Banda Aceh | acehtraffic.com- Pakar ekonomi Aceh, Dr Nazamuddin berpendapat, sangat menyedihkan jika ada pejabat justru senang kalau Krueng Geukueh bisa impor, apalagi yang akan diimpor adalah barang-barang jadi.
Menurut akademisi Fakultas Ekonomi Unsyiah ini, pelabuhan mestinya lebih bisa mendorong ekspor dan mendatangkan uang (devisa), bukan malah impor (mengalirkan uang ke luar) yang itu bermakna negatif bagi pertumbuhan ekonomi.
Kecuali kalau yang diimpor itu bahan baku dan setengah jadi untuk produksi lebih lanjut, sehingga terbuka kesempatan kerja.
Nazamuddin berpandangan, Pelabuhan Krueng Geukuh mestinya disiapkan sebagai pelabuhan petikemas, dibuat semacam kawasan ekonomi terpadu, termasuk perlu direncanakan sebagai kawasan ekonomi khusus (bonded zone).
Nazamuddin berpandangan, Pelabuhan Krueng Geukuh mestinya disiapkan sebagai pelabuhan petikemas, dibuat semacam kawasan ekonomi terpadu, termasuk perlu direncanakan sebagai kawasan ekonomi khusus (bonded zone).

Apalagi di dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) jelas disebutkan bahwa Pemerintah Aceh berhak mengelola bandara, pelabuhan laut, dan membangun kawasan industri.
“Ini momen yang tepat ketika ada MP3EI dari pemerintah pusat dan rencana revitalisasi PT Arun. Bappeda juga sedang menyusun sejenis MP3EA atau RIPEA (Rencana Induk Pembangunan Ekonomi Aceh),” ujar salah satu anggota Tim RIPEA ini. | AT | R | Sumber Serambi|
“Ini momen yang tepat ketika ada MP3EI dari pemerintah pusat dan rencana revitalisasi PT Arun. Bappeda juga sedang menyusun sejenis MP3EA atau RIPEA (Rencana Induk Pembangunan Ekonomi Aceh),” ujar salah satu anggota Tim RIPEA ini. | AT | R | Sumber Serambi|

