pernah lekas dalam ingatan kita. Anggapan tersebut bisa saja benar. Namun, pengecualian tersebesar bagi mereka yang tak paham cerita tentang jalannya perang tersebut, sekalipun perang itu terjadi di Aceh.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa penyebutan tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Berulang kali saya menahan diri dan berpaling agar tidak mendengar dan ikut dalam penyebutan perang Aceh. Tapi akhirnya saya tak tahan juga. Semenjak kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah Unsyiah Banda Aceh, sudah 4 tahun yang lalu saya meninggalkan penyebutan “Perang Aceh”.

Semula karena memang tidak paham saya menyebutnya sebagai “Perang Aceh”, namun berkat pengetahun, jarak dan waktu mulai perlahan menghulangkan ingatan tentang penyebutan Perang Aceh. Bahkan saya juga sempat mengkritisi kalangan mahasiswa sejarah tentang sebutan perang Aceh. Anda tahu, memang begitulah seharusnya (saya lebih senang menyebutnya sebagai Perang Belanda di Aceh atau perang Fisabilillah).

Apa yang kita sebut selama ini (perang Aceh) sudah jamak dilakukan oleh masyarakat Aceh dan Indonesia, bahkan dunia. Yang saya heran dan menganggapnya pembodohan adalah masyarakat Aceh yang mengetahui seluk beluk perang tersebut masih menyebut perang Aceh. Perbedaan mendasar antara perang Aceh dengan perang Belanda di Aceh adalah dapat dilihat dari ultimatum perang.

142 tahun silam atau tepatnya 26 Maret 1873 yang lalu, siapa yang menyangka bahwa di Aceh akan terjadi peperangan yang maha dasyat dengan perputaran uang dan memakan korban jiwa yang sedemikian besar ?

Tidak pernah ada yang menyangka. Berawal dari nafsu yang tak mampu lagi dibendung, dari situlah kisah perang dimulai. Dan jika ditarik lebih jauh lagi yaitu sebelum angka 1873, terdapat ada banyak alasan mengapa perang itu terjadi. Melalui surat menyurat, diancamnya hubungan diplomatik serta dicaploknya beberapa daerah di Aceh, akhirnya perang tersebut meletus.

Selain perjanjian Traktat London (1824) dan Traktat Sumatera (1871) yang dijadikan acuan sebab akibat terjadinya perang Belanda versus Aceh, beberapa alasan lainnya menyatakan bahwa perang tersebut meletus disebabkan karena, Belanda merasa janggal apabila wilayah Aceh yang letaknya cukup strategis sekaligus merupakan gerbang masuk ke Nusantara tidak dikuasai seluruhnya dan takut di ambil alih oleh pihak asing.

Sebelum pernyataan atau ultimatum perang itu dicetuskan, pihak Belanda terlebih dahulu melakukan surat-menyurat dengan Kerajaan Aceh. Surat-menyurat tersebut termaktub di Kapal Perang Citadel van Antwerpen pada tanggal 22, 23, 24, 25, 26, 27, 30 Maret dan 01-02 April tahun 1873.

 Kedua belah pihak saling membalas surat-surat tersebut. Belanda sebagai pihak pertama yang melayangkan dakwaan, kerapkali menggunakan bahasa provokatif yang ditujukan kepada Aceh. Rincinya, kesimpulan dari isi surat tersebut adalah agar Aceh dapat mengakui kedaulatan dan tunduk kepada pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya, Belanda dengan kekuasaann yang ia punya mengeluarkan ultimatum perang kepada kerajaan Aceh.

“Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh pemerintah Hindia Belanda, ia atas nama pemerintah, menyatakan PERANG kepada Sultan Aceh. Dengan pernyataan ini setiap orang diperingatkan terhadap beradanya mereka dibawah akibat perang dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam pereng”, demikianlah bunyi pengkalan surat pernyataan perang Belanda kepada Aceh, termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di Aceh Besar, pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 yang tertanda Komisaris Pemerintah Hindia Belanda Nieuwenhuijzen.

Pernyataan perang yang dilayangkan Belanda pada 26 Maret 1873 disikapi dengan serius oleh Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Alaiddin Mahmd Syah. Setelah menerima laporan terperinci dari Balai Siasat Kerajaan (Kapala/Badan Intelijen Negara), Sultan langsung mengadakan musyawarah/rapat akbar bersama seluruh pejabat dan pemuka negeri Aceh.

Sultan juga turut mengambil sumpah setia seluruh penduduk negeri menghadapi perang Belanda. Artinya, dalam rapat akbar tersebut telah diambil satu keputusan bulat bahwa Aceh akan melakukan perang total jika tetap Belanda menyerang Aceh.

“Tidak ada putusan lain yang kita ambil, kecuali menghadapi ancaman Belanda dengan semangat jihat”, demikian titah Sultan. Segenap lapisan masyarakat juga diserukan ikut serta dalam perjuangan mempertahankan kehormatan dan kedaulatan dari setiap serangan. Berkatalah Sultan: “Udep merdeka, mate syahid, langet sihet awan peutimang, bumoe reunggang ujeuen peurata, salah narit peudeueng peuteupat, salah seunambat teupuro dumna.”

Sementara itu, pasukan Belanda telah memasuki wilayah Aceh melalui pantai Ceureumen dan Meugat. Pihak Belanda dengan kekuatan penuh telah berada di pantai Ulee Lheue – dengan 3.200 serdadu yang dipimpin oleh Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Belanda siap mengeksekusi pernyataan perang yang ditujukan kepada Aceh.

Kekuatan Belanda dalam ekspedisi pertama ini terdiri dari berbagai pasukan, seperti Satu Detasemen Cavaleri, Bataliyon Kesatuan Barisan Madura, barisan meriam, barisan Genie, staf tatausaha dan pemandu kesehatan. Mayor Jenderal Kohler, yang dibantu oleh Kolonel C.E van Daalen dan Kolonel A.W. Egter van Wisserkerke selaku kepala staf, siap menyerang dan menduduki Kerajaan Aceh. Dalam hal ini, Kerajaan Aceh tidak melakukan penyerang sebagaimana dilakukan pasukan Belanda, kecuali Belanda benar-benar menyerang Aceh secara total.

Dengan demikian, jelaslah bahwa perang tersebut bukanlah “Perang Aceh melainkan “Perang Belandi di Aceh”, mengingat yang menyatakan perang adalah Belanda, bukan Aceh. Lalu, mengapa sampai saat ini kita masih menyebutnya sebagai “Perang Aceh”? Dasar sejarah apakah yang kita pegang sehingga kita berani mengklaim itu sebagai “Perang Aceh”?

Apakah Aceh juga pernga menyerang negeri Belanda? dan, apakah Sultan Aceh saat bersamaan juga melayangkan surat pernyataan perang sebagaimana yang didalilkan Belanda? Sebutan untuk Perang Aceh sama sekali tidak pantas sebagaimana yang dikatakan selama ini. Perang Aceh, sama halnya dengan penyebutan bagi perang Padri, perang Diponerogo, dan sebagainya. Fakta di atas agaknya sudah cukup untuk membuktikan bahwa perang tersebut bukan perang Aceh melainkan perang Belanda. Jadi, sangat naif sekali kalau dikatakan memori Aceh 1873-1942 sebagai “Perang Aceh” sekalipun perang tersebut terjadi di Aceh. Ini sangat jelas a-historis !

Membalikkan fakta dan sejarah Aceh. Tak lebih dari konspirasi politik sejarah yang sesat dan menyesatkan. Dengan segala hormat, hentikan sebutan yang selama ini kita sebut sebagai “Perang Aceh”, apalagi menganggap biasa-biasa saja, sepele dan sudah terlanjur.

Puk-Puk Perang Belanda di Aceh

Empati dan simpati adalah dua hal yang terbaik untuk menggambarkan perang Belanda di Aceh pada masa kini, dan (mungkin) di masa yang akan datang apabila tak kunjung berubah. Rasa kasihan yang timbul di dalam hati setiap melihat orang lain di timpa kemalangan adalah sesuatu yang membuat manusia berada dalam kodrat sosialnya yang paling hakiki.

Mencoba turut merasakan penderitaan orang lain ke dalam peristiwa sejarah perang Belanda di Aceh, mengingatkan kita bahwa banyak orang yang tidak seberuntung kita. Adalah wajar untuk merasa iba terhadap mereka yang kesusahan seperti orang-orang yang hidup pada masa perang Belanda di Aceh, meraka yang baru kehilangan kebahagiaan (harta, tahta keluarga bahkan nyawa) atau....., para pejuang kaum muslimin Aceh.

Tidak ada sejarah di dunia ini yang lebih kasihan dibanding mereka yang hidup dalam masa peperangan. Entah itu mereka yang ikut berperang, ibu-ibu yang dirumah, prajurit perang, musuh, atau siapa saja, bahkan sekalipun bocah-bocah yang sedang beranjak. Mereka yang hidup di masa itu tidak pernah berhenti melihat perang, di keheningan malam mereka selalu mendengar teriakan nyawa dan letupan moncong bedil.

Semenjak berakhirnya peperangan di Aceh, hingga dalam rentetan waktu selanjutnya, dimana Aceh mendapat Otonomi Khusus, rawut wajah Aceh dimasa damai adalah lelucon 2 kata yang seketika mengundang gelak tawa tanpa perlu pendahuluan. Perang Belanda di Aceh memang telah lama berkahir, sebagian perang itu diselesaikan di atas hitam dan putih, sebagian lagi tak ada ujungnya dan dikelabui. Namun, perang yang telah lama berlalu itu hampir mati dalam kaca mata sejarah.

Ya benar. Perang Belanda di Aceh hampir mati. Seperti bom waktu, jejak perang itu hanya menunggu waktu untuk punah dan dipunahkan. Perang itu hanya bertahan di dalam buku-buku sejarah. Faktanya pun mengisyaratkan demikian. Setiap kali tanggal peristiwa sejarah Aceh tiba, seperti terbuang sia-sia – hanya sebagian menyorot.

Masyarakat Aceh larut dalam euforia kejayaan masa lalu (cuma berbicara) dan kelihatan seperti seorang ABG yang butuh pelukan dan puk-puk. Tidak ada tanggal khusus, tidak ada peringatan sejarah, apalagi sepetak tanah yang berisikan tentang replika-replika perang atau sejarah Aceh. Yang ada hanyalah cerita-cerita mulut (tradisi?) yang tak pernah terealisasikan, bahwa Aceh pernah mengalami kegemilangan di masa lalu, kata mereka.

Memang, ada beberapa momen dimana perang Belanda di Aceh dapat terlihat sekilas, seperti adanya seminar, buku sejarah, sejarawan dan media massa, atau Kerkhof dan makam pejuang. Namun, selama bertahun-tahun Aceh lebih sering mengingkari reputasinya sebagai bangsa hebat dengan penampilan sejarah yang telah dipanggungkan dalam kancah nasional dan internasional. Kita semua tahu bahwa selama 1 dekade ini, Aceh dipimpin oleh orang-orang yang kelak akan menjadi pelaku dan sumber sejarah. Hampir sebagian dari mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam perang, dan mereka pernah memberikan motivator kepada pasukannya tentang “Perang Belanda di Aceh”. Namun ketika masa damai, prospek gemilang tinggal kenangan dan ia tetap menjadi lelucon yang makin lama makin tidak jenaka.

Yang mengherankan adalah ketika hujan empati 4 Desember diperingati dan diberikan kepada Aceh untuk mengingat momen masa lalu, kita tidak merasakan sentimen yang sama terhadap “Perang Belanda di Aceh”.

 Kita juga sama-sama tahu bahwa sejarah adalah milik penguasa, lalu apakah orang-orang yang gugur dimasa perang Belanda di Aceh akan bangkit kembali untuk menghidupkan sejarah mereka? Butuh usaha lebih dan selera yang tak lazim. Puk-puk, “Perang Belanda di Aceh”.

Menghidupkan Perang Belanda di Aceh

Tidak ada sambutan, tidak ada bendera setengah tiang, tidak ada kenangan untuk menyambut memori kelam Aceh 26 Maret 1873 di masa kini. Anda tahu, mereka kaum muslimin Aceh pergi berperang karena telah diperintahkan oleh negara. Tidakkah kita menghargai jasa-jasa perjuangan dan pengorbanan mereka?

Saya tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan pada anda tentang kesedihan atas gugurnya pejuang Aceh. Kini Aceh tidak indah lagi tanpa kehadiran mereka. Tapi saya sangat yakin, mereka kaum musilimin Aceh yang syahid di medan perang, sekarang telah bersama Tuhan dan para malaikat-Nya. Dan bahkan surga menjadi indah dengan kehadiran mereka di sana.

Lihatlah, apa yang kita temukan dii pantai Ulee Lheue, pantai Ceureumen, pantai Meugat dan pantai-pantai tempat pendaratan berlabuhnya kapal perang Belanda dan kapal-kapal Eropa? Disana kita hanya menemukan sepasang kekasih yang sedang menengak air minuman dengan tontonan sampah yang berserakan. Seharusnya diberbagai tempat dan pantai seperti itu telah didirikan monumen-monumen bersejarah.

Adalah ironis bahwa semakin lama saya menjajaki peninggalan sejarah perang Belanda di Aceh dibeberapa tempat seperti di Banda Aceh dan Aceh Besar, bahkan mencarinya di internet, semakin saya merasa kehilangan “roh” perang Belanda di Aceh. Tentu saja bukanlah roh perang sesungguhnya yang kerapkali memakan korban jiwa sedemikian besar itu, tetapi roh dalam bentuk fakta-fakta dan bukti-bukti perang baik yang original maupun buatan manusia yang direplikakan kembali.

Bohong kalau saya mengatakan bahwa bukti sejarah perang Belanda di Aceh tidak ada. Bohong pula jika saya mengatakan tidak pernah melihat bukti-bukti perang tersebut. Tapi adalah benar jika saya katakan bahwa di Aceh tidak ada replika-replika perang yang maha dasyat itu.

Kebesaran dan agungnya sebuah sejarah tak lepas dari kontribusi para sejarawan, dari awal pengumpulan data hingga merekontruksi segala peristiwa masa lalu yang berkaitan erat dengan manusia, menjadi seperti yang kita ketahui sekarang. Di samping itu, peranan dan kontribusi pemerintah, akademisi, masyarakat, bahkan media massa sangat dibutuhkan untuk kepentingan sejarah. Dan bagi mereka yang mengamini sejarah sebagai pelajaran dan inspirasi yang tak lekang oleh waktu, menghormati warisan dan pembuatan sosok-sosok penting dalam sejarah menjadi keharusan.

Sejarah perang Belanda di Aceh yang termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen pada hari rabu tanggal 26 Maret 1873, tidak harus disusun rapi dalam bundelan-bundelan dokumen yang tertata rapi di museum, perpustakaan dan ruang arsip. Banyak cara agar sejarah perang Belanda di Aceh terus hidup, tetap dikenang dan dikenalkan kepada generasi terbaru yang masih muda dan anak-anak. Tujuannya jelas: generasi baru mesti mengenal betul seluk-beluk perang Belanda di Aceh dan para leluhurnya, atau.... Aceh.

Pembuatan monumen bersejarah, seperti patung prajurit perang, prasati surat perang, atau replika jalannya perang Belanda di Aceh, bisa dijadikan suatu alternatif untuk mengabadikan suatu momen dan sejarah. Dengan cara seperti itulah ingatan dan kenangan memori Aceh 1873-1942 terhadap sejarah tetap terjaga dan terjamin kelangsungannya hingga generasi-generasi yang akan datang. Tentu saja untuk membangun monumen bersejarah tersebut, selain dana yang diperlukan, juga dibutuhkan lahan kosong dan tim arsitek yang handal demi menghidupkan kembali jejak-jejak perang Belanda di Aceh yang sangat memprihatinkan ini.

Hampir seabad setengah (1873-2015) perang Belanda di Aceh berlalu, ingatan dan kenangan tentang sejarah tersebut makin lama semakin terkikis. Bahkan kita juga tak pernah melihat dan menyaksikan adanya monumen atau replika perang yang berdiri megah dihadapan kita.

Sepengetahuan saya, selain Kerkhof, Masjid Raya Baiturrahman, dan makam-makam pahlawan, hanya ada prasasti Kohler yang dibangunkan dibawah pohon Geulumpang tepat digerbang kiri Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Selebihnya, barangkali masih bersemayam di daerah lain dan dalam mimpi serta imajinasi kita. Kita juga tidak pernah tahu dimana letak pemakaman pasukan dan pejuang Aceh yang gugur selama perang Belanda di Aceh, seperti halnya pemakaman Kerkhof.

Pada akhirnya, kita semua sadar bahwa Aceh tak pernah menghargai sejarahnya, hanya terbuai dan larut dalam euforia kejayaan masa lalu. Dengan dana yang digelontorkan sedemikian banyak itu, pemimpin kita masih buta tentang sejarah. Parahnya, pemimpin di negeri ini hanya memanfaatkan sejarah sebagai alat politik; Aceh adalah bangsa besar dengan kebesaran sejarahnya, pernah mencapai puncak kejayaannya, juga pernah dipimpin oleh 4 ratu, negeri yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang handal, serta sebagainya – sungguh ironis. Kepada yang terhormat; seluruh pemilik kekuasaan rakyat Aceh, hidupkan kembali momen-momen perang Belanda di Aceh untuk mengenang perjuangan 1873-1942.

Kiranya hal tersebut tidak dapat diwujudkan, satu-satunya cara agar perang Belanda di Aceh tetap hidup dan menghidupkan kembali adalah; Datanglah ke Aceh, atau tepatnya Banda Aceh dan daerah sekitarnya suatu hari nanti. Disana kenangan-kenangan akan perang Belanda di Aceh masih dapat disaksikan secara jelas. Kerkhof, Rumah Cut Nyak Dhien, Masjid Raya Baiturrahman, Pohon Kohler, makam-makam tempo dulu, dan sebagainya, masih berdiri kokoh untuk dijadikan bukti bahwa di daerah ini memang benar pernah terjadi perang yang maha dasyat antara Belanda dan Aceh.

Datanglah ke area perkuburan Belanda yang disebut Kerkhof suatu waktu nanti. Letaknya di daerah Blower, Banda Aceh, tidak jauh dari pendopo Gubernur Aceh, yang memang agak terbentang lurus dari arah situ dan tepat dibelakang Museum Tsunami Aceh. Banyak hal menarik dapat Anda temui di kompleks pemakaman ini. Seperti kisah para prajurit semasa hidupnya sampai pada saat dikubur. Semuanya diceritakan hanya sekilas pada batu nisan, sehingga makam ini seolah-olah sedang bercerita kepada Anda tentang masa hidupnya. Selain makam Kohler, masih terdapat banyak lagi makam-makam Jenderal Belanda dan orang terkenal lainnya di pemakaman Kerkhof ini, seperti warga setempat yang beragama Kristen dan orang-orang Tionghoa juga dikuburkan di situ. Jika ada waktu, ada baiknya anda sesekali berlibur ke Kerkhof untuk menikmati ratusan simbol yang ada di dalam sana.

Sebuah Catatan Kecil Kami Bagi Mereka

Dari mereka yang menganggap perang Belanda di Aceh sudah mati, kita tidak mendengar lagi kenangan-kenangan tentang perang ini. Logis memang. Yang lainnya, bagi mereka yang menganggap perang Belanda di Aceh belum sepenuhnya mati, masih sesekali menulis bahwa peringatan tentang perang Belanda di Aceh tampaknya sudah mati; sebuah peristiwa maha dasyat dimasa lalu yang benar-benar sudah mati. Mereka sama sekali tidak menyesalinya, karena kita tidak bisa belajar apa-apa dan mengambil pesan yang terkandung di dalam perang ini, begitu pendapat mereka.

Sementara yang setengahnya lagi, para literatur dan sejarawan (amatir), dengan fakta-fakta kosongnya juga telah membuat perang ini seolah mati, sekalipun mereka sebagai pihak pertama yang menghidupkan perang ini. Dan sementara sisanya, mahasiswa sejarah – dengan sombongnya bercerita dan berbicara tentang peristiwa maha besar ini, yang kemudian diwujudkan dituangkan abjad-abajd palsu, lalu di arsipkan dirak kamar kos. Begitu tanggal peristiwa itu tiba, mereka yang mengatasnamakan mahasiswa sejarah, lebih memilih bungkam dan tubuhnya tak bergerak untuk memperingati tanggal tersebut, sesuatu yang dianggap bisa diselesaikan dengan kata-kata.

Selama ini kita hanya membanggakan perang Belanda di Aceh dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Sampai pada akhirnya kita tidak sempat berpikir, bagaimana nasib sejarah Aceh ini. Kapan hari untuk peringatan sejarah perang Belanda di Aceh atau sejarah Aceh lainya? Adakah lagu wajib untuk mengenang peristiwa itu? Sudahkan generasi ini berbangga dengan tokoh sejarahnya? Entahlah!! Yang pasti sampai saat ini kita hanya mengetahui peringatan sejarah luar.

Kita semua tidak pernah mengenal adanya hari peringatan perang Belanda di Aceh, hari perempuan perkasa Aceh ataua hari sejarah Aceh lainnya. Akan tetapi jikalau sekedar menanyakan nama-nama pahlawan Aceh, In Shaa Allah dengan lancar lidah akan keluar semua nama itu. Tapi jika ditanyakan kapan peringatan hari dan tanggal peristiwa sejarah Aceh, semuanya akan bungkam dan sedikit menggelengkan kepala. Lainnya halnya ketika kita dilontarkan pertanyaan kapan peringatan hari R.A Kartini, dan dengan fasih kita akan menyebutnya.

Apakah Aceh dipaksa untuk mengenal tokoh sejarah dari luar, sedangkan Aceh sendiri memliki ratusan tokoh sejarahnya? Kita tidak tahu. Iya atau tidak, memang begitu realitasnya yang terpampang dihadapan kita sekarang. Realita yang memaksa kita untuk bertanya, mengapa.

Patutkah kita berbangga memiliki sejarah Aceh yang besar ini? Patutkah kita membusungkan dada seraya berkata akulah generasi bangsa Aceh darah pahlawan, pejuang dan pemberani? Anda tahu, sebagian pahlawan Aceh kerapkali disebut sebagai musuh dalam buku-buku sejarah Aceh yang ditulis oleh orientalis Belanda. Sepertinya ada yang salah dengan pandangan kita tentang perang Belanda di Aceh atau sejarah Aceh lainnya. Mungkin karena sejarah tidak menceritakan secara detail, maka ingatan tentang itu masih dibawah tingkat kepopuleran.[I]

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Sejarah, angkatan 2011, Darussalam – Banda Aceh. Sekaligus Pengurus Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI) Koordinator Wilayah

Uang Rakyat Harus Sepenuhnya Diabdikan Untuk Kepentingan Rakyat

Jumat, 27 Februari 2015

acehtraffic.com - Terciptanya kesejahteraan rakyat merupakan salah satu tujuan utama pendirian suatu negara. Sejahtera dapat diartikan sebagai keadaan sentosa dan makmur, yang dapat diwujudkan sebagai keadaan yang berkecukupan atau tidak kekurangan baik dari dimensi fisik, materi maupun rohani. Terwujudnya kesejahteran bagi seluruh rakyat merupakan tugas utama yang diemban oleh pemerintahan di seluruh dunia, tak terkecuali  Pemerintahan  Aceh. 

Perwujudan kesejahteraan tersebut utamanya dilakukan melalui program pembangunan yang terencana, terpadu dan memiliki perspektif jangka panjang. 

Program pembangunan kemudian direfleksikan dalam bentuk peningkatan pendapatan masyarakat, penurunan tingkat kemiskinan, penyediaan lapangan pekerjaan dan pembangunan yang berkualitas. Dengan kata lain, mewujudkan kesejahteraan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat pada setiap lapisan yang ada.

Dalam rangka untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi.  Sebagai sasaran utama strategi pembangunan, laju pertumbuhan ekonomi merupakan hal  penting yang selalu dikedepankan dalam pembangunan. Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan tujuan utama, mengingat sebagai kawasan yang sedang berkembang, pertumbuhan ekonomi merupakan hal mutlak yang dibutuhkan oleh Aceh. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga memiliki kaitan erat dengan penciptaan dan perluasan lapangan kerja, karena hal tersebut  pada gilirannya akan memberikan peluang yang lebih besar pada angkatan kerja.

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun anggaran 2015 mencapai Rp12,7 triliun. Rancangan ini turun sekitar 1,4 persen dari tahun anggaran 2014. Dimana pada tahun anggaran 2014 mencapai Rp12,9 triliun, ini disebabkan ketidakmampuan pemerintah dalam menghabiskan anggaran dengan baik, sisa anggaran akhir tahun 2014 mencapai 2 triliun lebih.

Kami mengharap bagaimana anggaran APBA ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat Aceh, seperti peningkatan infrastruktur, penyediaan pendidikan yang gratis dan berkualitas, kesehatan gratis dan manusiawi sehingga  benar-benar mampu menyentuh rakyat kecil, dan menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. 

Kita juga mengharapkan Pemerintah agar lebih fokus untuk membuka lapangan kerja di Aceh karena salah satu masalah di Aceh sekarang ini adalah minimnya lapangan pekerjaan sehingga angka kriminalitas tinggi. Dalam anggaran yg besar ini eksekutif dan legislatif harus komit, bersatu dan kerja keras untuk kesejahteraan rakyat Aceh.

Semoga, melalui APBA tahun 2015 ini, kebijakan pembangunan  yang  pro-poor, pro-job dan pro-growth  dapat terwujud dengan baik. Kebijakan yang berpihak pada rakyat merupakan jawaban atas tantangan yang dihadapi selama ini, sehingga masyarakat yang sejahtera bukan hanya impian, tetapi dapat  menjadi  sebuah keniscayaan.


Penulis: Haris Munandar (Ketua Eksekutiv SMUR Kota Lhokseumawe)

Jokowi, Megawati, Rayap dan Babi

Kamis, 19 Februari 2015

acehtraffic.com - Menggemuk para rayap dalam bumi yang kian rapuh//Resahnya ibu rakyat terbantai tanpa aduh//Merayap para babi di lautan, sawah, dan hutan//Menggencet anak rakyat, meremas jantung mereka

Teks di atas adalah potongan lagu “Rayap-Rayap” ciptaan Mogi Darusman dan Teguh Esha, menggambarkan bahwa kelakuan serangga “rayap” –yang merupakan metafora dari aparat korup karena memakan “tiang negara”. Meminjam konsep 4 Pilar Kebangsaan rancangan almarhum Taufik Kiemas, yang Pancasila adalah juga tiang/pilar negara, maka para rayap ini sebenarnya memakan Pancasila, terutama Sila Kelima. Sila tentang “Keadilan Sosial” ini selain merupakan harapan rakyat untuk terbebas dari kemiskinan, juga harapan agar Negara terbebas dari korupsi. Agar terbebas dari kemiskinan, maka model perekonomian harus didesain sedemikian agar ketimpangan pendapatan antara rakyat semakin membaik. Sedangkan agar terbebas dari korupsi, maka aparatnya harus tegakkan peraturan, tidak menerima suap, dan adil dalam memutuskan; sedangkan pengusahanya harus patuhi peraturan, tidak memberi suap, dan adil sejak dalam pikiran.

Jadi aparat yang semakin gemuk, sementara negara/bumi nya dijarah oleh para “babi” –yang merupakan metafora dari pengusaha rakus- akan mengakibatkan ibu terbantai dan anak rakyat tergencet. Atau dengan kata lain, saat misalnya didapati oknum-oknum kepolisian yang rekening pribadinya semakin gemuk atau gendut –apapun jabatannya dan di manapun penempatannya- dapat diindikasikan bahwa ia telah berkongkalikong dengan pengusaha yang rakus, yang tidak hanya mengakibatkan kekayaan alam milik rakyat terkuras habis, namun juga menggusur dan menyisakan rakyat dalam kemiskinan. Memang tidak semua aparat kepolisian adalah “rayap”, dan tidak semua pengusaha adalah “babi”, namun tugas kita adalah membasmi “rayap” dan menjinakkan “babi” agar tidak rakus. Pembasmi “rayap” yang paling efektif di saat ini adalah KPK- kita seharusnya bersepakat soal itu. Media massa sendirian saja tidak akan pernah efektif selama berada di bawah kendali oligarki ekonomi-politik para “babi”.

Pada masa lalu terdapat seorang polisi yang jujur bernama Hoegeng, terkenal sebagai aparat yang paling anti menerima suap dari pengusaha.Jenderal polisi ini sangat disayangi Sukarno –hingga dijadikan menteri pada 1966- dan disegani Suharto –hingga dijadikan Kapolri. Sampai-sampai, saking melegendanya, Gus Dur kerap berseloroh bahwa hanya ada tiga polisi yang jujur: Pertama. Patung Polisi; Kedua. Polisi Tidur; dan Tiga. Jenderal Hoegeng. Hal ini karena saking sulitnya kita mendapati polisi yang jujur di sekitar kita. Rakyat mungkin tidak pernah melihat atau mendengar kabar (karena kurangnya informasi dan tingkat kecanggihan yang tinggi) tentang korupsi petinggi Polisi, tetapi hampir setiap hari tentu mereka melihat dengan mata kepala bagaimana para pengendara kerap menjadi korban pemerasan di saat melanggar lalu lintas ataupun menjadi korban penjebakan narkoba (yang kadang menjadi objek pemerasan juga). Jangan sampai nanti kebencian rakyat –terhadap sifat “rayap”- sedemikian memuncak hingga tingkat yang membahayakan jika Polisi atasan (perwira tinggi) tidak segera berubah. Seharusnya mereka bekerjasama dengan KPK, bukan malah berseteru.

Wajar bila kemudian rakyat menjadi berlogika, bahwa bawahan pasti mengikuti contoh atasannya. Tidak mungkin atasan mencontoh bawahan. Jika polisi bawahan saja hobi memeras, bagaimana atasannya?Pasti “rajin” terima suap. Jika seorang polisi bawahansemacam Labora Sitorus saja dapat sedemikian berkuasanya jika bergaul dengan pengusaha suskes, maka bagaimana dengan polisi atasannya –seorang jenderal polisi- semacam Budi Gunawan (BG) yang pastilah dekat dengan banyak taipan dan politisi? Bukan tidak mungkin di daerah-daerah selain Papua terdapat Labora-Labora yang lain dan di Mabes Polri atau Polda-Polda terdapat BG-BG yang lain. Menjadi relevan kemudian bila KPK diperluas strukturnya di derah, hingga terbangun di 33 provinsi seluruh Indonesia, bahkan kalau perlu memiliki cabang di luar negeri (seperti di Singapura yang kabarnya menjadi parkiran dana haram asal Indonesia dan juga lokasi di mana para “babi” dan “rayap” ber-kongkouw).

Santer diisukan bahwa BG adalah dalang yang menghalangi naiknya Abraham Samad menjadi calon wakil presiden Jokowi tahun lalu. Memangnya apa yang dapat dilakukan BG, yang merupakan ajudan mantan Presiden Megawati Sukarnoputeri (Mega), untuk mengintervensi proses politik ini? Sepertinya tidak perlu dijawab, apalagi desas-desus tentang kedekatan keduanya bukan isapan jempol. Tentu BG yang masih merupakan perwira tinggi aktif saat Pilpres 2014 memiliki pilihan cawapres sendiri selain Samad. Tugas Utama BG adalah meyakinkan Mega menerima pilihannya. Maka jika logikanya BG dihadiahi jabatan Kapolri setelah Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) menjadi presiden dan wakil presiden, dapat diindikasikan bahwa nama cawapres yang diperjuangkan BG agar disetujui oleh Mega dan Jokowi adalah JK-taipan yang juga mantan wakil presidenera Pemerintahan SBY yang pertama (2004-2009).

Mungkin faktor inilah yang membuat JK terlihat lebih banyak menarik diri dari kisruh KPK-Polri belakangan, yaitu BG adalah promotor dari pengusaha asal Bugis yang pernah masuk daftar 40 Orang Terkaya Indonesia versi Majalah Forbes ini saat menjadi wakil SBY. JK adalah tipe ideal dari metafora “babi” dalam karya lagu Rayap-Rayap, pengusaha besar yang ingin selalu (rakus) menggendutkan bisnisnyadengan melahap proyek-proyek pemerintah dan peringanan utangnya dari perbankan, yang hanya dapat dilakukannya bila dirinya menjadi bagian dari pemerintahan di era SBY. Rakusnya JK melahap proyek menjadi keluhan tersendiri lingkaran terdekat SBY, yang menjadi alasan pisahnya pasangan ini pada 2009. Setelah kalah telak dari SBY di 2009, JK ingin kembali masuk di 2014 dengan cara apapun- termasuk menurunkan kembali grade-nya dari capres di 2009 menjadi cawapres di 2014.

Sementara Samad yang bagi kebanyakan orang karirnya sudah habis, akibat “dikerjai” ramai-ramai oleh polisi, pengacara, aktivis, dan sahabat-sahabat dekatnya semasa aktivis, masih merupakan Ketua KPK yang paling cemerlang prestasinya sepanjang sejarah berdirinya KPK setelah berhasil menjerat beberapa menteri dan ketua umum partai berkuasa di era SBY. Karena prestasi dalam pemberantasan korupsi inilah wajar bila PDI Perjuangan ingin gunakan Samad untuk mendongkrak elektabilitasnya pada Pemilu 2014. Terjadilah kemudian pendekatan antara kedua pihak, Samad dan PDI Perjuangan. Pada titik ini dapat dipastikan bahwa terbukanya komunikasi para petugas partai (semacam Hasto Kristiyanto dan Tjahyo Kumolo) atas dasar restu Mega.

Sebenarnya berdasarkan UUD 1945 tentang syarat wakil presiden, apa yang dilakukan Samad dan Mega tidaklah bertentangan dengan Konstitusi. Samad sebagai warga negara Indonesia berhak untuk menjadi calon wakil presiden, dan Mega sebagai ketua umum parpol juga berhak untuk membuka komunikasi warga negara siapapun yang ingin menggunakan parpolnya sebagai sarana menjadi calon wakil presiden. Pernyataan plt. Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto di sebuah stasiun televisi swasta, yang menyebutkan bahwa salah satu alasan Samad ingin menjadi wapres adaalah karena dengan posisi eksekutif yang setinggi wapres akan lebih mudah baginya untuk melakukan pemberantasan korupsi. Lalu apa yang salah dengan pernyataan ini? Apakah rakyat tidak boleh berharap terbebasnya Indonesia dari korupsi, saat Ketua KPK yang paling berprestasi menjadi wakil presiden mereka?

Singkat cerita. Setelah digagalkan oleh BG menjadi wakil presiden Jokowi, Samad kemudian menjalankan tugasnya kembali sebagai pimpinan KPK dengan mulai menggali kasus korupsi, seperti salah satunya adalah kasus penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) yang diduga menjerat Mega.Sah saja bila hal ini dipersepsikan dengan upaya Samad membalas dendam, namun bagaimanapun Samad hanya menjalankan perintah undang-undang untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu, semakin tinggi dan penting orang tersebut, maka semakin baik. Apalagi orang itu adalah mantan presiden seperti Mega. Diperiksalah oleh KPK kemudian beberapa menteri bidang ekonomi keuangan, seperti Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, yang diduga mengetahui detail dan seluk beluk masalah SKL BLBI di era Mega.

SKL BLBI adalah tanda lunas yang ditandatangani oleh Mega untuk para bankir pasien BLBI setelah menyerahkan sejumlah aset yang dinilai sesuai. Dalam prakteknya, setelah SKL dikeluarkan, ternyata sebagian bankir tidak menyerahkan aset yang bernilai cukup (bodong!) atau bahkan tidak menyerahkan aset sama sekali. Sehingga dicurigai terjadi transaksi suap atau gratifikasi dari pihak bankir bermasalah kepada orang-orang terdekat Mega kala tahun 2002 itu, seperti misal kepada almarhum Taufik Kiemas, suaminya, Laksamana Sukardi, dan Dorodjatun Kuntjoro Jati, menteri-menterinya.Di titik inilah kabarnya KPK sedang bekerja, dan bukti-bukti sudah semakin cukup untuk menyeret Mega dan orang-orang di lingkaran terdekatnya ke pengadilan tindak pidana korupsi.

Kabar ini pun kemudian sampai pada Mega,yang akibatkan segala daya upaya parpolnya (bersama koalisinya) harus dilakukan untuk mempercepat naiknya BG sebagai Kapolri- sampai harus mencopot Sutarman yang masa jabatannya masih 7 bulan lagi. Diharapkan dengan naiknya dirinya sebagai Kapolri, maka BG (bersama institusinya) diharapkan dapat membantu menghalangi KPK menyeret Mega ke pengadilan atau setidaknya menghalangi pemeriksaanya di gedung KPK. Sadar akan potensi hambatan yang mungkin timbul dalam penuntasan kasus SKL BLBI, maka menggunakan data-data dan alat bukti yang bersumber dari laporan masyarakat (ICW dan Tempo?), KPK pun tersangkakan BG.Datanglah kemudian kisruh Cicak-Buaya Jilid 2 yang berbau sangit kasus BLBI ini.

Untuk melunasi utang BLBI sendiri, hingga tahun 2030, APBN yang berasal dari pajak rakyat selalu dibebani dengan kewajiban menyetor dana obligasi rekap sebesar Rp60 triliun setiap tahunnya. Obligasi rekap lebih merupakan subsidi dari rakyat bagi bankir yang pernah menjadi pasien BLBI (kini semuanya sudah sehat). Maka “babi-babi” dalam negeri semakin gemuk. Sementara rakyat dan buminya terus menderita saja.Di era Mega,Negara kerap mencabut subsidi bagi rakyat banyak (semisal kasus subsidi BBM), mengurangi tingkat kesejahteraan pekerja (dengan menerbitkan UU no 13 th. 2003), hingga menjual aset nasional yang strategis kepada asing (semisal kasus Indosat).Apa yang dilakukan rezim neolib Mega hingga SBY sendiri merupakan penyelewengan dari Sila Kelima Pancasila, yang mana “keadilan sosial” bukan milik seluruh rakyat, melainkan hanya untuk segelintir bankir dan taipan.

Menjadi gelisaat melihataksi para pendukung BG siang tadi (16/03) di depan Istana Negara.Beberapa orator coba menghubung-hubungkan dukungan agar BG segera dilantik menjadi Kapolri dengan perlawanan mereka kepada sistem kapitalisme dan imperialisme. Meskipun belum karuan juga massa yang dimobilisasi tersebut paham isi pidato para oratornya. Absurditas ini terjadi kemungkinan karena para orator tersebut kurang baca sejarah atau kurang paham ekonomi-politik, ditambah dengan lemahnya kemampuan komunikasi massa. Seperti diketahui,sumber masalah dari berjangkitnya neoliberalisme -yang merupakan pintu masuk imperialisme- di Indonesia selama paska Reformasi adalah oligarki parpol yang menggadaikan 20-an undang-undang kita kepada “babi-babi” asing, yang adalah juga oligarki parpol yang (nyaris) sama dengan yang mendukung BG jadi Kapolri saat ini.***

(Oleh: Gede Sandra, alumnus ITB/UI, aktivis gerakan mahasiswa)
 
Sumber : konfrontasi.com

Doto Zaini Sedang Digergaji ?

Senin, 29 Desember 2014



acehtraffic.com-Kesakralan seorang Doto Zaini mantan petinggi GAM dan kini sebagai Gubernur Aceh sedang diuji? Penghormatan sebagai Ureung Tuha (orang tua) pemimpin geutanyoe (pemimpin kita) sebagai orang faham Mou, dan sebagai orang yang mampu menjalankan MoU, dulu ibaratnya intan dan permata tanpa noda melekat padanya. Tapi kini sepertinya intan dan permata yang dulu melekat pada Doto sedang "Digergaji", Apa intan dan Permata milik Doto itu mau disematkan pada seorang diri Muallem? 

|||

Semasa Kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2012 lalu semua menjadi manis, apa lagi dengan janjinya seakan taik menjadi emas. Begitulah kira-kira bila boleh kita ibaratkan.

Namun kian bulan bertambah tahun semuanya jadi asin malah sepertinya emas menjadi taik, masalah di Pemerintahannya kian buram akibat beda kepentingan dan kehausan kekuasaan yang tidak didapatkan atau pembagiannya tidak sama rata.

Rakyat bersorak semasa kampanye Hidup ZIKIR, Hidup PA (Partai Aceh) yang seakan akan Aceh ini akan terlepas dari genggaman NKRI, 21 Janji manis terserap kelubuk hati masyarakat yang sangat dalam, bahkan seakan-akan semuanya akan terealisasi.

Tapi kini, ... hehehehe ujungnya mustahil, toh,,, Selintingan kabar dan pemberitaan salah satu media online di Aceh sepertinya pasangan ZIKIR mulai tidak kompak dalam merodai Pemerintahan Aceh. Entah karena apa?

Fenomena ini sepertinya mengesankan ketika pemerintahan Aceh sebelumnya yang dinakhodai Irwandi-Nazar, saat itu Partai Aceh dan simpatisan  dibenturkan  dengan Irwandi Yusuf. Dari pembusukan Irwandi terlalu dekat dengan Jakarta hingga Irwandi tidak menjalankan amanah MoU Helsinki. "pokonya macam-macam lah "

Ditahun 2014 ini giliran Zaini Abdullah, entah benar atau tidak, saya tidak faham silsilah keluarga Doto. Doto dituding mengumpulkan kerabatnya didalam struktur pemerintahan Aceh dan di lembaga milik pemerintah lainnya.

Kembali - Entah benar atau tidak Zaini juga di tuding--Main sendiri-Men- artinya tidak ngajak Muallem dalam menakhodai pemerintahan Aceh.

Untuk Episode ini,  Zaini--dibilang jelek, padahal saat kampanye 2012 lalu, Zaini Abdullah yang pernah menjabat Menteri Kesehatan GAM itu ibarat intan, waktu tim kampaye mempresentasikan kepada warga termasuk kepada saya, Zaini ibarat intan yang akan mampu membawa sedarat dan selaut  harapan mantan GAM dan masyarakat Aceh yang tengah dalam kondisi 'Jra Han Jra" (jera)

Begitu juga dengan Muallem adalah pasangan yang cocok, dimana Muallem mantan panglima GAM akan faham dengan kebutuhan para mantan combatan, sementara Doto akan mampu dibagian yang lain. Cocoklah mereka itu.

Namun perkembangan kini sepertinya saya sebagai urang awam yang kadang baca berita di website dan di situs-situs berita, merasa bahwa -terserah benar atau salah Zaininya dan uallemnya yang pasti kedua orang yang sama-sama pernah dijadikan intan dan permata. Saking bercahaya intan dan permata itu dengan penuh militansi para pendukung terkubur akal sehat, dan melaupkan emosi untuk takat (pukul serta lempar, dan klaim orang lain atau calon lain pengkhianat agar tidak menang saat pencalonan Gubernur 2012 lalu.

Tapi kini sepertinya sedang ada upaya besar-besaran untuk mencabut status Intan dan permata  untuk Doto Zaini, dan terkesan  intan dan permata itu akan disematkan ke badan Muallem.

Hal ini terlihat, dari berbagai kabar di media online dan situh- situh beritanyan, hampir semua berkomentar dan menuding tentang Gubernur tidak berbagi Tumpok (job) dengan Muallem, dan Doto tidak kompromis dengan Muzakkir soal penempatan kursi becek kepala dinas, dll.

Para pengomentar ini, bila dilihat,  memang ada sebagian besar faham dengan pemerintahan, dan bersentuhan langsung. Namun ada juga yang kelihatannya tidak begitu dekat secara kelembagaan dan lain -lain juga ikut berkomentar yang sejalur. Atau kondisi ini ada pasokan info duluan atau ada training atau Workshop?

Setelah melalui proses itu baru keluar komentar?

Kondisi ini jelas memiliki harapan, bagi yang sedang menggergaji status Intan dan status terhormat, seorang Ureung tuha (orang tua) Doto Zaini, kemungkinan besar, -ini mungkin-  bersandarkan harapan sama  Muzakkir Manaf ?

Kenapa demikian?

Berdasarkan kabar dan berita yang berkembang Muzakkir sebagai wakil Gubernur yang katanya "Digasi/disunat" kewenangannya. Ketika kewenangan Muzakkir tergasi, pastinya dung tergasi juga kepentingan sejumlah 'stakholder' dibawahnya ?

Sehingga karena merasa ikut "Tergasi" maka akan timbul semangat dan akan menjadi batu asah bagi gergaji yang akan menggergaji status Intan dan permata yang selama ini melekat sebagai Ureung Tuha (orang yang dihormati), Poe Acara (Pemilik Gam, yang mengetahui Mou) yang muphom (faham) Mou pada Doto Zaini.

Pola-pola penggergajian ini serupa tapi tak sama juga terjadi terhadap seorang Irwandi Yusuf, ketika Irwandi tidak dapat menyamankan 'Stakholder' gelombang cairan bakteri pun ditabur terhadapnya.  Bak seorang sedang mempraktekkan pembuatan pupuk organik, Irwandi dibuat busuk dan berbauk.

Mungkin kini giliran Doto, Doto yang memiliki gaya khas tersebut, yang dulu di Shalehkan,  (bacaannya pakai sad bahasa arab) tetapi kini sedang dishalahkan (bacaan pakek Shad bahasa arab). Bisa jadi memang benar Shalah?

Atau jika Peneuduk (jabatan) dan hak serta Raseuki, serta syap (perumpamaan uang)  dapat lebih merata ditabur untuk stakholder-stakholder, bisa jadi Doto yang dulu sangat dimuliakan akan bakal bertambah mulia, dari sematan Intan dan Permata bertambah lagi dengan giok-giok mahal hasil hasil bumi Aceh.

Walaupun secara kepemimpinan dan tanggung jawab kepada Rakyat Aceh dan para Janda serta anak yatim yang manteong Jra (Jera) tidak dikerjakan. Namun karena taburan  yang merata Rezeki hamba diatas hamba itu, mungkin tidak seruncing saat ini- tudingannya.

Namun-mungkin- karena Peuneuduk (Jabatan), Hak, Rezeki yang tidak mengalir merata kepada ;stakholder' (yang saya tidak mengetahuinya). Karena itulah-mungkin- efeksnya   sekecil benangpun kesalahan seorang Orang tua bernama Doto yang dulu penuh intan dan permata, dicongkel dengan linggis terbuat dari baja.

Seorang pemerhati Pemerintah Aceh Teuku Dani mengucapkan rasa belasungkawa terhadap roda Pemerintahan Aceh yang  dinahkodai oleh ZIKIR. Menurutnya  sudah hampir 3 tahun kedua tokoh elite GAM ini menjadi orang nomor satu di Aceh belum mampu memberikan dampak secara positif terhadap pembangunan Aceh.

ZIKIR cuma bisa mengumbar janji - janji "Ceut Langet" kesenjangan sosial semakin meningkat tajam bahkan keterpurukan perekonomian pada umumnya bisa dirasakan oleh segenap masyarakat Aceh.

"Saya tidak ingin mengatakan tentang 21 janji ZIKIR semasa kampanye karna bagi saya itu hanya akal - akalan mereka saja untuk menjual obat dan jurus pemikat hati rakyat Aceh atau Pasoe ie lam punggoeng masyarakat (Kalau untuk sapi disebut sapi Gelonggong), bila masyarakat Aceh yang sudah pintar sudah tentu mereka berpikir secara logika dan menimbang secara matang, kita tidak butuh janji bila itu berakhir dalam sebuah mimpi," Ujar Teuku Dani

Pertarungan antar elit semakin mekar dan berbunga, tentunya janji Muzakkir menaikkan haji warga Aceh yang sudah akil baliq terasa semakin jauh dari harapan, memberikan saya dan warga Aceh lainnya  1 juta perkk juga mungkin tinggal hayalan, begitu juga menaikkan martabat bangsa Aceh tinggal bayang-bayang.

Bisa jadi jika Muzakkir tidak Digasi haknya oleh Gubernur (seperti kata berita -berita itu) kemungkinan besar -mungkin- Muzakkir akan mewujudkan janjinya menaikkan haji warga Aceh yang sudah Akil Baliq, atau uang 1 juta perkepala keluarga. Tapi ini masih hayalan saya.

Bisa saja sebaliknya, jika Muzakkir diberikan kewenangan dan dilibatkan oleh Doto dalam berbagai bidang, bisa jadi berbagai tudingan ini dan itu -  tidak bakal ada, karena semuanya sudah aman, nyaman dan menyenangkan. Namun karena itu - mungkin- tidak terjadi, maka bau kentut yang agak wangi milik Doto Zaini pun dipersoalkan? [] 






Perayaan Malam Tahun Baru, Haruskah ?

Jumat, 19 Desember 2014

acehtraffic.com - Siapa yang tidak tahu dengan istilah “Malam tahun baru“. Semua manusia belahan dunia begitu antusias untuk menyambut perhelatan yang hanya sekali dalam satu tahun ini. Malam dimana pada penghujung tanggal 31 Desember memasuki tanggal 1 Januari, banyak kegiatan atau perayaan yang dilakukan untuk merayakannya. Dalam budaya barat, malam tahun baru dirayakan dengan berpesta dan acara berkumpul bersama kerabat, teman, dan keluarga untuk menanti saat pergantian tahun. Di sejumlah kota besar didunia malam tahun baru dirayakan dengan pesta bersama dilapangan terbuka untuk menanti detik-detik pergantian tahun baru, walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu. Dan kebudayaan ini kini mewabah bagi masyarakat kita yang pada umumnya adalah umat islam, bahkan sudah dijadikan rutinitas tahunan.

Sudut pandang Islam

Namun bagaimanakah penafsiran perayanan malam tahun baru dalam islam ?. Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi, sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya memperbolehkannya dengan syarat. Tahun baru masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 M(Sebelum masehi) tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma. Julius Caesar adalah orang yang pertama penanggalan kalender masehi. Tahun baru 1 Januari atau disebut juga tahun baru masehi telah dijadikan sebagai hari suci bagi umat Kristen. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari islam. Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah Shallahu’alaahi wasallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti kedalam lubang dhob(yang penuh lika-liku), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai macam model pakaian orang barat diikuti oleh umat islam, sampai yang setengah telanjang. Begitu pun berbagai perayaan pun diikuti termasuk pula perayaan tahun baru ini. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

Perayaan pergantian malam tahun baru penuh maksiat. Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan berkumpul bersama sekelompok teman untuk tertawa lepas menikmati musik, bakar ayam, ajang mesum bagi pasangan muda-mudi, berduaan di tempat gelap laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Inilah yang sering terjadi saat malam tahun baru masehi menjelang karena para kaum muda subuhnya baru pulang dengan alasan ingin menyaksikan pergantian tahun baru tepatnya pukul 00.00 WIB. Kebiasaan ini seakan telah melekat ke diri kita umat islam. Perlu diketahui, cara-cara tersebut adalah cara syaitan yang menjerumuskan umat islam ke dalam kemaksiatan dan menyimpang dari ajaran yang disyari’atkan Islam. Kita sudah ketahui bahwa perayaan malam tahun baru itu berasal dari  orang kafir dan merupakan kebiasaan meraka. Namun sangat disayangkan juga fenomena sebagian umat islam yang mengadakan perayan malam tahun baru masehi di mesjid-mesjid dengan melakukan sholat malam berjamaah, tampa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, ini adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh baginda Rasulullah dan para sahabat. Maka hukumnya bid’ah bila ritual tertentu, seperti qilamulail, doa bersama, renungan malam, tafakkur alam atau ibadah mahdah lainnya, karena tidak ada landasan syar’inya. Kembali kepada sisi negatif dari perayaan malam tahun baru. Jika kita lihat pada tingkah laku para kaum muda saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari campur baur antara pria dan wanita dan berkhalwat(berdua-duan) bahkan mungkin lebih parah dari pada itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi dimalam tersebut dengan menerjang larangan Allah SWT dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini sekarang nyata terjadi di kalangan kita. Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, trompet atau suara bising lainnya. Katahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Rasulullah,”seorang muslim adalah seorang yang lisan dan tangannya yang tidak mengganggu orang lain”..

 Kepada generasi muda Islam

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat waktu yang telah diberikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah Swt bukan melanggar larangan allah. Marilah kita berlingdung dari mensia-siakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia. Kepada generasi muda Islam, mari terus gali ilmu agama sehingga kita dapat membentengi diri untuk tidak terlena dengan cara-cara umat lain dalam menyambut pergantian tahun baru Masehi ini ataupun dalam segala tindakan sehari-hari.

Penulis : Rahma Sarita (rahmasarita40@gmail.com)

Azimar, Kesetiaan Seorang Ibu di Garis Depan GAM

Jumat, 05 Desember 2014

“SUATU saat kamu akan kutinggalkan, kamu harus siap. Lama kelamaan kata-kata itu semakin menyentuh perasaanku. Apakah ini yang dikatakan politik? Ia rela meninggalkan aku dan anak-anaknya saat dimana kehidupan seorang dokter sudah mapan. Tapi benar, dia lebih memilih pergi untuk berjuang dan meninggalkan aku dalam kondisi hamil besar dan dua anaknya yang masih balita.”
AZIMAR tak menyangka suaminya dr Muchtar Hasbi melontarkan kata-kata itu di suatu hari pada tahun 1976. Sejak saat itu pergolakan batin terus bependar sepanjang hidup dan hari-harinya.
“Sampai sekarang saya tidak mampu melupakan peristiwa itu. Itulah awal di mana perjuangan dimulai,” ujar Azimar, isteri almarhum dr Muchtar Hasbi, yang kerap disebut sebagai perdana menteri pertama Aceh Merdeka.
Tidak banyak orang yang tahu tentang sosok Muchtar Hasbi. Namun seperti membuka kotak pandora, Azimar menukilkan kembali sosok suaminya, lewat kaca mata batin dan mata hatinya yang selama tiga puluh tahun lebih ia simpan rapi dalam memori.
Berbagai fragamen dan liku kehidupannya bersama dr Muchtar itu terungkap dalam buku “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka (Catatan Azimar, Isteri dr Muchtar Y Hasbi) yang Kamis (4/12) kemarin resmi diluncurkan ke publik, di Aula FKIP Unsyiah, Banda Aceh.
Peluncuran buku yang diselenggarakan BEM Unsyiah ini turut dihadiri Gubernur dr Zaini Abdullah yang juga sahabat seperjuangan dr Muchtar Hasbi, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, wartawan senior H Sjamsul Kahar, ketiga anak Azimar dan rutusan mahasiswa. Buku yang disunting wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur ini ditulis berdasarkan kisah nyata (true story), tentang sisi romantisme dan kesetiaan seorang istri yang ditinggal pergi berjuang oleh suaminya.
Berbagai fagmen kisah lainnya tentang manisnya romantika cinta, pengalaman spritual, dan ujian kehidupan, turut membumbui buku ini dengan latar pergolakan konflik politik Aceh pasca Dr Tgk Muhammad Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976.  
Sejak dr Muchtar memutuskan bergerilya di hutan Aceh pada 1976, Azimar tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Kebersamaan dan cinta dalam keluarga hanya mereka jalani sembilan tahun. Saat Muchtar memilih masuk hutan, Azimar tengah hamil besar anak ketiganya.
“Air matanya membasahi perutku yang hanya bilangan hari saja akan melahirkan anak ketiga kami. Kedua bahunya kupegang, matanya kutatap,” tutur Azimar pada halaman 56. Azimar mencoba iklas dengan pilihan suaminya.
Jatuh bangun
Waktu terus berjalan. Azimar tak tahu rimba dimana suaminya berada. Tiga tahun mereka tak berpandang mata. Ia hanya menerima surat dari seseorang yang dituliskan Muchtar. Setiap kali habis membacanya langsung dimusnahkan agar tidak ketahuan tentara pemerintah yang saat itu tengah mencari Muchtar Hasbi.
Bukan tanpa alasan, dalam struktur GAM, Muchtar Hasbi adalah tangan kanan Tgk Muhammad Hasan Tiro. Namun penantian itu akhirnya tiba juga. Pada 13 Agustus 1980 Azimar menerima sebuah berita yang menyentak batinnya. Mucthar syahid dalam sebuah pertempuran di Pulo Tiga, Aceh Timur.
Buku yang ditulis dengan genre novel ini menyuguhkan satu kekuatan lainnya, yaitu tentang sosok Azimar yang tegar menjalani hidup sebagai wanita single parent dan sukses membesarkan ketiga anaknya. Kini mereka hidup mapan, dan menjadi orang sukses. Ketiganya adalah Rizka Muchtar ST MM, Fikkar Muchtar ST dan dr M Aron Pase M Ked (PD) SPPD.
“Saya persembahkan buku ini sebagai hadiah kepada alamarhum suami saya dan juga untuk anak-anak yang sering bertanya kepada saya siapa bapaknya,” kata Azimar terharu.
Dalam fragmen sejarah konflik Aceh, sosok Azimar bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya tanpa mengenal usia. Teristimewa, ia juga berpesan kepada wanita Aceh agar pantang menyerah pada cobaan hidup. Status single parent bukan sebuah halangan menggapai hidup lebih baik.
“Kepada para janda yang suaminya meninggal dalam konflik Aceh, saya bepesan teruslah berjuang, jangan berputus asa karena hidup adalah perjuangan,” ucap wanita kelahiran Sigli 71 silam ini.
Buku setebal 174 halaman yang dilengkapi berbagai dokumen dan foto-foto bersejarah,  sudah bisa diperoleh di Toko Buku New Zikra, Jalan KH Ahmad Dahlan, Banda Aceh, dengan harga Rp 49.000. | Tribunnews.com |

Bertalaqqi di Mesir Serasa Mengaji di Aceh

Senin, 01 Desember 2014

ALHAMDULILLAH, genap sebulan sudah saya berada di Mesir, negeri yang kaya akan peradaban dan ilmu pengetahuan. Negeri yang menamakan dirinya Ummuad-Dunya, yaitu ibunya dunia. Setiap tahun negeri ini didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia, baik dari timur, utara, barat, maupun selatan penjuru bumi. Tak terkecuali dari ujung Sumatera, Bumi Serambi Mekkah, seperti saya. Di Mesir, agama memiliki peranan besar dalam kehidupan masyarakat. Azan yang dikumandangkan lima kali sehari semalam menjadi “penentu” berbagai kegiatan.
Begitupun, Kairo selaku ibu kota Mesir selain dikenal dengan aneka menara masjid, juga dikenal dengan berbagai menara gereja. Namun, menurut Konstitusi Mesir, semua perundang-undangan di sini harus sesuai dengan hukum Islam. Negara mengakui mazhab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di sekolah keahlian untuk menjadi imam masjid dan juga imam di Universitas Al-Azhar yang memiliki komite untuk memberikan fatwa untuk masalah agama.
Sebanyak 90% penduduk Mesir menganut Islam, mayoritas Sunni, dan sebagian juga menganut ajaran Sufi lokal. Sekitar 10% penduduk Mesir menganut agama Kristen, 78% dalam denominasi Koptik (Koptik Ortodoks, Katolik Koptik, dan Protestan Koptik). (Wikipedia)
Walaupun baru sebulan saya berada di Mesir, tapi negeri para ambiya ini membuat saya jatuh hati dan terlena. Apalagi, saat diajak seorang teman untuk mengikuti talaqqi (mengaji) di Madyafah Syaikh Ali Jumah dan Syaikh Ismail Shadiq al-Adawi.
Talaqqi sendiri bermakna jumpa, artinya mengaji dan bertatapan langsung dengan sang guru. Kegiatan ini hampir mirip dengan proses mengaji di dayah-dayah Aceh. Di mana seorang murid membaca matan kitab dan kemudian guru mensyarahkan isi dari kitab tersebut.
Dalam tingkatan talaqqi, ada beberapa tahapan yang boleh diikuti. Ada talaqqi yang diperuntukkan bagi tingkat pemula (mubtadi), tingkat menengah (mutawassith), dan untuk tingkat akhir (muntahi).
Saya sendiri mengambil tingkat mubtadi untuk jadwal talaqqi dengan Kitab Hasyiah Fathul Qarib lil-Bajuri untuk kajian fikih Syafii, Kharidah Bahiyyah untuk kajian akidah, Adabu as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Mutaalim untuk kajian akhlak, Syarah Matan ar-Bain untuk kajian hadis, dan Syarah Ibnu Aqil untuk kajian ilmu nahwu.
Selain itu, banyak juga di antara mahasiswa Aceh yang ikut program tahsin dan tahfiz Alquran bersama para masyaikh (guru besar) di sini.
Yang membuat saya tertarik dengan para masyaikh di tempat talaqqi ini adalah cara mengajar mereka yang sangat mirip dengan metode pengajian di Aceh. Para masyaikh duduk dia atas kursi khusus, mensyarah isi kitab. Jika ada yang tak dipahami oleh sang murid, maka murid dipersilakan bertanya kepada syaikh tersebut. Dalam ber-talaqqi ini saya serasa sedang mengaji di balee dayah Aceh. Padahal, semua syarahan syaikh tersebut dalam bahasa Arab.
Di samping itu, para masyaikh ini tidak dibayar sedikit pun dalam mengajar, walaupun hakikatnya semua masyaikh telah bergelar duktur (S3) ataupun bergelar ustaz (profesor). Bahkan, kebanyakan dari mereka malah membagikan kitab gratis kepada para jamaah yang hadir saat permulaan pengajian yang jumlah jamaahnya sangatlah banyak, lebih dari seratus orang.
Yang membuat saya lebih takjub lagi adalah para masyaikh ini ada yang sebagiannya berprofesi sebagai dokter ataupun ahli bedah, tapi fakih dalam ilmu agama.
Untuk mengajar pun para masyaikh ini harus memperoleh izin dari sang guru. Tapi jika tak diizinkan, maka para masyaikh ini akan terus belajar dan tidak akan mengajar dulu. Hal ini sangatlah dekat dengan etika seumeubeut para teungku di Aceh. Mengajar ataupun membuka drah (seumeubeut) bukanlah untuk mencari nafkah, melainkan karena lillahi Ta’ala dalam menyebarkan ilmu agama.
Lagi pula, untuk membuka drah seumeubeut pun haruslah melalui izin langsung dari sang guru. Jika izin telah diterima, maka drah seumeubeut akan dibuka oleh sang teungku. Jika izin belum diberikan oleh gurunya, maka sang teungku pun akan melanjutkan mengaji di dayah asalnya. Nah, kurang lebih, begitu jugalah sistem pengajian dan pengajaran yang berlaku di Mesir ini. 

OLEH HENDRI JULIAN IBRAHIM, alumnus Dayah Modern Darul ‘Ulum Banda Aceh dan Mahasiswa S2 Institute of Arab Research and Studies, melaporkan dari Kairo, Mesir [email penulis: ji_hiendre@yahoo.com] (Pernah dimuat oleh Serambi Indonesia, Senin 1 desember 2014)

Ketidakbijakan Menaikkan Harga BBM

Jumat, 21 November 2014

acehtraffic.com - Pada dasarnya semua istilah bersifat netral. Berubah menjadi negatif atau positif sesuai dengan penggunaannya adalah hal yang wajar. Namun menjadi tidak wajar ketika terjadi kontradiktif antara arti sebenarnya dari istilah tersebut dengan perbuatan yang disematkan dengan istilah itu. Uraian di bawah ini akan menjelaskan bahwa keputusan pemerintah Jokowi-JK mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah suatu tindakan yang tidak bijak. Karena itu, lebih tepat dikatakan sebagai suatu ketidakbijakan. Mempercayai suatu tindakan pemerintah sebagai suatu kebijakan bukanlah dari istilah yang digunakan untuk menamakannya ataupun retorika yang digunakan pada saat mengumumkannya. Akan tetapi lebih tepat dilihat dari substansi dan eksesnya. Latah mempercayai hanya karena istilah yang disalahgunakan dan retorika yang disampaikan sama saja dengan menyerahkan diri untuk dibohongi dan dibodohi. Pada masa orde baru sekalipun, dalam setiap tindakan pemerintah baik yang dituangkan melalui surat keputusan presiden maupun surat keputusan menteri, dan sebagainya selalu diberi judul yang “indah” serta diikuti oleh konsiderans yang berisi “kata-kata manis”. Maka selama puluhan tahun rezim orde baru berhasil membohongi dan membodohi rakyat. Implementasikan dalam bentuk pergusuran, pencabutan hak, kenaikan harga barang dan krisis baru dirasakan pahit dan perih ketika derita sampai ke leher.

Kriteria bukan pada istilah, judul atau label, tetapi pada substansi dan ekses yang ditimbulkan. Dalam arti yang sebenarnya, suatu tindakan atau keputusan pemerintah baru memenuhi kriteria sebagai kebijakan kalau substansi tindakan tersebut sesuai dengan hukum dan dampaknya berupa kebahagiaan bagi rakyat. Sebaliknya apabila suatu tindakan pemerintah substansinya bertentangan dengan hukum dan dampaknya justru mendatangkan penderitaan bagi rakyat, maka tindakan tersebut sangat layak dikatakan sebagai ketidakbijakan. Secara hukum, dari segi substansi atau materill, ketidakbijakan yang dilakukan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM berpotensi melanggar undang-undang. Dalam Pasal 14 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2014, telah ditetapkan perkiraan subsidi sebesar Rp 403.035.574.566.000,00 (empat ratus tiga triliun tiga puluh lima miliar lima ratus tujuh puluh empat juta lima ratus enam puluh enam ribu rupiah, dengan asumsi harga minyak mentah dunia sebesar US$105,0 (seratus lima dolar Amerika Serikat) per barel. Karena itu menjadi hal yang sangat ironis di saat harga minyak dunia terus mengalami penurunan hingga 80 dolar AS per barel, pemerintah justru melakukan ketidakbijakan menaikkan harga BBM. Belum lagi masalah dari segi prosedural yang mengharuskan adanya persetujuan DPR karena berimbas kepada perubahan postur APBN.

Di sisi pemerintah Jokowi-JK ada dua alasan yang diklaim sehingga mengharuskan pemerintahannya untuk mengurangi subsidi hingga mengakibatkan kenaikan harga BBM. Pertama, subsidi BBM dianggap lebih banyak dinikmati oleh rakyat mampu. Sejarah menunjukkan ini merupakan alasan klasik yang selalu digunakan oleh rezim ketika hendak menaikkan harga BBM. Alasan ini menyiratkan klaim bahwa hampir semua penduduk Indonesia adalah orang kaya raya dan hanya segelintir saja penduduk miskin melarat. Karena itulah subsidi BBM selama ini salah sasaran. Jika benar demikian, berarti Indonesia adalah negara maju setara dengan Amerika Serikat dan negara-negara maju di Eropa. Tentu tidak. Justru kita harus mengerutkan dahi tatkala melihat fakta dan realita di lapangan. Sedih dan bahkan menangis melihat banyaknya rakyat yang semakin menderita atau hidupnya melarat. Sejumlah subsidi BBM yang sebelumnya dapat dinikmati oleh semua rakyat, kini justru dicabut karena dianggap “menghambur-hamburkan uang”. Jika hampir semua rakyat Indonesia adalah orang kaya raya yang tidak perlu lagi disubsidi, maka tidak akan mungkin ada demonstrasi besar-besaran di seluruh Indonesia yang telah tiga hari berturut-turut dilakukan. Tidak mungkin para mahasiswa, buruh, dan masyarakat melakukan demonstrasi jika mereka bahagia dengan kenaikan harga BBM. Mereka tidak mungkin orang-orang  bodoh yang membuang-buang waktu, tenaga, dan nekad menghadapi risiko kalau bukan karena menentang ketidakbijakan.

Kedua, Pemerintah mengakui mengalami kekurangan dana untuk menjalankan program-programnya. Dengan mengurangi subsidi BBM, maka pemerintah mendapatkan sejumlah dana secara instan. Alasan ini merupakan cermin dari kemalasan pemerintah. Betapa tidak, seharusnya ada banyak solusi lain yang bisa dilakukan. Seandainya pemerintah konsisten dengan slogan kerja, kerja, dan kerja yang diteriakkan, maka seharusnya pemerintah “membanting tulang” untuk kreatif mencari solusi lain bukan justru “bermalasan” dengan melakukan langkah instan yang menyengsarakan rakyat. Banyak upaya lain yang dapat dilakukan tanpa menimbulkan ekses penderitaan bagi rakyat, seperti mengurangi tunjangan dan biaya operasional pejabat negara, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi minyak dalam negeri, serta memperbaiki sistem distribusi yang selama ini kerap bermasalah. Di sektor pajak dan retribusi, pemerintah dapat meningkatkan nilai pajak terhadap barang mewah serta retribusi terhadap kendaraan pribadi.

Mengutip keterangan Abraham Samad, seandainya pemerintah bisa memperbaiki pengelolaan sektor pertambangan minyak dan gas bumi melalui optimalisasi pajak dan peningkatan persentase kepemilikan negara atas saham-saham perusahaan tambang, maka pendapatan negara akan bertambah secara sangat signifikan. Sektor tambang migas saja diperbaiki, rakyat akan sejahtera. Begitu kata Abraham Samad. Jika demikian manakah yang lebih bijak antara mengurangi subsidi BBM yang menimbulkan berbagai macam ekses hingga berujung pada penderitaan rakyat ataukah memberantas korupsi dan optimalisasi pengelolaan sektor migas sehingga hasilnya dapat menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tentu jika itu yang pertama dilakukan pemerintah, maka tidak perlu sampai menaikkan harga BBM di tengah turunnya harga minyak dunia dan kondisi masyarakat yang masih menderita.

Janji-janji pengalihan dana hasil pengurangan subsidi dari “sektor konsumtif” kepada “sektor produktif” masih menimbulkan pertanyaan dan pembuktian apakah hanya sekedar retorika atau slogan. Usaha parsial yang dilakukan melalui kartu sakti justru menimbulkan masalah karena terkesan dimotivasi oleh mental pencitraan yang terindikasi nyelonong menabrak peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terlepas dari itu, hal yang telah pasti terjadi, pengurangan subsidi BBM berimbas kepada naiknya harga kebutuhan pokok sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat menjadi turun. Ujung-ujungnya baik pembeli maupun pedagang menjadi menderita. Tarif transportasi juga menimbulkan masalah antara pengusaha angkutan dengan penumpang. Realita ini tentu tidak semanis retorika dan slogan yang diucapkan pemerintah tatkala mewacanakan dan mengumumkan kenaikan harga BBM.

Logika sederhana, kemanapun dana hasil pengurangan subsidi berhasil dialokasikan tidaklah patut dikatakan sebagai suatu prestasi. Cukuplah digunakan logika yang sederhana tanpa perlu pernak-pernik yang membingungkan. Memaksa 250 juta rakyat Indonesia untuk menyumbang dua ribu, dua ribu, kemudian menyulap sumbangan itu menjadi kartu sakti, jembatan sakti, atau tanggul sakti sekalipun adalah hal yang sederhana, bahkan lebih buruk karena tidak pernah menyelesaikan masalah, tapi justru menimbulkan masalah sebagaimana telah disaksikan bersama dan akan terus menimbulkan masalah baru yang akan segera dapat disaksikan bersama. Apalagi jika alokasi tersebut tidak berhasil. Bukan pesimistis, tetapi realistis mengingat pengalaman yang sudah-sudah. Sebaliknya baru dapat diakui sebagai kebijakan apabila pemerintah segara “bertaubat” dengan mencabut kembali kenaikan harga BBM serta segera kerja, kerja, dan kerja mencari dan menemukan solusi lain yang tidak menyengsarakan rakyat.

Penulis: Armia, S.H., (Alumnus Fakultas Hukum
Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe). Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, dan juga Aktivis Gerakan Persatuan Mahasiswa Nisam (GAPMAN).

INTERNASIONAL

LINGKUNGAN

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016