News Update :

Perayaan Malam Tahun Baru, Haruskah ?

Jumat, 19 Desember 2014

acehtraffic.com - Siapa yang tidak tahu dengan istilah “Malam tahun baru“. Semua manusia belahan dunia begitu antusias untuk menyambut perhelatan yang hanya sekali dalam satu tahun ini. Malam dimana pada penghujung tanggal 31 Desember memasuki tanggal 1 Januari, banyak kegiatan atau perayaan yang dilakukan untuk merayakannya. Dalam budaya barat, malam tahun baru dirayakan dengan berpesta dan acara berkumpul bersama kerabat, teman, dan keluarga untuk menanti saat pergantian tahun. Di sejumlah kota besar didunia malam tahun baru dirayakan dengan pesta bersama dilapangan terbuka untuk menanti detik-detik pergantian tahun baru, walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu. Dan kebudayaan ini kini mewabah bagi masyarakat kita yang pada umumnya adalah umat islam, bahkan sudah dijadikan rutinitas tahunan.

Sudut pandang Islam

Namun bagaimanakah penafsiran perayanan malam tahun baru dalam islam ?. Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi, sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya memperbolehkannya dengan syarat. Tahun baru masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 M(Sebelum masehi) tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma. Julius Caesar adalah orang yang pertama penanggalan kalender masehi. Tahun baru 1 Januari atau disebut juga tahun baru masehi telah dijadikan sebagai hari suci bagi umat Kristen. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari islam. Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah Shallahu’alaahi wasallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti kedalam lubang dhob(yang penuh lika-liku), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai macam model pakaian orang barat diikuti oleh umat islam, sampai yang setengah telanjang. Begitu pun berbagai perayaan pun diikuti termasuk pula perayaan tahun baru ini. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

Perayaan pergantian malam tahun baru penuh maksiat. Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan berkumpul bersama sekelompok teman untuk tertawa lepas menikmati musik, bakar ayam, ajang mesum bagi pasangan muda-mudi, berduaan di tempat gelap laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Inilah yang sering terjadi saat malam tahun baru masehi menjelang karena para kaum muda subuhnya baru pulang dengan alasan ingin menyaksikan pergantian tahun baru tepatnya pukul 00.00 WIB. Kebiasaan ini seakan telah melekat ke diri kita umat islam. Perlu diketahui, cara-cara tersebut adalah cara syaitan yang menjerumuskan umat islam ke dalam kemaksiatan dan menyimpang dari ajaran yang disyari’atkan Islam. Kita sudah ketahui bahwa perayaan malam tahun baru itu berasal dari  orang kafir dan merupakan kebiasaan meraka. Namun sangat disayangkan juga fenomena sebagian umat islam yang mengadakan perayan malam tahun baru masehi di mesjid-mesjid dengan melakukan sholat malam berjamaah, tampa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, ini adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh baginda Rasulullah dan para sahabat. Maka hukumnya bid’ah bila ritual tertentu, seperti qilamulail, doa bersama, renungan malam, tafakkur alam atau ibadah mahdah lainnya, karena tidak ada landasan syar’inya. Kembali kepada sisi negatif dari perayaan malam tahun baru. Jika kita lihat pada tingkah laku para kaum muda saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari campur baur antara pria dan wanita dan berkhalwat(berdua-duan) bahkan mungkin lebih parah dari pada itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi dimalam tersebut dengan menerjang larangan Allah SWT dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini sekarang nyata terjadi di kalangan kita. Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, trompet atau suara bising lainnya. Katahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Rasulullah,”seorang muslim adalah seorang yang lisan dan tangannya yang tidak mengganggu orang lain”..

 Kepada generasi muda Islam

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat waktu yang telah diberikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah Swt bukan melanggar larangan allah. Marilah kita berlingdung dari mensia-siakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia. Kepada generasi muda Islam, mari terus gali ilmu agama sehingga kita dapat membentengi diri untuk tidak terlena dengan cara-cara umat lain dalam menyambut pergantian tahun baru Masehi ini ataupun dalam segala tindakan sehari-hari.

Penulis : Rahma Sarita (rahmasarita40@gmail.com)
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016