Manila | Acehtraffic.com- Presiden
Filipina Benigno Aquino III telah menandatangani perjanjian damai dengan front
pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front/MILF). Peristiwa itu akan
menandai berakhirnya 40 tahun masa pemberontakan di negeri kaya tambang mineral
yang selama ini sulit mendapatkan investasi itu.
Menurut ahli ekonomi dari Nomura
Holdings Inc, untuk mewujudkan perdamaian di Filipina membutuhkan waktu.
"Perjanjian perdamaian ini merupakan langkah penting untuk mengubah
pandangan orang terhadap Kepulauan Mindanao dan bisa menambah sentimen positif
bagi orang Filipina," katanya seperti dilansir situs businessweek.com,
Senin 15 Oktober 2012
Perdana Menteri Malaysia Najib
Razak datang dan turut menjadi saksi penandatanganan bersejarah itu di Istana
Kepresidenan Filipina hari ini.
Penandatanganan tersebut dihadiri
sekitar 200 anggota MILF yang hadir untuk pertama kalinya di Istana
Kepresidenan. Sekitar 500 orang dari Mindanao juga turut berjaga-jaga di luar
istana.
"Inilah suara perdamaian
itu," kata Pemimpin MILF Al Haj Murad Ibrahim kepada Aquino ketika dia memukul
gong yang dia hadiahkan kepada Aquino sebagai tanda perdamaian dimulai.
Sementara, Aquino menghadiahkan Murad sebuah miniatur rumah gubuk adat Filipina
yang disebut nipa.
Kesepakatan dalam perjanjian
perdamaian itu menyatakan pemerintah Filipina akan menyediakan wadah aspirasi
politik bagi pemberontak yang disebut Bangsamoro. Hal itu menggantikan
kebijakan wilayah otonomi bagi Muslim Mindanao pada 1989.
Kesepakatan ini untuk mengikat 11
ribu warga Moro supaya tidak mendirikan negara separatis atau menggulingkan
kekuasaan pemerintah.
Polisi mengatakan, tiga tentara
tewas ditembak pemberontak dalam sebuah penggerebekan Jumat pekan lalu di
sebuah wilayah pertambangan di Zamboanga del Sur, selatan Filipina.
Dua orang tewas dalam sebuah
ledakan bom di Cagayan de Oro City, juga di selatan Filipina pada Rabu pekan
lalu. Polisi mengatakan ledakan itu masih terkait peristiwa serupa di Provinsi
Zamboanga sehari sebelumnya.
Kepolisian meningkatkan
pengamanan setelah ada laporan intelejen yang menyebutkan pemberontak Muslim
sebagai dalang penyerangan yang terjadi pekan lalu.
Juru bicara militer Kapten
Alberto Caber mengatakan jaringan Al-Qaidah pimpinan Abu Sayyaf diduga berada
di balik penyerangan 13 oktober itu."Ada sekelompok orang yang tidak
nyaman dengan perjanjian perdamaian ini. Ini berarti masalah ini akan terus
berlanjut," kata Rommel Banlaoi, direktur eksekutif di Institut Penelitian
Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme di Ibu Kota Manila.
Nur Misuari, pimpinan Front
Nasional Pembebasan Moro (MNLF) mengatakan dia takkan memulai perang di selatan
Filipina meski dia menyebut anggota MILF lainnya sebagai pengkhianat karena
telah menyetujui perdamaian itu. "Itu hanya spekulasi. Kami penjaga
perdamaian," ujarnya kepada radio DZMM hari ini.
Misuari juga menilai perjanjian
perdamaian itu merupakan konspirasi antara pemerintah Filipina dengan
pemerintah Malaysia supaya mempertahankan wilayah Sabah dan Sarawak yang
menurutnya milik kakek buyutnya. | AT | R | MDC|

