“SUATU saat kamu akan kutinggalkan, kamu harus siap. Lama kelamaan kata-kata itu semakin menyentuh perasaanku. Apakah ini yang dikatakan politik? Ia rela meninggalkan aku dan anak-anaknya saat dimana kehidupan seorang dokter sudah mapan. Tapi benar, dia lebih memilih pergi untuk berjuang dan meninggalkan aku dalam kondisi hamil besar dan dua anaknya yang masih balita.”
AZIMAR tak menyangka suaminya dr Muchtar Hasbi melontarkan kata-kata itu di suatu hari pada tahun 1976. Sejak saat itu pergolakan batin terus bependar sepanjang hidup dan hari-harinya.
“Sampai sekarang saya tidak mampu melupakan peristiwa itu. Itulah awal di mana perjuangan dimulai,” ujar Azimar, isteri almarhum dr Muchtar Hasbi, yang kerap disebut sebagai perdana menteri pertama Aceh Merdeka.
Tidak banyak orang yang tahu tentang sosok Muchtar Hasbi. Namun seperti membuka kotak pandora, Azimar menukilkan kembali sosok suaminya, lewat kaca mata batin dan mata hatinya yang selama tiga puluh tahun lebih ia simpan rapi dalam memori.
Berbagai fragamen dan liku kehidupannya bersama dr Muchtar itu terungkap dalam buku “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka (Catatan Azimar, Isteri dr Muchtar Y Hasbi) yang Kamis (4/12) kemarin resmi diluncurkan ke publik, di Aula FKIP Unsyiah, Banda Aceh.
Peluncuran buku yang diselenggarakan BEM Unsyiah ini turut dihadiri Gubernur dr Zaini Abdullah yang juga sahabat seperjuangan dr Muchtar Hasbi, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, wartawan senior H Sjamsul Kahar, ketiga anak Azimar dan rutusan mahasiswa. Buku yang disunting wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur ini ditulis berdasarkan kisah nyata (true story), tentang sisi romantisme dan kesetiaan seorang istri yang ditinggal pergi berjuang oleh suaminya.
Berbagai fagmen kisah lainnya tentang manisnya romantika cinta, pengalaman spritual, dan ujian kehidupan, turut membumbui buku ini dengan latar pergolakan konflik politik Aceh pasca Dr Tgk Muhammad Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976.
Sejak dr Muchtar memutuskan bergerilya di hutan Aceh pada 1976, Azimar tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Kebersamaan dan cinta dalam keluarga hanya mereka jalani sembilan tahun. Saat Muchtar memilih masuk hutan, Azimar tengah hamil besar anak ketiganya.
“Air matanya membasahi perutku yang hanya bilangan hari saja akan melahirkan anak ketiga kami. Kedua bahunya kupegang, matanya kutatap,” tutur Azimar pada halaman 56. Azimar mencoba iklas dengan pilihan suaminya.
Jatuh bangun
Waktu terus berjalan. Azimar tak tahu rimba dimana suaminya berada. Tiga tahun mereka tak berpandang mata. Ia hanya menerima surat dari seseorang yang dituliskan Muchtar. Setiap kali habis membacanya langsung dimusnahkan agar tidak ketahuan tentara pemerintah yang saat itu tengah mencari Muchtar Hasbi.
Waktu terus berjalan. Azimar tak tahu rimba dimana suaminya berada. Tiga tahun mereka tak berpandang mata. Ia hanya menerima surat dari seseorang yang dituliskan Muchtar. Setiap kali habis membacanya langsung dimusnahkan agar tidak ketahuan tentara pemerintah yang saat itu tengah mencari Muchtar Hasbi.
Bukan tanpa alasan, dalam struktur GAM, Muchtar Hasbi adalah tangan kanan Tgk Muhammad Hasan Tiro. Namun penantian itu akhirnya tiba juga. Pada 13 Agustus 1980 Azimar menerima sebuah berita yang menyentak batinnya. Mucthar syahid dalam sebuah pertempuran di Pulo Tiga, Aceh Timur.
Buku yang ditulis dengan genre novel ini menyuguhkan satu kekuatan lainnya, yaitu tentang sosok Azimar yang tegar menjalani hidup sebagai wanita single parent dan sukses membesarkan ketiga anaknya. Kini mereka hidup mapan, dan menjadi orang sukses. Ketiganya adalah Rizka Muchtar ST MM, Fikkar Muchtar ST dan dr M Aron Pase M Ked (PD) SPPD.
“Saya persembahkan buku ini sebagai hadiah kepada alamarhum suami saya dan juga untuk anak-anak yang sering bertanya kepada saya siapa bapaknya,” kata Azimar terharu.
Dalam fragmen sejarah konflik Aceh, sosok Azimar bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya tanpa mengenal usia. Teristimewa, ia juga berpesan kepada wanita Aceh agar pantang menyerah pada cobaan hidup. Status single parent bukan sebuah halangan menggapai hidup lebih baik.
“Kepada para janda yang suaminya meninggal dalam konflik Aceh, saya bepesan teruslah berjuang, jangan berputus asa karena hidup adalah perjuangan,” ucap wanita kelahiran Sigli 71 silam ini.

