News Update :

Protes Jalan Nisam Mahasiswa Galang Koin, "Diktator" Merasa Malu ?

Selasa, 02 Oktober 2012

Aceh Utara | Acehtraffic.com - Aksi pemblokiran jalan Nisam dibarengi dengan pengalangan koin oleh mahasiswa akan disumbangkan untuk Pemkab Aceh Utara sebagai tambahan alokasi anggaran untuk membiayai pembangunan jalan tersebut, yang bertahun-tahun rusak parah sukses besar untuk membuat Pemkab itu uring-uringan.

Kekhawatiran berlebihan di selimuti malu, beragam cara dilakukan untuk meredamkan aksi mahasiswa ini, dengan alih-alih melakukan audiensi, menurut wakil rakyat langkah tersebut merupakan cara yang santun dan tidak mengganggu ketertiban umum.

Bukan tidak mungkin jika aksi terus berlanjut Pemkab Aceh Utara akan merasa malu terhadap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Aceh akan jauh lebih malu lagi jika sampai terdengar oleh sang penguasa Nusantara dari Pulau Sabang hingga ke Merauke.

Seperti yang dilansir media cetak mingguan Modus Aceh, pernyataan kawan-kawan diparlemen sungguh sangat menyedihkan, bayangkan jika seorang legislator menanggapi aksi kami di mainkan oleh aktor lain 

“Saya takut demo itu tidak murni karena justru mempermalukan Pemerintah, jadi kalaupun jalan dibangun bukan karena demo mereka, tetapi memang sudah direncanakan,” Ungkap eks kombatan itu.

Walaupun DPRK pernah mengalokasi anggaran untuk jalan Nisam sejak 2008-2009 dengan jumlah 10 M lebih dan di alihkan dengan alasan terkendala pembebasan lahan, mungkin saja terjadi permainan di tingkat Muspida tanpa musyarah dengan masyarakat pemilik lahan. Buktinya jalan yang di aspal di Paloh Gadeng Kecamatan Nisam tidak ada persoalan.

Ketika wakil rakyat menilai aksi pengumpulan koin itu dituding tidak murni, ada aktor bermain dibelakang aksi Mahasiswa Nisam, seperti pengalaman mereka pada Pilkada lalu dimana organisasi musiman dibiayai olehnya. 

Namun, tudingan miring ada aktor bawah tanah dengan tujuan untuk mempermalukan Pemerintah Aceh serta mengganggu ketertiban umum, lansung dibantah oleh masyarakat Gampoeng serta beberapa masyarakat luar Gampoeng itu juga komentar bahwa aksi tersebut sama sekali tidak mengganggu aktivitas mereka. “lage nyan mahasiswa yang tapeureule” ungkap Ahmad (51) warga Nisam Aceh Utara.

Secara sukarela warga yang berlalu-lalang menyodorkan sedikit uangnya ke dalam kotak kardus bekas minuman mineral yang di pegang dengan tangan kurus mahasiswa sembari melemparkan senyuman bangga dan salut kepada para mahasiswa.

Jika warga sudah menganggap bahwa aksi tersebut sama sekali tidak mengganggu aktivitas mereka lantas siapa yang merasa terganggu? 

Pertanyaan yang mudah untuk dijawab tentunya, bahkan anak sekolah dasar (SD) di Gampoeng itu juga bisa menjawabnya. 

Para Muspika, dewan, serta seluruh jajaran Pemkab Aceh Utara yang bekerja dibawah roda-roda Pemerintahan Aceh yang telah dengan sukses menobatkan Pemerintah Aceh peringkat ke dua KORUPTOR setelah ibu kota negara Pancasila, DKI jakarta.

Mencari kambing hitam dengan menganggap aksi mahasiswa ditunggangi bukan lagi isu baru. Isu yang sering digunakan oleh para pemerintah korup sebagai senjata yang paling mematikan untuk membubarkan aksi mahasiswa dan itu telah ada sejak era penyebar propaganda orde lama karena mengganggu ‘PERIUK’ mereka.

Terlintas pertanyaan di ubun-ubun kepala anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara mengapa setelah pelantikan Bupati Aceh Utara yang baru, Muhammad Thaib aksi tersebut dilakukan dan sekali lagi pula di jawab bahwa anak SD pun tahu jawabannya. 

Sudah cukup mereka (Masyarakat Gampoeng) bersabar menunggu kepastian kapan jalan yang berlubang lebar tersebut diperbaiki. Dengan hanya diam mengamati hingga akhirnya mereka sadar, jika hanya diam sampai kapan pun tidak akan pernah ada perubahan.

Maka ketika Bupati baru telah dilantik yang naik dengan panji Partai Aceh yang konon katanya partainya orang Aceh, partainya para pejuang yang telah mengorbankan darah dan harta merek a ketika provinsi ini di perkosa haknya oleh DOM [Daerah Operasi Militer] menjadi kesempatan yang terbuka lebar bagi mahasiswa ini untuk mendesak pemkab segera memperbaiki jalan rusak di gampoeng mereka.

Seharusnya Pemkab ini malu dengan masih adanya kondisi jalan yang rusak parah bukannya malu karena aksi mahasiswa yang dianggap mempermalukan Pemerintah Aceh. 

Tidak ada terbisik didalam kepala mereka (mahasiswa) untuk mendapatkan keuntungan pribadi jika yang dituntut hanya pembangunan jalan tersebut, bahkan mereka turut berbelasungkawa karena jalan berlubang ini juga telah banyak memakan korban, salah satunya istri Camat sendiri yang pernah mengalami keguguran karena sering melewati jalan tersebut ketika dirujuk ke Puskesmas.

Jika jalan ini pun segera dilakukan bukankah orang-orang pemerintahan juga yang akan mendapatkan keuntungan, membuka tender dan kongkalikong mengutak-atik angka-angka rupiah dilaporan pertanggung jawaban. 

Bukan maksud penulis mengajarkan kesesatan tapi penulis hanya sedikit menjabarkan bagaimana rumitnya aliran sesat didalam roda-roda pemerintahan Aceh yang selama ini yang diketahui aliran sesat itu hanya berupa penyelewengan dari agama tertentu sementara kinerja mereka tidak pernah sekalipun dikategorikan aliran sesat (sesat pikir).

Seperti pernyataan Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara Azhari Cagee bahwa aksi demo yang kami lakukan tidak mempengaruhi pengalokasian anggaran untuk pengaspalan jalan Nisam, bagi kami itu tidak penting, tidak ada urusan yang penting jalan diaspal karena itu pokok permasalahan, meski eks kombatan itu menilai justru audiensi yang pokok permasalahan utama, haha.... Lebay.

Merasa dipermalukan dengan aksi pengumpulan koin hingga mengklaim aksi mahasiswa tersebut tidak murni, disamping itu kaki tangan pemerintah dari kalangan partai mayoritas berkuasa juga ikut komplain dilapangan.

Akhirnya terjadi seperti pertanyaan Kemal Pasya, dosen Fisip Unimal yang berperan sebagai penelis saat debat kandidat Bupati Wakil Bupati Aceh Utara di Lhoksukon 5 April 2012 lalu. 

Bagaimana sikap partai mayoritas jika ada protes masyarakat atau demontrasi yang mengkritisi pemerintah, bagaimana yang akan anda lakukan agar tidak menjadi "Diktator" mayoritas?” tanya Kemal kepada calon Bupati No urut 10 itu.

Oleh Bustami,
Penulis adalah mahasiswa Nisam pendiri GAPMAN yang sedang kuliah di jurusan Sosiologi Universitas Malikussaleh.
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016