News Update :

'15 Jam Bersama Puteri'

Sabtu, 06 Oktober 2012


Kisah tragis bunuh diri remaja PE berbuntut panjang, banyak pihak mengikuti kasus ini? Media, Jurnalis serta Dinas Syariah Islam ikut terbawa-bawa. Inilah kisah yang terangkum dalam "15 Jam Bersama Puteri" berdasarkan tuturan IT remaja yang sama –sama dengan PE saat ditangkap Polisi Syariah /Wilayatul Hisbah sampai esoknya dilepas dan dijemput keluarganya. ----------------

“Apa Ke “ Tanya PE kepada IT sedikit menantang, pertanyaan itu pula  mengawali pertemuan mereka dimalam itu, hampir saja terjadi perkelahian. Namun panas itu tidak berlanjut, kedua anak manusia masih usia remaja itu saling sabar. Ketegangan itu mencair, keduanya berbaur dan saling bercerita.

Malam itu di lapangan bukan hanya  IT dan PE, namun banyak  remaja lain juga masih bergadang di malam itu. IT memang sudah menjadi tempat bermain disana, boleh dibilang rumput atau pohon cemara disekitaran lapangan sudah mengenalnya.

Perempuan yang tidak sempat menamatkan  SMP itu, menurut pengakuan kehidupannya terganggu setelah tragedy rumah tangga menimpanya,  Ibu dan Ayahnya  bercerai , sejak itulah ia tinggal bersama neneknya.

Singkat cerita untuk menghilangkan penat dan suntuk dari berbagai beban hidup  Lapangan itulah dipilih menjadi tempat yang luas dan dianggap menjadi ramuan istimewa untuk menghiburnya.

Kalau benar seperti yang diakuinya, mungkin saja hanya manusia pilihan saja yang sanggup memikul beban seberat yang mendera IT. Bayangkan ia memiliki 7 ibu tiri, sementara adek dan abangnya semua dititipkan ke Pante Asuhan?

 “Pening aku bang kurang perhatian orang tua, keluar malam untuk cari hiburan dan cari kawan, bukan untuk yang lain bang” Katanya saat di temui reporter acehtraffic.com.

Di Lapangan Merdeka, IT berkawan dengan  siapa saja asal tidak mengganggunya, namun kebanyakan mereka masih berusia remaja baik yang cewek maupun cowok. Kehidupan keras membawanya menjadi keras, tak heran bila ada yang iseng atau memperlakukannya tidak menyenangkan, langsung ia tantang. 

Senin 3 September 2012,  Tengah malam,  IT masih berada dilapangan, begitu juga sejumlah remaja yang lain. Dimalam yang sudah mulai menyepi itu, tiba-tiba ia berpapasan dengan PE, mereka saling menatap, disitulah terjadi sedikit ketegangan antara keduanya. 


“Apa Ke ? Tanya PE, IT pun balik menantang Apa Ke ?

Situasi sedikit tegang, kalo saja pertengkaran mulut berlanjut, mungkin jurus takwondo atau kungfu syaap..syap ya akan terjadi disini. Namun keduanya saling mundur dan akhirnya mereka saling ngobrol.

“Kalau ngk diam aku pukul, salah dia kok, dia yang mulai liat-liat, karena  dia ngk maju,  aku  pun sabar, terus aku duduk disamping dia, Aku tidak mengenal dia, tapi pernah liat sesekali,” Aku IT.

Itulah awal pertemuan antara IT dan PE. Sebelumnya IT pernah sesekali melihat PE disana, namun mereka hanya saling memandang, tapi tidak untuk mengobrol. Tapi entah mengapa malam itu, awalnya hampir ribut, kemudian berubah dan saling bertukar-kabar.

Dalam obrolan itu terungkap bahwa PE berada di lapangan malam itu karena di tinggal oleh kawannya yang sama-sama  pergi nonton keybord. Karena ketinggalan,  iapun tak bisa pulang kerumah karena tidak ada lagi tumpangan atau  kenderaan umum.

Patroli Wilayatul Hisbah Datang

Jam 3.00 Dinihari, sedang santai –santainya ngobrol-ngidul,  mobil Patroli Polisi Syariah menyambar Lapangan, sejumlah pria dan wanita yang lain memilih kabur.  Namun tidak bagi IT dan PE, ia memilih diam ditempat, saat itulah ia digaruk dan di amankan ke markas Polisi Syariah. “Saya ajak dia untuk lari, tapi dia ngak mau,” Ujar IT.

Dikantor polisi Syariah/WH, IT mengaku di perlakukan baik, namun ada juga yang menanyakan ngapain disana.  “Ngapain kamu dilapangan? Nge (red)…..Ya? Ngak Pak jawab IT.  ,“Saya ngak Ngeee……….Pak?  Kamu  ngaku ngak? ditanya lagi.

Gini bang ya “Kita ngak Nge…. kek mana bang?  Memang kita ngak jadi gimana mau ngaku. Karena terus didesak akhirnya ku bilang terus gini. “ Ya aku nge……. sekali dibayar 300,”

,”Waktu aku bilang gitu, si PE bilang kok gitu ke IT? Ya kita ngaku betul ngak percaya, kita bilang ngk betol percaya. Biar cepat selesai terus. Banyak kali proses.,” Ujar IT lepas.

IT bercerita, saat desakan soal “Itu” PE merepet-repet, bapak ini ee jahat x bapak ini di bilang kita Ngee……..”  Ini adalah pengakuan IT, soal benar atau salah atau ada yang dia sembunyikan kita juga tidak tahu (sesuai rekaman)

Dikantor WH IT dan PE berselimut dengan kain gorden, keduanya duduk berdekatan, mereka seperti adik kakak.

Siang esok harinya, Polisi Syariah/Wilayatul Hisbah IT  dan PE  di lepas
dengan syarat menandatangani  surat pernyataan sebagai jaminan tidak mengulangi lagi keluyuran dilarut malam.   “PE  dijemput tantenya, bis tu aku kagak komunikasi lagi, hingga kudengar berita dia telah tiada” Ujar IT mengenang.

|||

Sekitar pukul 10.00 Wib pagi, Senin 3 September 2012 Kantor dinas syariah Kota Langsa menghubungi keluarga IT dan PE. Keluarga PE kedatangan awak Dinas Syariah itu untuk mengabarkan bahwa ada seorang anggota keluarga sedang berada dikantor Syariat Islam. Dan meminta keluarga PE  datang ke kantor Dinas Syariat Islam untuk menjemput.

Permintaan itu direspon cepat oleh keluarga PE. Jasminawati Tante PE, tanpa menunggu suaminya pulang berbelanja. Mereka  langsung mendatangi kantor yang dimaksud, ia ditemani seorang anak masih  kecil dan adik perempuannya,  sekitar pukul 10:00 wib tiba dikantor tersebut, Namun karena sang kepala kantor masih sibuk dengan rapat, akhirnya mereka diminta balik setelah siang.

Siang harinya,  sesampai dikantor Jasmiyati diminta menghadap, saat itulah ucapan-ucapan agak..agak …..menyambar Jasminawati.

“Ponaan Ibu ….Blaaa..blaaa…Udah jadi blaaa….membuat Jasmiyati dooon. Jasmiyati tak sanggup menahan tangis, air matanya tanpa disadari menetes. …Sementara PE diam seribu bahasa berada dibelakang sang Tante saat serangan mulut itu meluncur kepada Tantenya. Begitu juga dengan tante satu lagi yang ikut menemani.

Si PE ibu jamin…ibu jamin ? dengan nada meninggi.  Ia tak berkata banyak. Hanya menjawab dengan kalimat singkat Insya Allah Pak. (Pernyataan ini terekam) Selesai dengan yang punya wewenang yang lebih tinggi dikantor itu. Kini dihadapkan pada seorang bawahan yang sedang menyiapkan surat pernyataan.

Sambil disiapkan surat pernyataan sang petugas dengan suara lembut berkata “ Kenapa dek malu-maluin ibu”..

Dalam suasana pikiran yang kacau balau itu Jasminawati pun waktu itu sempat bertanya kepada keponakannya. ,“Benar kamu …..? “ Ngak ada buk, kami hanya duduk aja,” Jawab PE saat itu seperti dikisahkan sendiri oleh Jasmiyati.

Tak lama kemudian surat pernyataan pun sudah siap, Jasminawati segera menandatanganinya, begitu juga dengan PE. Disana Jasminawati juga bertemu dengan sejumlah wartawan, dia ngaku sempat meminta agar jangan ditulis di media. 
Namun sang wartawan menjelaskan sesuai  UU Pers, berita atau informasi tidak boleh dilarang untuk ditulis. 

”Rame  wartawan disana, saya tidak kenal dia wartawan apa,  dibilang begitu ya sudah, saya pun kurang ngerti,” Kata Jasminawati.

Setelah proses administrasi di kantor syariah selesai ia bersama PE dan seorang adik perempuan serta ditemani seorang anak Jasminawati yang masih kecil, menumpang becak menuju rumahnya.

Sesampainya dirumah atas permintaan Ibu kandungnya PE  yang saat itu masih berada di negeri jiran alat komunikasi yang selama ini dipegang PE diminta untuk dicabut.  dengan harapan PE dapat menenangkan diri pasca kejadian itu. 

Esoknya, Selasa 4 September 2012. Berita tentang tertangkap PE dan IT keluar di media. | AT | RD | 
 


Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016