News Update :

Mahasiswa dan Masyarakat Aceh Jakarta Serukan Pemilu Berlangsung Damai

Minggu, 06 April 2014

Jakarta | acehtraffic.com - Pelaksanaan pemilu langsung, umum, bebas, jujur dan adil merupakan amanat konstitusi yang wajib dijunjung tinggi oleh seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemilu. Proses demokrasi untuk memilih wakil rakyat harusnya berlangsung damai, tanpa kekerasan dan tekanan dari pihak mana pun. 

Namun ironisnya, di Aceh situasi menjelang Pemilu justeru diwarnai dengan serangkaian kekerasan yang berakibat pada jatuhnya korban nyawa dan harta. Sebagaimana diketahui, saat ini tercatat sudah lima orang meninggal dan puluhan harta benda dan atribut partai rusak atau hangus. 

Situasi yang terjadi menjelang pemilu 2014 ini telah menyebabkan trauma mendalam bagi masyarakat Aceh. Trauma akan terulangnya konflik seperti yang terjadi puluhan tahun sebelumnya. Bahkan intensitas kekerasan ini telah mengancam proses demokrasi serta keberlangsungan perdamaian di Aceh.

Maka, dalam situasi seperti ini kualitas pemilu terus terang kami ragukan. Tidak terjaminnya keamanan dan ketertiban di Aceh bukan saja akan menganggu keseluruhan proses pemilu, melainkan juga menyebabkan ketakutan yang sangat mendalam bagi masyarakat Aceh secara umum. 

Kekerasan politik yang seharusnya sudah ditinggalkan semenjak reformasi dipancangkan, kini kembali lagi dalam wajah yang baru, namun dengan pola yang sama, yakni penggunaan kekerasan senjata yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Dalam hal ini maka pemerintah selaku pemegang mandat konstitusi harus bertanggungjawab dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi setiap warga negara, serta menegakkan hukum yang berlaku agar keadilan bisa dipenuhi. 

Atas kondisi tersebut, kami Masyarakat Aceh di Jakarta, sangat prihatin dengan lemahnya peran negara, baik Pemerintah Pusat, maupun Pemerintah Aceh dalam menangani konflik kekerasan di Aceh. Presiden dan jajaran Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah serta badan pelaksana pemilu (KPU, Bawaslu, DKPP dan Kepolisian RI) harus bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi yang aman di Aceh. 

Kami, Masyarakat Aceh di Jakarta menyatakan sikap:
Pertama, Mendesak Presiden untuk secara serius sungguh-sungguh menangani persoalan tersebut dan segera melakukan evaluasi pelaksanaan pemilu di Aceh 

Kedua, mengutuk segala bentuk kekerasan yang berlangsung di Aceh, baik pembunuhan, kekerasan, intimidasi dan lain-lain yang mengatasnamakan kepentingan politik.

Ketiga, kepada Kepolisian Republik Indonesia agar mengusut tuntas rangkaian kekerasan yang terjadi Aceh dan mengamankan masyarakat pada saat pemilu nanti. Kepolisian harus mampu mengungkap dan menangkap pelaku yang berada dibalik semua tindak kekerasan yang selama ini terjadi. 

Keempat, kepada KPU dan Bawaslu jangan menutup mata terhadap pelanggaran pemilu yang terjadi di Aceh. KPU dan Bawaslu harus pro aktif dan bertindak tegas dalam menyelesaikan pelanggaran pemilu. 

Kelima¸ kepada Partai Politik agar benar-benar berperan memberikan pendidikan politik yang santun dengan berkompetisi secara fair dan tidak memecah belah masyarakat demi kepetingan politik semata. 

Keenam, kepada Rakyat Aceh agar tidak terpancing dengan kekisruhan politik yang sedang terjadi. Rakyat Aceh harus menolak setiap bentuk kekerasan dan tentukan pilihan secara kritis sesuai keinginan. 

Ketujuh kepada TNI, agar serius mengusut anggotanya yang terlibat dalam kekerasan di Aceh dengan menyerahkan pelakunya kepada pihak kepolisian. Selain itu, TNI harus benar-benar menunjukkan profesionalismenya dan netralitasnya dalam pemilu.

Penyataan ini disampaikan AMSA [Aliansi Masyarakat Sipil Aceh-Jakarta], IMPAS [Ikatan Mahasiswa Paska Sarjana Aceh-Jakarta], IMAPA [Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Jakarta], KOMPAJAYA [Komunitas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Jakarta Raya], SAMAN UI [Silahturahmi Mahasiswa Universitas Indonesia], KontraS [Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan], JRK [Jaringan Relawan Kemanusiaan], SOMAKA [Solidaritas Mahasiswa dan Masyarakat untuk Aceh], SAJAK [Seniman Aceh Jakarta], FORSOLA [Forum Solidaritas untuk Aceh], SP [Solidaritas Perempuan]. | LIA | RILIS|
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016