Lhokseumawe | acehtraffic.com - Jelang
detik-detik peringatan tahun baru, seluruh ormas islam Kota Lhokseumawe gelar
da’wah dilapangan hiraq untuk menyadarkan masyarakat agar tidak merayakan tahun
baru dengan perbuatan maksiat, turut hadir walikota Lhokseumawe Suaidi yahya. Senin
malam, 31 Desember 2012.
Sebelum melaksanakan da’wah
mereka berjalan kaki mengelilingi pusat kota Lhokseumawe dan kembali ke
lapangan Hiraq.
Dalam da’wah itu, panitia acara
melalui corong microphone menghimbau masyarakat agar jangan mengikuti
budaya-budaya kafir dan Yahudi. Hilangkan budaya membakar marcun dan
membunyikan terompet karena menurut panitia tersebut terompet berbentuk naga
merupakan lambang Yahudi sembari meneriakkan takbir dengan tangan mengepul ke
atas.
Namun begitu, para pendengar
ceramah dilapangan tersebut kalah banyak dengan pengendara kendaraan bermotor
memadati jalan raya Kota Lhokseumawe.
Tidak hanya warga Kota
Lhokseumawe yang ikut menyemarakkan tahun baru berkonvoi ria berboncengan mesra
bersama pasangan baik muhrim maupun non muhrim, akan tetapi warga dari Aceh
Utara juga turut berdatangan ke Kota Lhokseumawe guna menikmati eforia malam
pergantian tahun baru.
Akibatnya, badan jalan dibeberapa
titik terlihat macet dan mengharuskan pihak polantas bersama LLAJ mengatur arus
lalu lintas di kota mini tersebut.
Meski dilarang, meski berkali-kali
di himbau agar tidak merayakan pergantian tahun baru namun sepertinya eforia malam
pergantian tahun baru di kota Lhokseumawe sesuatu hal yang tidak mungkin untuk tidak
dirayakan, atau malah omongan ulama yang tidak lagi didengar.
Tepat ketika jam menunjukkan
pukul 00.00 WIB, Selasa 1 Januari 2012, seakan menantang himbauan ulama, ratusan
kali letusan marcun dan berulang-ulang kali tiupan terompet terdengar di antara
suara-suara deru mesin kendaraan bermotor memadati badan jalan yang basah
akibat di guyur hujan.
Ketika hujan mengguyur saat
ustadz memberikan ceramah perlahan-lahan warga berhamburan beranjak meninggalkan
lapangan itu, dan ketika waktu menunjukkan telah memasuki tahun baru meski
diguyur hujan masyarakat memilih ikut berbaur memadati badan jalan dengan
kendaraan bermotornya seraya melirik kerlipan letusan marcun dan menyodorkan
terompet ke mulutnya.
Masyarakat lain yang tadinya
masih setia mendengar ceramah akhirnya berdiri dipinggir jalan dari lapangan
tersebut guna melihat gemerlap kerlipan letusan mercun diudara ditengah-tengah
guyuran hujan hingga ikut larut dalam suasana kemeriahan malam tahun baru, dan
ceramah pun terhenti. | AT | HR |

.jpg)