Menjadi anak perantauan bukan hal yang mudah. Mungkin begitulah kata yang tepat muncul dibenak. Apalagi kalau mengingat soal makan diperantauan.
Bagiku masakan adalah penting karena hampir setiap saat ketika orang tua menelpon menanyakan bagaimana kabarku selalu saja diingatkan soal kesehatan, termasuk menjaga makan karena makan juga bagian dari kesehatan.
Sampai-sampai Ayah berpesan, “untuk apa kuliah tinggi-tinggi, kalau tidak menjaga kesehatan, nanti pas ketika selesai sakit-sakitan” begitulah pesan Ayah kepada anaknya yang sedang berada diperantauan.
Perantauanku memang tidak begitu jauh, bisa terbilang dekat, hanya menyeberangi laut saja. Lain pulau. Aku yang berasal dari pulau Sumatera, Aceh tempat kelahiranku.
Hampir dua tahun aku tidak pernah pulang sejak meninggalkan kampung halaman menuju Kota Malang, Jawa Timur tempat aku mengenyam pendidikan magister Pendidikan Matematika saat ini di Universitas Negeri Malang.
Mengingat pertama kali sampai ke Kota Malang aku sulit beradaptasi dengan masakan yang ada di Kota Malang.
Disini kebanyakan masakannya tidak ada kuahnya untuk membasahi nasi, apalagi lalapan. Hanya nasi tok, dengan telur dadar. Bagiku itu sulit memakannya, karena aku biasanya di rumah makan dengan memakai kuah, sampai-sampai nasinya terapung karena banyaknya kuah dan itupun tergantung kuahnya apa. Begitulah singkatnya.
Nah, terkadang kalau jadwal perkuliahan padat sehingga tidak sempat masak sendiri, warung yang menjadi solusi buat makan tentu “warung nasi padang”. Warung nasi yang pemiliknya berasal dari padang memang dekat dengan asrama tempat aku tinggal. Tidak begitu jauh, hanya berjarak 100 meter dari asrama Aceh. Dan kebanyakan teman-teman yang berasal dari Aceh suka sekali makan di warung tersebut.
Menu masakan yang ada sering bervariasi, dan ada bermacam kuah, mulai dari ikan, udang dan menu-menu lainnya. Selain itu, masakan padang pada umumnya hampir sama dengan masakan Aceh, kuah rendang adalah menu faforit mahasiswa Aceh.
Memang harganya tidak jauh berbeda dengan nasi yang dijual warung-warung lain. Ya, itulah tadi, mungkin aku belum terbiasa dengan menu masakan kota Malang, maklum karena dari kecil aku susah makan kalau nasinya kering tanpa ada kuah yang membuat nasi itu menjadi basah.
Sekali-kali aku masak sendiri di Asrama Aceh, kebetulan ada kompor gas lengkap dengan perlengkapan masaknya. Hanya saja tergantung kita mau masak atau beli, akan tetapi kalau sering membeli seperti di warung nasi padang yang harganya dua belas ribu satu bungkus itu bukanlah solusi bagiku.
Kalaulah kita makan 3 kali sehari sudah berapa uang yang kita keluarkan setiap harinya, beruntung kalau dapat warung yang lebih terjangkau. Mungkin bagi teman-teman yang makannya dua kali sehari bisa kita bilang hemat sedikit, 2 kali makan dikali harga perbungkusnya sehingga totalnya 24.000 sehari itu belum minum.
Kalau dihitung-hitung sehari minimalnya 30.000. Sebulan 900.000 khusus untuk makan belum biaya kos, biaya foto copian makalah, buku dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, pinter-pinter kita mengatur bagaimana pengeluaran tidak membesar tetapi praktis sederhana dan terjangkau.
Terasi sebagai menu alternatif
Kebiasaanku pada hari-hari libur perkuliahan sering masak sendiri. Nah suatu ketika sayur-sayur yang ingin aku masak ternyata sudah habis, sudah 2 minggu tidak belanja. Pada hari itu aku sedang tidak punya uang untuk beli di Warung padang, kebetulan saja nasi tadi pagi masih ada, sementara perutku tidak sabar lagi untuk makan siang.
Kemudian aku lihat di kulkas asrama ada terasi, bawang merah, asam sunti (asam dari Aceh) dan beberapa cabe lombok. Secara spontan keluar ide, “ahh, aku buat sambel terasi ajalah untuk siang ini” sambil memegang perutku yang sudah mulai bunyi.
Nah, langsung aku ambilkan tempatnya dan aku olah terus sampai sambel terasinya jadi. Terus untuk lauknya masih ada dua butir telur. Akhirnya siang itu ditemani dengan sambel terasi dan telur dadar. “Waah lega,kenyang, alhamdulillah”.
Itulah pertama kali mencoba terasi semenjak berada di kota Malang, dan hingga hari ini ketika berbelanja ke pasar tidak pernah lupa membeli terasi untuk persiapan sebagai perasa alternatif di saat sayur-sayur lain habis.
Maka terasi adalah solusi agar bisa makan. Tentunya bagi teman-teman tidak asing dengan terasi, karena memang terasi ada sebagian orang yang doyan, ada juga yang tidak suka karena baunya yang susah hilang, sekalipun tangan kita cuci pake sabun.
Namun masih tetap ada. Entah kenapa susah hilang baunya, tapi bagiku bau tidak masalah karena masih sanggup di tahan dan tidak terlalu menggangu kenyamanan. Akhirnya terasi menjadi perasa alternatif untuk makan disaat manu lain tidak ada.[sekian]
Tulisan ini dikirim oleh Mursalin, mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Malang asal Aceh.

