
Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Sangat miris nasib penduduk di Kota Lhokseumawe, masih ada para korban kebakaran yang terabaikan haknya. Hingga mereka terpaksa hidup di tempat yang tidak layak huni. Senin, 8 Oktober 2012.
Berdasarkan hasil penelusuran reporter The Aceh Traffic di wilauah Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, masih terdapat beberapa warga miskin yang hidup ditempat yang tidak layak huni, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Misalkan dijalan Angsana Kelurahan Teumpok Teungeh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, disina terdapat empat kepala keluarga yang masih tinggal ditempat yang tidak layak huni.
Merek tingal ditempat yang tidak layak huni tersebut, disebabkan karena menjadi korban sijago merah yang menghanguskan rumah mereka, sehingga seluruh harta bendanya hangus dilahap sijago merah pada tahun 2010 silam.
Padahal, kalau dilihat secara kasat mata, lokasi rumah yang terbakar itu hanya berjarak sekitar 500 mete dengan rumah Walikota Lhokseumawe, tepatnya di jalan Angsana Kelurahan Teumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.
Masing-masing korban yang rumahnya hangus terbakar adalah Tgk. Sulaiman Laot (91), dengan cucunya Herizal (19), Jamaluddin (50), dan isterinya Rasyidah A Gani serta tujuh anaknya, Yayat Rahmadi (45), dan isterinya Nurainiah serta tiga orang anaknya. Dab Zainuddin Abdullah serta isterinya Nurhayati, bersama tiga orang anaknya.
Akibat tidak memiliki dana untuk membangun rumah baru, akhirnya mereka memilih tinggal ditempat seadanya dan tidak layak dihuni oleh manusia normal.
Zainuddin, pria berperawakan gemuk, merupakan salah seorang korban kebakaran kepada The Aceh Traffic mengaku. Paska kebakaran, keluarga Jamaluddin dan Sulaiman Laot saat ini menumpang di sebuah gubuk milik warga Desa Buloh Blang Ara Kecamatan Kuta Makmur Aceh Utara.
Sementara itu, Yayat Rahmadi bersama isteri dan tiga orang anaknya yang tidak memiliki tempat lain terpaksa membangun gubuk sempit di lokasi bekas kebakaran tanpa kamar tidur.
“Beginilah kami, akibat tidak punya uang untuk bangun rumah, terpaksa tingal di gubuk”, ujar Yayat.
Akhirnya, sambung Yayat, saya memilih tingal digubuk ini karena tidak ingin merepotkan orang. Biarlah saya hidup seadanya seperti ini, orang lain pun tidak ikut repot karena saya.| AT | AG |
