News Update :

‘Tatapan Terakhir Puteri ‘

Minggu, 07 Oktober 2012

Sebelum dipanggil  yang khaliq, PE sempat bercanda dan bermain manja dengan Dekna dan Dekta yang tak lain adalah anak tantenya. Bahkan saat ia pamit sempat diungkap bahwa dia bakal pergi jauh.  Diujung lorong beberapa kali ia menoleh dan menatap kearah dua bocah kecil yang masih menunggunya--------- 

Setelah sempat menginap semalam dirumahnya di Bireum Bayeun Kab Aceh Timur. PE sempat balik lagi kerumah tantenya di Langsa. (Rabu malam), Hari Kamis  (Kalo tidak salah ya, kata Tante PE -Red).  Saat itulah sempat ada curhatan dari PE kepada Tantenya. (pernyataan ini ada rekaman audio dan vidio)

Saat itu PE mengatakan “ PE malulah ibuk ada yang gunjing PE,” Bis tu katanya ada di koran lagi,” Aku tante PE menirukan ucapan PE saat ditemui dirumahnya, Minggu 30 September 2012. (pernyataan ini ada rekaman audio dan vidio)

“Ya udah kalau begitu, kamu disini saja, ngapain pulang kesana,” Jawab tante sambil menghibur.

Dirumah Tantenya seperti biasa ia bermain dengan anak-anak tante yang masih kecil yang bernama Eka Ramadani nama panggilan Dekta (10,5) tahun dan Jasliana Nurul Husna (Dekna), bahkan hari itu PE juga menikmati makan siang dirumah tantenya. 
.
Tantenya sudah menjadi Ibu yang kedua setelah ibu kandungnya  Nurul   cerai dengan Yusrin. Nurul berangkat ke negeri jiran untuk bekerja sementara anak yang ditinggal selain dalam bimbingan Yusrin juga dibawah pengawasan tantenya, termasuk urusan PE masuk sekolah lagi, setelah sempat putus sekolah.

,”Sikula lon petamong loem keuno u Langsa, mese jeh jih ka SMA jino, cuma sempat nganggur (Sekolah saya yang masukkan di langsa, kalo tidak nganggur dia udah SMA,” Ujar Tantenya Jasminawati. 

Yusrin (50) tinggal dirumah dasar di Bireum Bayeun. Sementara anak-anaknya Hr (18), PE (16) dan Ar (11) sering bersama Yusrin juga terkadang pulang kerumah Tante mereka di Langsa.

Kepergian ibunda ke negeri jiran tidak lepas dari jeritan persoalan ekonomi, boleh dibilang kehidupan ekonomi keluarga itu  tergolong dibawah garis kemiskinan. Bayangkan rumah mereka ditempati berukuran lebar 3 meter, panjang sekitar 4 meter, ber-atap rumbia yang mulai bocor, begitu juga dengan dinding, terbuat dari tepas (bambu cincang) kondisinya sudah  uzur.

Didalamnya hanya memiliki satu kamar tamu dan satu  kamar tidur, sementara dibelakangnya dimamfaatkan untuk dapur. Tak ada perabotan baru, hanya ada satu rak TV kayu warnanya juga sudah kusam.

Rumah itu tanpa halaman, hanya terpaut 3 meter dari bahu jalan lintas Medan-Banda Aceh, diatas tanah milik PT Kereta Api Indonesia. Dikiri dan kanan ada sejumlah rumah yang lain dengan kondisi fisik sedikit lumayan.

Yusrin (50) tidak memiliki pendapatan tetap, sehari-hari ia bekerja mencari kayu Mangrove untuk bahan baku arang, juga bekerja upahan menjadi pendodos sawit warga, namun banyak juga nganggur. Jepitan ekonomi membuat kedua anak laki-laki yang masih berumur belasan itu juga harus bekerja.

Kembali ke PE.

Siang itu dia masih dirumah tantenya. Saat hari mulai sujud kebarat ia meminta pamit untuk kembali lagi ke Aramiah. Namun tantenya tetap berharap agar PE tinggal di Langsa saja. Namun PE tetap ngotot kembali ke Aramiah, entah karena  malam itu ada acara hajatan Peugot Ranub disamping rumah, atau dia teringat kepada ayah? Tidak ada yang tahu soal ini.

Waktu itu tidak ada pirasat dari Tante dan keluarganya yang lain bahwa keponakan tercinta bakal mengalami kejadian tragis seperti itu. Semua keluarga dari Ibunya mengharapkan PE tumbuh layaknya perempuan lainnya, bisa menamatkan SMP bahkan melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi menurut kemampuan.

Saat keluar rumah, ia pamitan pada kedua bocah Dekna dan Dekta, mata PE seakan tak mau lepas memandang kedua anak kecil yang cukup manja dengannya, berkali –kali ia minta pamit,

 “Adek,  kakak pulang ya,…PE pamit, dua bocah itupun tidak terima begitu saja, mereka sempat bertanya “Kapan kakak balik lagi? “ Ngak tau, dek, ‘ Jawab PE, lalu ia menambahkan “Kakak mau pergi jauh, sembari  melangkah keluar dari halaman rumah.

Dekna dan Dekta masih memperhatikan setiap gerak langkah sang kakak yang beberapa saat lalu bermain manja dengan mereka. Sekitar 50 meter PE berjalan, tepatnya di ujung lorong, saat ia hendak belok, beberapa kali ia menoleh ke belakang, menatap Tante dan menatap Dekna dan Dekta.

Ternyata itulah tatapan yang terakhir....... | AT | RD |


Baca Juga : 
Tiga Hari Jelang Ajal Menjemput
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016