The Aceh Traffic Media |

OPINI »

More on this category »

KILAS GAMPONG»

More on this category »

Seni Kreasi »

More on this category »

Reuni mengharukan setelah 10 tahun tsunami

Monday, December 22, 2014

acehtraffic.com - Wartawan BBC Andrew Harding kembali ke Aceh setelah 10 tahun bencana tsunami dan bertemu lagi dengan salah seorang anak korban tsunami Mawardah Priyanka.

Sulit untuk mengenali Lhok Nga 

Pohon-pohon telah tumbuh kembali. Saat dilihat dari jalan, desa kecil itu seperti tersembunyi di balik tirai tebal berwarna hijau.

Ketika kami menghentikan kendaraan di daerah pinggiran, saya berdiri di tepi jalan di atas bukit sembari mencari wajah yang saya kenali--dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat situasinya sangat berbeda.

Beberapa hari setelah tsunami - ketika semuanya rata - dari sini Anda dapat melihat ke segala arah - termasuk laut, yang berjarak sekitar dua kilometer di bagian barat dan juga ibu kota Banda Aceh.

Lumpur, puing, serta kesengsaraan ada di mana-mana. Para relawan mulai mencari jenazah, dan ratusan mayat terbaring di jalanan.

Reuni yang mengharukan

Di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid, saya pertama kali bertemu dengan Mawardah Priyanka. Saat itu dia berusia 11 tahun, kelelahan, sangat kotor, dan sendirian.

Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami - yang diperkirakan setinggi 35 meter - menimpa rumah mereka di desa di pesisir Lampuuk.

Beberapa hari kemudian dia menemukan kakaknya, Mutiyah, 16 tahun, masih hidup.


Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam.

Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga.

Tetapi, delapan tahun kemudian, saya kehilangan kontak mereka.

Sulit bagi saya untuk menentukan arah ketika saya berjalan di tempat yang dulu sangat berlumpur. Sekarang di tempat itu ada jalan raya, dengan jembatan baru di atas sungai kecil.

Di sebelah kanan, saya melihat bangunan rumah - sangat sederhana, berdinding kayu dan beratap seng.

Seseorang berteriak bahwa ada orang asing datang, dan tiba-tiba sosok yang tinggi dengan berseri-seri berlari keluar dari rumah.

Reuni yang membahagiakan, mengharukan - dan sempat beberapa saat janggal - bagi kami berdua.

Saya melihat bagaimana sosok Mawardah kecil telah berubah -tentu bertambah tinggi- dan betapa kehadiran saya berarti bagi dia dan bagi saudarinya Mutiyah yang tiba dari daerah lain, dua hari kemudian.

Saya merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing meninggalkan provinsi itu.

"Tidak ada yang peduli terhadap saya - tidak ada yang mencintai saya seperti orangtua saya," kata Mawardah sambil menangis keesokan harinya.

Tsunami menghancurkan jejak orangtuanya - tidak tersisa foto ibu atau ayahnya. Sedangkan Ita harus menghidupi keluarga, seringkali meninggalkan Mawardah sendirian.

Rumah yang kosong 

Tetapi kemudian, tampak jelas bahwa bencana yang menyapu kehidupan Mawardah, juga berdampak positif.
Pada usia 21 tahun, dia menjadi sosok perempuan muda yang percaya diri, cerdas dan berambisi.

Dia meraih sejumlah beasiswa dari perusahaan semen lokal (yang dibangun kembali setelah tsunami) dan kuliah jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.

Selama dua hari, kami mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya, saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan komplesitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami.

Di sana pertama kali dibangun rumah - satu dari 140.000 unit yang dibangun dengan bantuan dana internasional sebanyak US$7trilliun untuk Aceh.

Rumah Marwadah dibangun dengan cepat dan atapnya tampak bocor, tembok tipis, dan saya ingat sejumlah pertengkaran yang tidak pantas di awal masa pembangunan mengenai kerabat mana yang akan memiliki hak atas rumah.

Tetapi, bangunan itu akhirnya sesuai dengan peruntukannya, dan keluarga kemudian mengakui bahwa rumah mereka lebih baik dibandingkan yang mereka miliki sebelum 2004.

Di tempat lain, banyak rumah tidak ditempati - bangunan itu dibangun di tengah kebingungan karena koordinasi yang buruk, dan seringkali bersaing antar lembaga bantuan, memiliki banyak uang dan terkadang lebih memikirkan menghabiskannya dengan cepat dibandingkan mengetahui keinginan komunitas lokal.

"Saya memberikan (skor untuk) upaya bantuan 65 (dari 100)," kata Muslahuddin Daud, seorang pejabat Bank Dunia yang hampir terkena tsunami.

"Banyak yang tidak sempurna. Untuk US$7trilliun kami dapat melakukannya lebih baik dengan banyak cara. Banyak rumah-rumah kosong... berlebihan. Kami memiliki lebih dari 500 organisasi bantuan dan... banyak yang tumpang tindih.

"Dan banyak uang bantuan asing dalam jangka panjang membuat orang jadi bergantung - dan mereka jadi malas. Pertumbuhan di Aceh masih mandeg - kemampuan untuk mengelola sumber daya tidak ada," kata Daud.

'Perempuan yang kuat' 

Dan kemudian terjadi perdamaian.

Sebelum tsunami, Aceh bergulat dengan kekerasan akibat pemberontakan. Meski masih berusia 11 tahun, Mawardah ingat kondisi tersebut berdampak pada semua orang, ketakutan, jalanan ditutup dan bentrokan yang terjadi di desa-desa.

Tetapi bencana kemudian membawa pembicaraan damai, dan saat ini provinsi ini terus mendapatkan manfaat dari kesepakatan otonomi yang mengakhiri konflik.

Pemerintahan baru telah menerapkan elemen hukum Syariah- yang didukung banyak warga termasuk Marwadah


Tetapi kritik mengatakan sejumlah hukuman tersebut mencederai hak asasi manusia. Meski jumlah investor asing yang meningkat, provinsi ini masih termasuk lambat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

"Kami menyukai Syariah dan saya merupakan seorang Muslim yang taat," kata Mawardah.

Meski demikian, dia mengaku yakin bahwa petugas polisi Syariah seringkali bersikap "munafik".

Suatu sore, kami mampir di kampus Mawardah di Banda Aceh tempat dia berlatih Thai kickboxing dengan sekelompok mahasiswa dan mahasiswa.

"Dia mahasiswi yang bagus. Dia bekerja dan belajar dengan keras. Sebagai seorang perempuan, dia memiliki semangat seperti pria. Dia kuat. Dia tidak mudah menyerah," kata guru bahasa Inggrisnya Maulizan Za.

Dia khawatir mengenai inflasi, tetapi - seperti banyak orang yang saya tanyai - mereka yakin bahwa hidup mereka lebih baik dan aman dibandingkan sebelum tsunami.

"Teman saya merupakan keluarga saya sekarang," kata Mawardah, setelah berlatih kickboxing dan bersiap kembali ke rumah dengan mengendarai motor saudarinya.

"Saya ingin menjadi seorang perempuan yang kuat. Setelah saya lulus saya akan kuliah di Amerika, dan bekerja sebagai seorang reporter. Saya merasa masa depan saya akan cerah," kata dia mencerminkan kepercayaan diri.| BBC |

Wanita Asal Makassar Ini Jadi Bintang Film Porno di Amerika Serikat

Makassar | acehtraffic.com - Angelina Lee, bintang film porno yang sedang ngetop di Amerika Serikat, kembali diperbincangkan di media sosial Facebook.
 
Perbincangan itu muncul, karena adanya tautan terkait dengan dirinya diunggah ke Facebook. Wanita muda berwajah oriental ini, diperbincangkan bersamaan dengan Nyomi Marcella dan Jade, bintang film panas di Negeri Paman Sam itu.

Selain diperbincangkan, karier mereka dikecam Facebooker karena dianggap mencoreng nama baik Indonesia, negara asalnya.

“Terus apa yg d banggakan,ini bukn prestasi tpi aib.” Demikian ditulis Facebooker Rose InDream. Beda dengan atlit yang mengharumkan nama bangsa dan negara atau mahasiswa berprestasi.

Lain lagi dengan pendapat Andri Key. Dia menganggap biasa saja. “Dari pd negeri sendiri yg bnyak munafik.. lebih bagus di negeri orng.. setiap manusia tu eng ad yg sempurna.. yg bs tau y megkeritik pribadi orang.. sementara yg mengkeritik aj blm tentu benar.. benahi aj dri sendiri..”

Nyomi dan Jade, adik dan kakak mengklaim dirinya berasal dari Tegal. Angelina berasal dari Makassar. Pada data dirinya yang dimuat berbagai situs, tertulis Angelina lahir di Makassar, 12 Maret 1984. Kini, dia tinggal di Hawaii.

Facebooker Anz Aditya Azza berharap ada yang mendoakan agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar. “Mari kita berdoa semga mereka di beri hidayah,agar tobat amin!”| tribunnews.com |

Ironi, Anggarkan Makan Tamu Rp 5,4 M, Gizi Buruk Rp 202 Juta

Makassar | acehtraffic.com -- Pengentasan kasus gizi buruk di Makassar, Sulawesi Selatan belum maksimal. Pasalnya, Dinas Kesehatan Kota Makassar hanya menganggarkan Rp 202 Juta dalam APBD Pokok 2015 untuk pemberian makanan tambahan. Itupun hanya untuk 50 balita. Berbeda jauh dengan anggaran makan untuk tamu Pemkot Makassar yang mencapai Rp 5,4 miliar.
Kepala Dinas Kesehatan Makassar, Naisyah T Azikin mengatakan, anggran tersebut memang dipersiapkan untuk penanggulangan anak gizi buruk. Makanan tambahan yang diberikan dalam bentuk paket dari biskuit, susu hingga multivitamin selama 100 hari. Tapi penyiapannya hanya untuk 50 anak.
  
Naisyah mengatakan, penyediaan paket bagi balita gizi buruk memang terbatas. Sehingga diharapkan bagi mereka yang punya balita gizi buruk setelah penyiapan paket ini, itu menjadi tanggungan orang tua.
"Jadi ini kan kita evaluasi. Kalau sudah membaik kondisinya, kita serahkan sama orang tua untuk menjaga gizi anaknya. Kita hanya satu kali beri paket ini, sisanya menjadi tanggung jawab orang tua," kata Naisyah seperti yang dilansir Fajar (Grup JPNN.com), Senin (22/12).
    
Naisyiah mengakui, pengentasan gizi buruk tidak sepenuhnya bisa ditanggung pemerintah. Untuk itu dirinya berharap orang tua lebih berperan penting dalam penyiapan gizi yang baik. "Masalah gizi buruk itu kan faktor penyebabnya banyak, ada karena ekonomi, ada pula karena kelainan. Jadi meski agak sulit bagi orang tua, mereka tetap harus menyediakan gizi yang baik bagi anaknya," jelasnya.
    
Sementara Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto mengaku, anggaran yang ditentukan untuk pengentasan gizi buruk sebetulnya sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dia menjelaskan, wajar saja jika anggaran makam minum tamu Pemkot agak besar, karena banyak yang datang. Berbeda dengan kasus gizi buruk, yang dianggap sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
    
"Kami kan ingin memberikan yang terbaik sama masyarakat. Kami juga ingin melayani siapa saja yang datang dengan nyaman," jelasnya.
    
Sementara, anggota Banggar DPRD lainnya Supratman mengaku, sangat menyayangkan pemerintah kota yang kurang memperhatikan hal seperti itu. Padahal, sebaiknya dalam mengusulkan rancangan anggaran hal seperti ini yang harus diprioritaskan. "Kami sudah pernah pertanyakan hal ini saat di rapat banggar. Padahal kan, di Makassar masih banyak anak yang butuh hal itu," terangnya.| JPNN |
LINTAS NUSANTARA »
DUNIA HARI INI »

Berita Lam Basa Aceh

Baca beurita laen »