
Lhokseumawe | acehtraffic.com – Jenazah Rustam Efendi (35) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tewas tenggelam di perairan Sungai Air Hitam, Kuala Langat Malaysia. Senin, 23 Juni 2014.
Adik kandung korban, Edwar (28) mengatakan, hal yang paling saya ingat adalah, satu bulan sebelum peristiwa itu terjadi, Rustam pernah berpesan untuk menjumpai dirinya sebelum ia pulang ke Indonesia.
Edwar menambahkan, maka pada hari Minggu, 15 Juni 2014 saya menjumpai abang disalah satu taman didaerah Port Klang. Pada saat itu abang memakai kemeja putih, kemudian saya diajak kerumahnya.
Sesampai disana kami bercanda, karena sudah lama tidak jumpa. Mungkin kerena abang pun merasa rindu kepada saya, makanya sebelum pulang ke Indonesia ia ingin berjumpa dengan saya.
“Saat itulah saya terakhir berjumpa dengan abang,” ujar Edwar.
Lebih lanjut, Edwar menyebutkan, kemudian hari Rabu, 18 Juni 2014 abang pulang ke Indonesia dengan menumpangi kapal tongkang yang naas tersebut. Sekitar pukul 22:00 waktu Malaysia abang telpon saya namun tidak bersuara, saya hanya mendengat suara perempuan minta tolong dan tangisan anak-anak.
Saya terus mencoba berbicara dengan abang kandung saya ada dikapal itu, namun tetap tidak ada jawaban. Saya hanya mendengar teriakan minta tolong dan seruan kata Allahu Akbar.
“Saya mendengar itu selama 30 menit, kemudian terputus,” tutur Edwar.
Setelah putus, kata Edwar, saya kembali menelpon abang yang ada didalam kapal tongkang itu, panggilannya masuk namun tidak diangkat, saya mencobanya selama tiga kali.
Sekitar pukul 01:00 waktu Malaysia, saya baru tahu telah terjadi peristiwa tenggelamnya kapal tongkang tersebut. Kemudian saya menghubungi kerabat-kerabat yang ada disana, untuk mencari informasi tentang peristiwa itu.
Tadi malam sekitar pukul 10:00 Wib, Jenazah Rusam Efendi tiba dirumah duka, yaitu di Desa Utengkot, Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Kemudian langsung di Shalatkan dan dikebumikan. | acehbaru.com |
Adik kandung korban, Edwar (28) mengatakan, hal yang paling saya ingat adalah, satu bulan sebelum peristiwa itu terjadi, Rustam pernah berpesan untuk menjumpai dirinya sebelum ia pulang ke Indonesia.
Edwar menambahkan, maka pada hari Minggu, 15 Juni 2014 saya menjumpai abang disalah satu taman didaerah Port Klang. Pada saat itu abang memakai kemeja putih, kemudian saya diajak kerumahnya.
Sesampai disana kami bercanda, karena sudah lama tidak jumpa. Mungkin kerena abang pun merasa rindu kepada saya, makanya sebelum pulang ke Indonesia ia ingin berjumpa dengan saya.
“Saat itulah saya terakhir berjumpa dengan abang,” ujar Edwar.
Lebih lanjut, Edwar menyebutkan, kemudian hari Rabu, 18 Juni 2014 abang pulang ke Indonesia dengan menumpangi kapal tongkang yang naas tersebut. Sekitar pukul 22:00 waktu Malaysia abang telpon saya namun tidak bersuara, saya hanya mendengat suara perempuan minta tolong dan tangisan anak-anak.
Saya terus mencoba berbicara dengan abang kandung saya ada dikapal itu, namun tetap tidak ada jawaban. Saya hanya mendengar teriakan minta tolong dan seruan kata Allahu Akbar.
“Saya mendengar itu selama 30 menit, kemudian terputus,” tutur Edwar.
Setelah putus, kata Edwar, saya kembali menelpon abang yang ada didalam kapal tongkang itu, panggilannya masuk namun tidak diangkat, saya mencobanya selama tiga kali.
Sekitar pukul 01:00 waktu Malaysia, saya baru tahu telah terjadi peristiwa tenggelamnya kapal tongkang tersebut. Kemudian saya menghubungi kerabat-kerabat yang ada disana, untuk mencari informasi tentang peristiwa itu.
Tadi malam sekitar pukul 10:00 Wib, Jenazah Rusam Efendi tiba dirumah duka, yaitu di Desa Utengkot, Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Kemudian langsung di Shalatkan dan dikebumikan. | acehbaru.com |
