
Banda Aceh |
acehtraffic.com- Permintaaan mantan sekretaris negara merangkap menteri
Pendidikan dan Penerangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kabinet Hasan Tiro
dikala gerakan itu dirintis yang meminta Pemerintah aceh dan DPRA menunda
pelantikan tersebut karena berbagai alasan. Senin 2 Desember 2013
Dianggap oleh Partai Aceh sebagai upaya memperkeruh suasana Aceh dimasa damai. Namun tudingan itu kembali dibantah Juru Bicara Dr Husaini Hasan Sufaini Usman Syekhy dalam pernyataan lisan dan tertulis.
Sebagaimana dikutip dari laman serambi, menurut Sufaini Usman Syekhy apa yang dikatakan Razak (Abu Razak -red) sangat tidak berdasar dan asal ngomong.
"Kita sesalkan itu, apalagi dia tidak mengenal beliau (Dr Husaini Hasan -red),"
Dia melanjutkan, Apakah bisa dikatakan propaganda atau memperkeruh suasana kalau ada orang yang akan meluruskan sesuatu yang keliru dan berusaha menyatukan semua komponen masyarakat untuk kepentingan Aceh,” tandas Sufaini Usman Syekhy selaku Juru Bicara Dr Husaini Hasan dalam pernyataan lisan dan tertulis kepada Serambi, Minggu (1/12).
Menurut Syekhy, tujuan kepulangan Dr Husaini Hasan ke Aceh sudah sangat jelas disampaikan dalam dua kali konferensi pers, baik di Banda Aceh pada 28 September 2013 maupun di Meulaboh pada 29 November 2013.
Pada dua kali konferensi pers tersebut, kata Syekhy, Dr Husaini menegaskan alasan kepulangannya ke Aceh tidak punya kepentingan lain selain untuk melihat kondisi Bumi Serambi Mekah yang sudah lama dia tinggalkan.
Namun, kata dia, fakta lain menggambarkan perkembangan Aceh saat ini pascadamai jauh dari apa yang dibayangkan. Terutama terkait proses rekonsiliasi yang tidak terjadi. Di beberapa kalangan, kata dia, masih ada suara-suara saling curiga sehingga semakin memperenggang rasa persaudaraan.
“Mengapa Aceh begini hari ini. Mengapa kita tidak bisa bicara dari hati ke hati, masih ada rasa saling curiga di antara kita. Kita sudah ratusan tahun berperang dengan penjajah, tapi masih berpikir sesama kita seperti orang lain,” kata Syekhy mengutip inti pernyataan Husaini ketika konferensi pers di Banda Aceh, dua bulan lalu.
Husaini juga menekankan perlunya rekonsiliasi sebagai jalan menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di kalangan eks GAM, para pelaku sejarah perdamaian Aceh, dan para tokoh yang terlibat dalam konflik.
“Konflik kalau tidak diselesaikan sekarang semasa tokoh-tokoh konflik masih hidup, ditakutkan akan berkelanjutan ke generasi berikutnya, mungkin lebih sulit untuk diselesaikan di kemudian hari,” kata Husaini dalam bagian lain penjelasannya sebagaimana dikutip Syekhy.
Syekhy kembali menegaskan bahwa kepulangan Dr Husaini Hasan ke Aceh sama sekali tidak untuk menebar propaganda atau memperkeruh suasana, malah menurutnya masyarakat Aceh seperti mendapatkan sosok tokoh tempat mereka ‘curhat’ tentang apa yang sedang terjadi.
“Dr Husaini berusaha memberi pemahaman dan meluruskan sesuatu yang keliru agar jangan ada anggapan Aceh ini milik kelompok tertentu.
Sebenarnya tanpa kepulangan Dr Husaini pun rakyat Aceh sudah bisa menilai sendiri siapa yang sedang melakukan pembodohan terhadap mereka namun selama ini mereka tak bisa berbuat banyak.
Nah, Wajar jika kemudian kehadiran sosok Dr Husaini disambut dengan sukacita,” kata Sufaini Syekhy dari Komite Acehnese Australia Association (AAA) yang merupakan salah seorang penggagas kepulangan Husaini Hasan.
Syekhy juga menegaskan, seruan Dr Husaini Hasan agar menunda pengukuhan Wali Nanggroe juga bukan sesuatu yang mengada-ada tetapi realita di lapangan memang ada yang tidak setuju, karenanya semua harus diakomodir supaya tidak terkesan ada kelompok yang memaksakan kehendak.
“Aceh ini milik semua, bukan milik kelompok tertentu,” tandas Syekhy sambil menyerahkan satu dokumen sejarah yang ditulis oleh Dr Husaini Hasan yang menurutnya sudah banyak dihilangkan untuk kepentingan kekuasaan. “Inilah yang berusaha diluruskan Dr Husaini,” demikian Syekhy. | AT | R|
