Lhokseumawe | Acehtraffic.com – Nasib pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF) sangat tergantung pada kebijakan Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. Selasa, 2 Oktober 2012.
Hal tersebut disampaikan oleh Representatif PT. Bumi Persada Lestari, Marwan, ketika diwawancarai The Aceh Traffic di ruang kerjanya.
Menurut Marwan, yang bisa menghidupkan lagi pabrik AAF adalah investor, idealnya adalah investor asing. Kalau masih status sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maka diprediksikan sangat sulit untuk dihidupkan kembali. “Kalau masalah bisnis, mari kita kaji dalam bisnis”, Ujar Marwan.
Saat ini, sambung Marwan, Pemerintah Daerah masih belum merespon baik dan terlihat sangat mengabaikan perusahaan AAF ini. Yang menjadi kendala saat ini adalah PT. Pusri tidak mau menyerahkan asset PT. AAF kepada investor asing ini, sehingga terpaksa berlanjut di Pengadilan.
“Investor yang ingin membeli AAF sudah ada, tapi PT. Pusri tidak mau menyerahkan aset AAF”, tutur Marwan.
Solusi yang ditawarkan adalah, perselisihan antara investor asing yang ingin membeli AAF dengan PT. Pusri harus diselesaikan secara persuasif. Ada pihak-pihak yang menjadi penengah atau memediasikan antara kedua belah pihak.
“Kalau mereka tidak berdamai, maka proses gugatan ini akan menjadi lama”, kata Marwan.
Apabila nantinya AAF diambil alih oleh investor asing, lanjut Marwan, maka bahan baku untuk membuat pupuk yang dulunya digunakan gas, maka akan berganti menjadi batu bara.
Pertimbangannya adalah, saat ini gas sudah mulai menipis. Selain menipisnya gas, harga beli pun sangat tinggi. “Batu bara akan lebih terjangkau dari pada gas”, ungkap Marwan. | AT | RD | AG |
Hal tersebut disampaikan oleh Representatif PT. Bumi Persada Lestari, Marwan, ketika diwawancarai The Aceh Traffic di ruang kerjanya.
Menurut Marwan, yang bisa menghidupkan lagi pabrik AAF adalah investor, idealnya adalah investor asing. Kalau masih status sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maka diprediksikan sangat sulit untuk dihidupkan kembali. “Kalau masalah bisnis, mari kita kaji dalam bisnis”, Ujar Marwan.
Saat ini, sambung Marwan, Pemerintah Daerah masih belum merespon baik dan terlihat sangat mengabaikan perusahaan AAF ini. Yang menjadi kendala saat ini adalah PT. Pusri tidak mau menyerahkan asset PT. AAF kepada investor asing ini, sehingga terpaksa berlanjut di Pengadilan.
“Investor yang ingin membeli AAF sudah ada, tapi PT. Pusri tidak mau menyerahkan aset AAF”, tutur Marwan.
Solusi yang ditawarkan adalah, perselisihan antara investor asing yang ingin membeli AAF dengan PT. Pusri harus diselesaikan secara persuasif. Ada pihak-pihak yang menjadi penengah atau memediasikan antara kedua belah pihak.
“Kalau mereka tidak berdamai, maka proses gugatan ini akan menjadi lama”, kata Marwan.
Apabila nantinya AAF diambil alih oleh investor asing, lanjut Marwan, maka bahan baku untuk membuat pupuk yang dulunya digunakan gas, maka akan berganti menjadi batu bara.
Pertimbangannya adalah, saat ini gas sudah mulai menipis. Selain menipisnya gas, harga beli pun sangat tinggi. “Batu bara akan lebih terjangkau dari pada gas”, ungkap Marwan. | AT | RD | AG |

