
Kuala Lumpur | acehtraffic.com - Secara rata-rata pekerja seks berusia 16 sampai 25 tahun di Malaysia melayani 10 pria dalam sehari.
Mereka biasanya bekerja 20 hari dalam sebulan dan ini berarti dalam sebulan mereka melayani 200 pria.Demikian menurut pernyataan sebuah surat kabar yang berbasis di Malaysia, Harian Metro.
Mereka biasanya bekerja 20 hari dalam sebulan dan ini berarti dalam sebulan mereka melayani 200 pria.Demikian menurut pernyataan sebuah surat kabar yang berbasis di Malaysia, Harian Metro.
"Kondisi itu menyebabkan kemungkinan pria yang berlangganan mereka terinfeksi penyakit kelamin termasuk virus HIV sangat tinggi," kata Kepala Asisten Direktur Divisi Kongsi Gelap, Judi dan Maksiat (D7), Kantor Pusat Polisi Bukit Aman, Datuk Abdul Jalil Hassan.
Saat ditemui oleh Harian Metro Malaysia di kantornya di Bukit Aman, Kuala Lumpur, beliau mengatakan, kebanyakan pekerja seks baik dari dalam atau luar negeri yang ditahan dalam razia mereka mengakui mengidap penyakit kelamin.
Saat ditemui oleh Harian Metro Malaysia di kantornya di Bukit Aman, Kuala Lumpur, beliau mengatakan, kebanyakan pekerja seks baik dari dalam atau luar negeri yang ditahan dalam razia mereka mengakui mengidap penyakit kelamin.
"Jadi, pria yang suka berlangganan pekerja seks mereka harus tahu resiko mereka terserang penyakit kelamin dan virus HIV sangat tinggi," katanya. Ia juga menganjurkan agar pria hidung belang tersebut agar tidak terpedaya dengan kecantikan pekerja seks itu terutama dari Vietnam yang kini laris di kalangan pelanggan.
Ditanya kenapa permintaan pelacur Vietnam saat ini meningkat, Abd Jalil mengatakan, ada dua faktor utama mengapa hal itu terjadi.
"Pertama, faktor usia. Kebanyakan bapak ayam menawarkan remaja Vietnam berusia 16 tahun. Kedua, faktor komunikasi karena perempuan Vietnam mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik, "katanya.
Sementara itu, pakar Andrologi, Dr Ismail Tamby mengatakan, penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks dengan pelacur tidak menjamin seseorang itu bisa selamat dari infeksi penyakit kelamin.
Menurutnya, ini karena kondom yang digunakan mungkin sudah rusak karena tidak disimpan dengan baik atau rentan suhu panas.
"Banyak yang tak tahu kondom ada tanggal kadaluwarsa dan tidak bisa disimpan terlalu lama karena akan pecah dan tidak lagi berfungsi sebagai alat perlindungan," katanya.
Ismail mengatakan, lebih mengkhawatirkan, saat ini, penyakit kelamin sulit terdeteksi karena sikap masyarakat yang lebih gemar menangani sendiri tanpa berkonsultasi dengan pakar. | AT | Z | myMetro
