SATU poin menarik yang memenangkan pasangan Irwandi-Nova adalah jargon kampanye mereka; salam JKA! Masyarakat mana yang tidak tahu JKA. Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) ini termasuk program unggulan Irwandi masa pemerintahannya (2007-2012), dan terbilang cukup fenomenal karena telah dirasakan manfaatnya hampir seluruh rakyat Aceh. Sehingga juga menjadi rujukan negara kita saat ini dalam memberi pelayanan kesehatan gratis kepada rakyat.
Masing-masing politikus memang mempunyai senjata sendiri untuk mempengaruhi massanya. Kita berikan contoh, terpilihnya Donald Trump menjadi presiden AS tidak lepas dari jargonnya make America great again. Begitu pula terpilihnya presiden Jokowi (2014). Figurnya yang sederhana adalah media kampanye itu sendiri. Ia memanfaatkan jargon “revolusi mental” sebagai cara mempengaruhi rakyat. Sehingga tidak tanggung-tanggung “metode blusukan” menjadi amunisinya. Blusukan menjadi metode efektif yang menghantarkan Jokowi menjadi presiden RI.
Program JKA sangat fundamental, ia menusuk jantung hati rakyat sehingga jatuh hati padanya. Kehadiran JKA semacam revolusi kesehatan untuk kalangan masyarakat Aceh. Disebut revolusi karena belum pernah ada sebelumnya. Sehingga kebanyakan rakyat mengingat betul JKA ini; seperti rindu ingin bersua kembali. Sanking rindunya dengan JKA, sosok Irwandi adalah harapan mereka.
Kita sengaja menyebutkan dua contoh sosok presiden negara, Trump dengan slogan make America great again dan Jokowi dengan “revolusi mental”. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam dua slogan ini memiliki banyak sisi positif dan memberi inspirasi untuk kita terapkan dalam peri kehidupan kita. Make Aceh great again, dengan cara merubah mentalitas masyarakatnya.
AS adalah negara superpower yang mampu mempengaruhi seluruh dunia. Mereka memiliki perekonomian kuat meskipun sumber daya ekonomi itu kadang berasal atau berada di negara lain. Mereka bisa mengatur dan mempengaruhi sistem perekonomian dunia agar berpihak padanya. Mungkin wajar saja kalau ada warga penduduk dunia dari kutub selatan yang tidak tahu negara Indonesia, namun mereka pasti tahu negara Amerika.
Hari ini dengan mudah sekali kita dapat mengakses dan membeli produk AS, karena semua itu telah hadir di tempat kita, baik itu pakaian, makanan, kosmetik, aksesoris dan lain sebagainya. Kita tidak perlu ke AS untuk membeli McDonald, KFC, dan lain-lain. Artinya dunia yang begitu luas ternyata bisa dijangkau hanya dalam satu genggaman smartphone kita. Adakah produk Aceh yang benar-benar menjadi perhatian dunia? Adakah produk-produk Aceh yang benar-benar menjadi kebanggaan Indonesia?
Musuh Aceh
Trump memang dinilai cukup kontroversial, bahkan hampir tidak bisa diterima logika sehat insan-insan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karena dia disebut anti-imigran muslim. Ia selalu menyampaikan bahwa semua itu dilakukan hanya demi keamanan dalam negerinya. Jika saja Aceh memiliki musuh di luar sana, barangkali kita akan melakukan hal serupa. Musuh adalah tantangan hidup, dan musuh tidak saja bermakna frontal. Terkadang dengan cara itu kita bisa membangun diri menjadi lebih baik dan hebat. Musuh Aceh saat ini adalah kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
Trump memang dinilai cukup kontroversial, bahkan hampir tidak bisa diterima logika sehat insan-insan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karena dia disebut anti-imigran muslim. Ia selalu menyampaikan bahwa semua itu dilakukan hanya demi keamanan dalam negerinya. Jika saja Aceh memiliki musuh di luar sana, barangkali kita akan melakukan hal serupa. Musuh adalah tantangan hidup, dan musuh tidak saja bermakna frontal. Terkadang dengan cara itu kita bisa membangun diri menjadi lebih baik dan hebat. Musuh Aceh saat ini adalah kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
SDA Aceh begitu kaya raya mempesona dan menggiurkan siapa saja yang memandang. Bumi Aceh terbentang luas dari Sabang ke Tamiang, dengan gunung menjulang dan lelautan semuanya adalah sumber daya alam yang mesti digali untuk kepentingan kita sendiri. Kalau tidak kita yang menggali pasti akan datang orang lain menikmatinya. Untuk menggali SDA ini, tentu saja kita harus punya SDM yang handal. Misalnya kita tidak ingin lagi mendengar petani gagal panen karena hama.
Wadah untuk menampung aspirasi petani diperlukan disetiap daerah, dan mereka harus benar-benar profesional untuk menyelesaikan masalah. Bukan berteori belaka. Aceh adalah wilayah agraria, pertanian merupakan sumber penting keberlangsungan pasar kita. Demikian juga harga jual hasil pertanian harus lebih menguntungkan petani. Begitu pula hasil alam gas, batubara dan minyak bumi mesti kita kelola sendiri. Seterusnya industri-industri perlu didirikan agar kita tidak selalu menampung impor luar daerah.
Penyakit pemerintah Aceh adalah mereka membuat kebijakan dan program-program yang kadangkala sifatnya temporal selama masa kepemimpinannya saja. Tidak melihat jauh ke depan kepada generasi-generasi anak cucu kita. Ketergantungan kita kepada orang lain semakin memperparah trauma terhadap generasi mendatang. Mereka akan berkilah suatu saat “apa juga yang dilakukan gubernur kita lima tahun yang lalu.” Bagaimanapun juga, agar Aceh menjadi hebat haruslah berdikari dan mengelola sumber daya alam yang melimpah ruah dengan cara menghapus kebodohan.
Musuh kita lainnya yaitu perpecahan masyarakat. Perpecahan masyarakat ini bukan saja karena perbedaan golongan agama atau aliran kalam dan fikih, melainkan perpecahan sesama aktor politik di Aceh. Inilah perpecahan cukup parah melanda sosiologis kita saat ini. Karena akan mempengaruhi pembangunan daerah.
Membangun Aceh
Kesatuan dan persatuan aktor-aktor politik untuk membangun Aceh adalal hal yang niscaya. Aceh akan hebat jika semua aktor politik memiliki tujuan yang sama sebagai penyambung aspirasi rakyat demi mencapai kesejahteraan hidup. Semua kandidat yang kalah harus dilibatkan dalam menjalankan program-program masa depan, baik secara institusional ataupun swasta. Karena mereka memiliki potensi untuk memajukan Aceh.
Kesatuan dan persatuan aktor-aktor politik untuk membangun Aceh adalal hal yang niscaya. Aceh akan hebat jika semua aktor politik memiliki tujuan yang sama sebagai penyambung aspirasi rakyat demi mencapai kesejahteraan hidup. Semua kandidat yang kalah harus dilibatkan dalam menjalankan program-program masa depan, baik secara institusional ataupun swasta. Karena mereka memiliki potensi untuk memajukan Aceh.
Membangun Aceh bukan saja membangun aspek fisik saja. Melainkan juga membangun aspek psikis masyarakat. Karena kalau “jiwa sehat” pekerjaan pun akan berjalan dengan baik. Revolusi mental (morality) sama dengan membangun aspek psikis dan ini merupakan tujuan dari agama itu sendiri. Yaitu menciptakan masyarakat yang jujur, amanah, demokratis, bersatu, toleran, berkasih-sayang, etos kerja dan lain sebagainya (QS. 39:33, 16:4,105, 2:256, 49:10-13, 10:99, 4:1,59, 3:103,105, 28:77).
Kebijakan pemerintah harus diarahkan untuk menciptakan masyarakat harmonis dan memiliki etos kerja tinggi untuk keberlangsungan hidupnya. Caranya gubernur itu harus memberi teladan yang baik kepada rakyat, ia harus benar-benar seorang pekerja keras, dan ia mesti bersikap adil atas segala golongan masyarakat. Ia sendiri harus benar-benar ber-akhlakul karimah dan menyeru rakyat agar menjunjung tinggi nilai-nilai yang dikandung agama. Demikianlah cara kita mengalahkan musuh-musuh kita seperti kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
Sayembara Pilkada Aceh telah usai, dan telah berjalan dengan aman dan lancar. Kita beri apresiasi tinggi kepada seluruh masyarakat Aceh karena telah menjalankan satu aspek demokrasi dengan aman dan lancar. Hal ini membuktikan pula bahwa pemahaman demokrasi masyarakat kita sudah demikian cerdas dan patut dibanggakan.
Selamat kepada pasangan Irwandi-Nova karena telah memenangkan pilkada dan kini resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022. Kita harapkan masa pemerintahannya selama lima tahun ke depan, benar-benar memberikan perubahan Aceh menjadi hebat. Semoga!
* Syamsul Bahri, M.A., Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh. Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA), dan mahasiswa Program Doktoral PAI Multikultural Universitas Islam Malang (UNISMA), Jawa Timur. Email: syamsulbahri167@ymail.com | Opini ini diambil dari laman Serambinews.com


0 komentar:
Posting Komentar