News Update :

Lika-liku Revitalisasi, “Amal Baik CSR” dan “Kebohongan” PT Arun NGL

Senin, 18 Maret 2013


Aceh Utara | acehtraffic.com - Untuk mewujudkan revitalisasi kilang Arun menjadi terminal gas, sebanyak 25 kontraktor berskala internasional telah menunjukkan itikad baiknya dengan meninjau lokasi PT Arun Natural Gas Liquefaction (NGL) beberapa waktu yang lalu. Salah satu dari ke 25 kontraktor tersebut adalah PT PLN (Persero). Senin, 18 Maret 2013. 

Seperti yang diketahui, PLN rencananya akan menggunakan gas untuk dijadikan bahan bakar pembangkit tenaga  listrik yang akan dibangunnya nanti. Tahapan tender untuk pembangunan mesin pembangkit tenaga listrik yang dapat menghasilkan lebih dari 200 megawatt telah dimulai.

Namun sepertinya upaya revitalisasi kilang Arun menjadi terminal gas yang rencananya akan selesai akhir tahun 2014 mendatang terganjal rencana investasi akhir/final investmen dicision (FID), sehingga pemenang tender proyek terminal gas berkapasitas tiga jota ton per tahun di Arun, PT Rekayasa Industri belum sepenuhnya bisa melakukan proses di bagian engineering. 

Meskipun Pertamina telah siap untuk menandatangani kontrak penjualan, namun untuk merampungkan FID, pihak PT PLN (Persero) selaku pengguna gas belum menandatangani kontrak pembelian gas meski telah beberapa kali dihubungi. 

Sebelumnya, Pertamina telah menyatakan minatnya membeli LNG dari domestik untuk terminal Arun kepada produsen LNG Tangguh, BP Migas dan pemerintah. Namun hingga saat ini masih belum ada kepastian cadangan gas sebanyak 20 kargo yang rencananya untuk memenuhi gas wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Sebanyak 400 juta dolar AS di anggarkan oleh Pertamina untuk pembangunan stok gas nasional termasuk pemasangan pipa mulai dari Lhokseumawe hingga ke Sumut yang panjangnya sekitar 220 kilometer telah dialokasikan senilai Rp 3,7 triliun. Mengenai tender pipanisasi tersebut hingga kini masih dalam tahap prakualifikasi dan akan dimulai pada Maret 2013 ini. 

Generator pembangkit listrik berkapasitas 900 Mega watt milik PT Arun yang telah di hibahkan ke Pemerintah Kota Lhokseumawe dan mampu memenuhi kebutuhan listrik seluruh wilayah Aceh akan kembali berfungsi jika kilang arun digunakan sebagai terminal penyimpanan gas.

Kilang Arun di Blang Lancang Lhokseumawe yang saat ini hanya mampu menghasilkan 16 kargo jauh merosot dari pada tahun 1994 yang dapat menghasilkan 224 kargo LNG, sehingga Presdir Arun itu mengatakan 1 kargo diberikan untuk Arun sebagai operasional cost, sementara sisanya entah kemana. 

Selain akan di jadikan terminal gas, menurut Iqbal Hasan Saleh MSc yang dilantik menjadi Presiden Direktur PT Arun NGL pada 19 Juli 2012, aset yang dimiliki PT Arun dapat dijadikan fasilitas bagi negara untuk menyimpan bahan bakar minyak (BBM) sehingga menghemat 15 persen dari 80 triliun keuangan negara.

Jika rencana tersebut berhasil dilaksanakan, sedikitnya 4000 tenaga kerja akan di rekrut. Belum termasuk untuk tenaga kerja terminal penyimpanan gas yang mencapai 4.000 orang. Hal ini dapat mengantisipasi membludaknya pengangguran setelah kilang terbesar di Aceh itu tutup. Dan jika revitalisasi Arun terlaksana, perusahaan pupuk terbesar di Aceh PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) akan tetap hidup karena pasokan gas tersedia. 

Bahkan pabrik perusahaan vital lainnya di Lhokseumawe yang telah lama mati suri seperti PT Kertas Kraft Aceh (KKA) dan PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) akan kembali hidup namun tentunya tidak lagi beroperasi seperti dulu namun akan dialihkan menjadi pembangunan industri lainnya.

Tapi sangat disayangkan, setelah 30 tahun umur PT Arun yang didirikan sejak 16 Maret 1974 puas menyedot gas dari perut bumi Aceh hingga tak tersisa. Aceh kembali tidak mendapat ucapan terima kasih, pasalnya Pertamina saat ini malahan sedang asyik membahas pembangunan kilang BBM di kilang LNG Bontang Kalimantan Timur yang dulunya pernah mendapat suplai gas dari Arun. 

Kilang yang terletak di pulau Kalimantan tersebut menaruh minat yang cukup besar agar kilang BBM dapat dibangun di kilang LNG Bontang meskipun masih memiliki usia yang panjang dan berbeda dengan Arun yang usianya di perkirakan hanya tinggal satu tahun lagi. 

Padahal membangun kilang BBM di dalam pagar Arun dapat menghemat anggaran sebesar 180 miliar rupiah dan waktu, karena telah tersedia fasilitas dermaga untuk tanker besar, lahan tempat berdirinya kilang, tersedianya peralatan kilang yang tidak terpakai serta juga ada perumahan karyawan yang hingga kini hanya terpakai 350 unit dari 1200 unit rumah yang ada dalam komplek PT Arun NGL.

Menjelang akhir tahun 2014 tidak hanya menjadi ancaman bagi Arun, bagi masyarakat Aceh tapi juga bagi negara Indonesia. Di akhir tahun 2014 PT Arun NGL yang pernah membuat Lhokseumawe mendapatkan julukan petro dollar mengakhiri masa hidupnya. 

Akibatnya, perusahaan-perusahaan indutri besar lainnya di Lhokseumawe dan Aceh Utara ikut terancam tutup pastinya akan menambah jumlah angka pengangguran yang meningkat tajam sehingga berdampak pada meningkatkan angka kriminal yang akan tergonjang-ganjingnya stabilitas keamanan di negeri ini. 

Namun untuk mengantisipasi hal tersebut sudah seyogiyanya lah PT Pertamina yang telah banyak terbantu karena keberadaan PT Arun yang berdiri kokoh di bumi Aceh membalas jasanya kepada rakyat Aceh dengan membangun industri-industri lainnya di kilang Arun agar tidak terancam menjadi besi tua. 

Selain membangun terminal gas LPJ, dikilang ini juga dapat dibangun kilang BBM, Re-gasifikasi, terminal minyak mentah, dan pembangkit tenaga listrik. Semua industri-industri tersebut dapat dibangun sekaligus dalam area pagar Arun.

Menurut presiden direktur PT Arun NGL ke-14, Iqbal Hasan Saleh, jika kilang BBM yang bahan bakunya didatangkan dari luar di bangun di kilang Arun maka diperkirakan dapat bertahan hidup hingga 50-100 tahun kedepan. Selain itu menurut pria kelahiran Meutareum, Pidie 54 tahun lalu itu, keberadaan Arun penting untuk menunjang strategi ketahanan energi nasional. 

Kilang BBM Arun ini nantinya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, melainkan juga untuk memenuhi permintaan negara tetangga karena dapat dijadikan sebagai kilang BBM EXOR (Export Oriented). Alasan memilih kilang Arun menjadi kilang BBM sangat beralasan karena dari tiga kilang BBM yang pernah ada di Pulau Sumatera yakni kilang BBM Pangkalan Brandan, Dumai, dan Plaju/S Gerong tidak dapat dikembangkan lagi karena kondisi laut dangkal serta peralatannya sudah tua dan tidak efisien.

Selain daripada yang di sebutkan tadi, menurut ketua Tim Focal Research Area (FR) FMIPA Unsyiah dan anggota Tim Penyusun Blue Print Pengembangan Energi Hidrogen Nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Dr. Zulkarnain Jalil Msi yang dikutip dari media Serambi Indonesia, fasilitas kilang Arun juga dapat dijadikan pusat pelatihan tenaga operator kilang migas karena memiliki fasilitas seperti miniatur kilang (plant model), ruang pelatihan kapasitas 80 orang (full AC), perpustakaan dan modul-modul pelatihan, fire ground dan safety training facilities, workshop (bengkel pelatihan), komputer dan teknologi informasi, laboratorium bahasa Inggris, pembinaan akhlak, dan pembinaan mental oleh TNI AL. Serta memiliki instruktur pelatihan yang berpengalaman memberikan pelatihan bagi tenaga atau Sumber Daya Manusia (SDM) untuk kilang LNG di dalam maupun luar negeri.  

Untuk sementara ini PT Arun NGL melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) sedang berupaya mendirikan pabrik sabut kelapa di seputar lingkungan PT Arun NGL yang di manajemeni oleh Arun sendiri dengan menggandeng Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) dan telah menandatangani nota kesepahaman di Wisma Nusantara Jakarta 26 September 2012 lalu dan berlaku selama tiga tahun. 

Pabrik sabut kelapa yang terletak di Gampoeng Tajong Beuridi dengan total dana mencapai 450 juta diresmikan oleh Presdir PT Arun LNG, Ir H Iqbal Hasan Saleh MM pada Minggu 17 Maret 2013, lalu. 

Meskipun di manajemeni Arun, yang merasakan manfaatnya bukan Arun tapi masyarakat karena mampu menyerap tenaga kerja.  Lokasi pembangunan pabrik tersebut nantinya akan dibangun di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bireuen.

Pabrik sabut kelapa ini nantinya tidak hanya dirancang untuk menghasilkan coco fiber dan coco peat, namun akan menghasilkan produk jadi, seperti plywood komposit, matras, jok mobil, tali, jaring, dan coco peat block. Tapi pabrik sabut kelapa itu masih dalam proses pembelajaran bekerjasama dengan para ahli. 

Di saat PT Arun NGL sedang berupaya (berwacana) untuk menciptakan lapangan kerja yang mampu menampung ribuan tenaga kerja dengan melobi ke pusat agar proses revitalisasi Arun segera dilaksanakan, malah seratusan warga dari 13 desa di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Selasa 18 September 2012 lalu melalukan aksi demo terhadap Arun. 

Dimana dalam aksinya mereka menuntut PT Arun agar memprioritaskan tenaga kerja dari desa binaan itu. Hal tersebut dipicu adanya lowongan kerja yang dibuka Arun dan menerima sekitar 400-an tenaga kerja yang mayoritasnya berasal dari luar desa binaan setelah melalui proses seleksi. 

Dari jumlah tersebut hanya 20% tenaga kerja lokal yang diterima. Sementara warga dari desa binaan tersebut menginginkan agar PT Arun menambah tenaga kerja dari lokal minimal enam orang dari tiap desa.

Penting untuk diketahui bahwa PT Arun NGL telah merekrut sebanyak 116 orang tenaga kerja lokal dari 13 desa tanpa tes sementara tenaga ahli yang diterima dari luar desa binaan lulus masuk setelah melewati berbagai seleksi.

Saat ini pihak Arun dan pemerintah Aceh telah mencoba mendekati pemerintah pusat untuk melobi agar proses revitalisasi dapat segera diselesaikan secepat mungkin mengingat waktu yang dimilki pemerintah Aceh hanya setahun lagi setelah itu Arun tutup dan gelombang pasang pengangguran meningkat tajam. Dukungan dari seluruh pihak untuk bersinergi agar adanya political wiil dari pusat guna membangun kilang BBM di Arun sangat diperlukan untuk memperjuangkan rencana tersebut ke pemerintah pusat. 

Sambutan baik juga datang dari wakil ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso yang memberi dukungan penuh rencana Pemerintah Aceh untuk segera melakukan program revitalisasi kilang PT Arun. Pada bulan Oktober 2012 lalu, pihaknya bersama Menteri BUMN dan ESDM membahas pembangunan kilang minyak (refinery) di areal Arun.

Disamping itu pemerintah Aceh, DPRA, Pemko dan DPRK Lhokseumawe serta seluruh elemen yang mempunyai kedudukan politik dan struktural lainnya. Sementara dukungan dari masyarakat kecil yang rentan menjadi objek (korban) pembangunan belum ada sama sekali. 

Hal tersebut pernah diutarakan oleh salah satu wartawan harian lokal (metro/rakyat aceh) soal apa pentingnya PT Arun bagi masyarakat kecil saat temu ramah dengan 12 orang insan pers di Kota Lhokseumawe. 

Namun wartawan yang mengemukakan pendapat masyarakat itupun harus hengkang dari forum karena tersingkirkan oleh “ocehan dan makian intelektual” presdir bersama Fuad Buchari. “seharusnyakan dipuji-puji biar semangatnya nggak down, ini apa yang didapat Arun setelah sekian lama berbuat” Kata Iqbal Hasan dengan segudang “amal baik” yang ia utarakan terkait implementasi CSR tahun lalu berjumlah Zero alias hana euntoeng (tidak ada keuntungan). | AT | HR | IS |

Baca juga:
PT Arun Langgar UU Sampah, Hidrokarbon Dihibah Untuk Warga, LSM Letoy
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016