News Update :

Inilah 5 Aksi Kekerasan TNI Kepada Jurnalis Saat Bertugas

Rabu, 17 Oktober 2012



Jakarta | Acehtraffic.com - Kekerasan kepada jurnalis oleh aparat keamanan TNI terus terjadi. Paling tidak dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tercatat ada pada kurun 2008-2011, 13 kasus kekerasan yang dilakukan TNI pada Jurnalis yang tengah meliput.

Padahal, ada sumpah Delapan Wajib TNI yang harus dipegang prajurit TNI di antaranya, bersikap ramah tamah terhadap rakyat, bersikap sopan santun terhadap rakyat, menjunjung tinggi kehormatan wanita, menjaga kehormatan diri di muka umum, senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya, tidak sekali-kali merugikan rakyat, tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat dan menjadi contoh dan memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya. lalu mengapa hingga saat ini kekerasan oleh aparat masih terus terjadi?

Dari 13 kasus kekerasan tersebut, berikut lima kekerasan yang dilakukan oleh TNI kepada jurnalis.
 
1. Kekerasan dalam tragedi Foker 27 jatuh di Halim
Aksi kekerasan dan perampasan alat kerja oleh TNI dialami oleh Kontributor Televisi Berita Satu, Urip Arpan, Jurnalis Kompas TV Dhika dan Fotografer Harian Kompas, Reza, saat akan mengambil gambar reruntuhan pesawat jenis Fokker 27 yang jatuh di Komplek Perumahan Rajawali, Halim Perdanakusuma, Kamis, 21 Juni 2012 lalu. TNI AU beralasan bahwa sesuai peraturan, insiden tersebut tidak boleh diliput.

Kekerasan kepada wartawan saat meliput itupun segera mendapat kecaman. Berbagai elemen wartawan langsung menggelar aksi akibat kejadian tersebut.

"AJI Jakarta menuntut para pelaku diadili sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, demi mendorong kesadaran setiap warga negara, bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi oleh hukum," ujar Ketua AJI Jakarta Umar Idris, kala itu.
 
2. Kekerasan TNI AL kepada wartawan di Padang
Puluhan oknum prajurit TNI Angkatan Laut, Padang, memukuli dan merampas paksa kamera, kaset video, dan memori kamera jurnalis di kawasan Bukitlampu, Kelurahan Sungai Baremas, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang, Selasa, 29 Mei 1012.

Aksi kekerasan itu melukai tujuh jurnalis, yaitu Budi Sunandar (jurnalis Global TV), Ridwan (fotografer Padang Ekspres), Jamaldi (jurnalis Favorit Televisi), Andora Khew (jurnalis SCTV), Julian (jurnalis Trans 7), Afriandi jurnalis Metro TV), dan Deden (jurnalis Trans TV). Para pelaku juga merusak dan merampas peralatan kerja para jurnalis.

Namun Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono membantah anggotanya sengaja menganiaya wartawan di Padang. "Sekali lagi bukan penganiyaan, ya. Tidak ada sengaja dianiaya," kata Agus di Istana Negara, Jakarta, Rabu 30 Mei 2012 silam.

Menurut Agus, insiden itu terjadi karena kesalahpahaman di lapangan, bukan sengaja menganiaya.
 
3. Wartawan Tempo TV dipukul aparat TNI AU di Bogor
Kasus pemukulan yang menimpa wartawan Tempo TV, Syarifah Nur Aida atau Ipeh, terjadi saat liputan di lahan sengketa antara warga dan TNI AU di Pangkalan Udara TNI AU Atang Sanjaya di Kampung Cibitung, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 29 Juli 2011. Dua wartawan tersebut dipukul anggota TNI saat sedang melakukan peliputan.

Namun pihak TNI AU membantah telah terjadi pemukulan terhadap wartawan Tempo TV. Kadispen AU Kolonel Nav Azman Yunus melalui siaran persnya menyatakan, Ipeh jatuh karena mengalami demam.

"Berdasarkan keterangan Kapolsek Rumpin, Kompol Tundun, Syarifah (Ipeh) terjatuh karena sakit. Korban dibawa ke Puskesmas dan diketahui mengalami panas 37,8 derajat Celcius, dengan tensi 130-90," ujar Azman.

Seorang warga bernama Neneng menyatakan sebaliknya. Neneng sebelumnya menyatakan bahwa Ipeh dipukul oleh anggota AURI, namun tanpa jelas Neneng mencabut keterangannya.

"Ibu Neneng sudah dimintai keterangan oleh aparat kepolisian, dan telah mencabut keterangan itu," kata Azman.
 
4. Jurnalis Koran Solo Pos dipukul Dandim Karanganyar
Wartawan Koran Solo Pos, Triyono, dipukul Komandan Distrik Militer (Dandim) 0772 Karanganyar Letnan Kolonel Lilik Sutikno. Peristiwa tersebut terjadi pada 1 September 2010. 

Pemukulan ini dilakukan Lilik karena merasa tidak terima atas pemberitaan yang menyebutkan bahwa Dandim menerima aliran dana korupsi, pembangunan perumahan bersubsidi Griya Lawu Asri di Karanganyar. Triyono mendapat pukulan di bagian mata kiri dan kepalanya.
 
5. Kekerasan dalam peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200 di Riau
kasus teranyar adalah kekerasan terhadap Didik dari Harian Riau Pos dan Rian dari LKBN Antara dianiaya dan dirampas peralatan liputannya oleh beberapa anggota TNI saat meliput jatuhnya pesawat HAWK milik TNI AU di Pekanbaru, Riau. Bahkan, kekerasan yang diduga dilakukan anggota TNI Letkol Robert Simanjuntak ini terekam video.

Dalam video tersebut, Dikdik ditendang, dibanting, dicekik dan dipukul oleh anggota TNI. Pelaku kekerasan tersebut diduga adalah Letkol Robert Simanjuntak.

Para jurnalis melaporkan secara resmi kasus kekerasan terhadapnya ke POM AU pada Kantor Satuan Polisi Militer Lanud Roesmin Nurjadin. Surat Pengaduan tersebut bernomor POM-434/A/IDIK-01/X/2012/Rsn.
| AT | M | MR |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016