Kota ini dulunya dikenal sebagai kota “Petro Dolar” karena, di Kota inilah terdapat beberapa perusahaan berskala internasional. Bukan hanya itu saja, di Kota ini juga terdapat perusahaan penghasil LNG terbesar di dunia.
Sehingga pada masa kejayaannya, banyak masyarakat yang berada di luar kota Lhokseumawe berbondong-bondong hadir ke Kota kecil ini. Karena peluang pekerjaan pada saat itu sangat menjanjikan.
Itu hanya gambaran sekilas tentang Kota Lhokseumawe, pada tahun 2010. Kota Lhokseumawe mendapatkan penghargaan Adipura dari Presiden Bambang Susilo Yudhoyono.
Katanya penghargaan itu diberikan sebagai kebererhasilan Pemerintahan Kota Lhokseumawe dalam menjaga lingkungan yang asri dan sehat. Sehingga berhasil menciptakan lingkungan yang bersih.
Nyatanya kalau melihat kondisi real, kota Lhokseumawe masih saja diselimuti oleh sampah-sampah dalam setiap tahunnya. Namun bukan hanya sampah saja, kegersangan juga sangat terasa apabila berada di Kota yang pernah dijuliki Petro Dolar ini.
Begitu juga kalau hujan, satu jam saja turun hujan deras maka sejumlah ruas jalan dan Desa di Kota Lhokseumawe terendam banjir.
Hal tersebut selaras dengan pernyataan Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Lhokseumawe, Nofendi yang mengatakan sampah di Kota Lhokseumawe terjadi peningkatan dan dalam setiap harinya terdapat 400 kubik sampah.| AT | AG | Foto: Agam |
Berikut foto sampah di Kota Lhokseumawe:
