acehtraffic.com | Perguruan
tinggi merupakan contoh ideal dalam pengelolaan pendidikan baik dari segi
faktor kebersihan lingkungan maupun pelayanan akademik. Tempat pendidikan
sejatinya menjadi contoh bagi masyarakat.
Namun sepertinya kondisi itu berbeda dengan lingkungan
disekitar Universitas Malikussaleh Aceh Utara. Kampus Unimal kurang Bersih dan
gersang.
Lingkungan di
kampus utama Reuleut ditemukan banyak
kotoran hewan dan sampah berserakan, kondisi itu sangat mengganggu
kenyamanan para mahasiswa/mahasiswi baik dari segi pelayanan akademik maupun
dilihat dari segi kesehatan.
Dari segi pelayanan akademik,kebersihan adalah salah
satu point penting untuk menentukan akreditas suatu kampus.
Dari segi kesehatan kotoran hewan dapat menyebabkan
masuknya bakteri-bakteri kedalam pori-pori, nantinya dapat membuat gatal-gatal,
cacingan, bahkan sampai muntah.
Ada isu yang berkembang di Universitas Malikussaleh,
jika kawanan ternak yang masuk kelingkungan Unimal diusir atau dilarang masuk,
maka masyarakat yang ada disekitar Unimal akan marah dan akan mengganggu
fasilitas kampus tersebut.
Itulah sebabnya kenapa kawanan ternak bisa bebas berkeliaran dilingkungan Unimal khususnya
kampus Reuleut.
Namun isu ini juga harus di uji kebenaran nya, jangan
–jangan penebar isu ini ada kepentingan untuk menutupi ketidakmampuannya hingga
mencari alasan pembenar yang lain, so sasaran tembak adalah masyarakat sekitar.
Namun jika
dibandingkan dengan Universitas-universitas yang ada diluar daerah seperti
Universitas Sumatera Utara, Universitas Medan, dan lain-lain, tingkat
kebersihan lingkungan Unimal sendiri yang sudah berstatus negeri masih jauh
lebih terpuruk
Seperti yang sudah kita ketahui Unimal berada di
daerah Aceh Utara dan Aceh merupakan daerah yang dijuluki dengan sebutan Serambi
Mekah karena syariat Islamnya.
Kita ketahui Islam adalah agama yang bersih dan baik
dari segi badan, jasmani, maupun rohani. Tata cara berwudhu dimulai dari
mencuci kaki, mencuci tangan, mencuci muka, dll.
Dalam Islam, kebersihan itu merupakan sebagian dari
iman. Tetapi, kenapa kampus Unimal sendiri tidak bisa mengikuti budaya bersih
seperti yang diajarkan oleh syariat Islam?
USU saja yang tidak terletak di daerah Aceh masih bisa
menerapkan kebersihan yang lebih unggul.
Bertepatan saat ini bulan Desember, jelang akhir tahun
biasanya selalu musim hujan. Kita tahu apabila hujan turun jalanan akan basah
dan penuh dengan kubangan air yang kotor dan tanah yang keras berubah menjadi
becek dan kotoran hewan ternak yang berserakan.
Unimal sendiri sudah berstatus Negeri dimana
mahasiswa-mahasiswinya pasti akan ada yang datang dari luar daerah atau luar
kota. Bahkan ada juga yang datang dari luar pulau sumatera sendiri.
Bagaimana nantinya jikalau calon calon mahasiswa-mahasiswi
yang datang dari dalam maupun luar daerah melihat lokasi lingkungan Universitas
Malikussaleh yang tingkat kebersihannya kurang diterapkan
Kemungkinan besar ada diantara mereka sampai tidak
jadi kuliah di Unimal karena melihat lingkungannya yang kurang bersih, atau
memang ada diantara mereka lebih suka ?
Mungkin mereka berpikir dengan banyaknya kotoran lembu
biar kelihatan nge-mahasiswanye dan ngemahasiswinya lebih organic---??
Sudah saatnya hal ini didiskusikannya dan mencari
solusi terhadap persoalan ini, yang pertama
soal lembu masuk kampus dan yang kedua persoalan kenapa sekian tahun
kampus itu dibangun suasananya masiihhh saja gersang?
Adakah persoalan dengan
pengadaan penghijauan ? atau memang tidak pernah di hijaukan?
Bisa dibayangkan jika Unimal tanpa jalan becek penuh
kotoran lembu, serta tidak bercampurnya antara mahasiswa dan lembu di satu
area, bertambah lagi bila ada rerimbunan pohon....so pasti Unimal akan terlihat
bersih, nyaman, dan asri. []
Kamis 27 Desember 2012
Tulisan ini dikirim oleh Jolio Sinurat Mahasiswa
Universitas Malikussaleh

