Lhokseumawe | acehtraffic.com -
Warga korban banjir di Kecamatan Pirak Timue, Matang Kuli, dan Paya
Bakong, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu, 19 Oktober 2013
mulai kembali ke rumah masing-masing.
"Air telah surut, ada warga yang
mulai kembali ke rumah untuk membersihkan rumah," Ujar Muhammad Ali (45)
tokoh Desa Pante Pirak Kecamatan Pirak Timue, Sabtu 19 Oktober 2013.
Ia menuturkan banjir kali ini adalah yang terparah selama dalam
beberapa tahun terakhir, air yang naik secara tiba-tiba pada subuh Jumat
itu, menggenangi Gampong hingga 1 meter didalam rumah dan 1,5 di
halaman rumah. "Ini beruntung karena tidak ada hujan di pegunungan, jika
hujan lagi, mungkin belum surut hari ini," Katanya.
Kepulangan warga disibukkan dengan membersihkan perabotan rumah
tangga, lantai, dan lumpur yang bersarang di dinding rumah. Banjir yang
terjadi di tiga kecamatan tersebut disebabkan meluapakanya dua Sungai
(Kreung) Pirak dan Kreung Peuto.
Junaidi kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara
mengatakan berdasarkan hasil pendataan dari tiga kecamatan, sebanyak 74
desa dan 25.000 jiwa terkena dampak dari banjir kiriman tersebut. "Warga
sudah mulai kembali, dan bantuan darurat terus kita pasok, karena
aktivitas rumah tangga belum bisa di kerjakan sempurna," Kata Junaidi
kepada Tempo.
Sementara itu Muntasir Sekretaris Jendral Ikatan mahasiswa dan Pemuda
Aceh Serantau (Impas) Jakarta menghimbau kepada pemerintah kabupaten
Aceh Utara untuk merespon rencana Pembangunan Gampong Jangka Menengah
(RPJM) 2012-2017.
Karena dalam dokumen rencana pembangunan tersebut seluruh warga yang bermukim dilintasan sungai tersebut telah memasukkkan usulan penanggulan banjir dengan cara pembangunan tanggul dan pengerukan sungai. Daerah tersebut rawan bencana, seharusnya pemerintah daerah lebih sigap | AT | R | Sumber TEMPO|
Karena dalam dokumen rencana pembangunan tersebut seluruh warga yang bermukim dilintasan sungai tersebut telah memasukkkan usulan penanggulan banjir dengan cara pembangunan tanggul dan pengerukan sungai. Daerah tersebut rawan bencana, seharusnya pemerintah daerah lebih sigap | AT | R | Sumber TEMPO|

