Acehtraffic.com - Situs Misrawi menganalisa sebab-sebab politik hina para pejabat Arab Saudi di hadapan Amerika Serikat dan kebungkaman mereka atas aksi penistaan terhadap Islam dan Rasulullah Saw.
Fars News (24/9) melaporkan, situs berita Mesir itu mengkritik kebungkaman para pejabat Saudi di hadapan penistataan kesucian Rasulullah Saw dan menulis, "Pada tanggal 28 April 2012, Arab Saudi menarik duta besarnya untuk Kairo Abdul Aziz al-Qattan."
Sebab penarikan al-Qattan ini adalah karena warga Mesir berdemonstrasi di depan Kedubes Arab Saudi di Kairo dalam rangka memprotes penangkapan Ahmad al-Gizawi, seorang pengacara Mesir di bandara Jeddah. Para pejabat Arab Saudi berdalih bahwa warga Mesir telah menghina Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz.
Melalui penarikan dubesnya dari Kairo, Saudi menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah Mesir bahwa penghinaan terhadap Raja Saudi akan merusak hubungan kedua negara. Sekilas, sikap pemerintah Saudi itu merefleksikan kekuatan dan ketegasan politik luar negeri rezim al-Saud, bahwa Riyadh tidak akan menolerir penghinaan terhadap Raja meski dilakukan oleh rakyat negara Arab sahabatnya.
Akan tetapi bagaimana dengan penistaan terhadap Rasulullah Saw? Apakah para pejabat Saudi menunjukkan reaksi tegas yang sama atau bahkan lebih keras lagi? Sampai sekarang, para politisi Arab Saudi bungkam dan tidak berkomentar tentang penistaan terhadap Rasulullah Saw yang terjadi di Amerika Serikat. Kebungkaman ini terjadi di saat negara ini mengibarkan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah.
Yang lebih mengherankan lagi, enam hari pasca penistaan tersebut, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal, dalam kontak telepon dengan sejawatnya asal Amerika, Hillary Clinton, hanya menyampaikan kecaman ringan dan lebih banyak membahas "reaksi berlebihan dan melampaui batas" umat Islam dalam hal ini.
Jelas bahwa pemerintah Saudi memiliki kebijakan yang berbeda antara penistaan terhadap Raja dan Rasulullah Saw. Raja Abdul Aziz dihina, pemerintah Riyadh langsung menarik dubesnya dari Kairo. Namun terkait penistaan terhadap Rasulullah, negara yang mengklaim sebagai pemimpin barisan umat Islam ini—jika tidak bisa diharapkan mengambil sikap lebih tegas—namun apakah Saudi telah mengambil langkah yang sama terhadap Amerika Serikat?
Doktor Gamal Zahran dosen ilmu politik di Universitas Kanal Suez mengatakan, "Saya heran dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk Persia yang tidak menunjukkan reaksi proprosional dalam hal ini. Akan tetapi jawabannya bisa ditelusuri dalam garis besar kebijakan Arab Saudi yang cenderung memuja Amerika Serikat."
"Politik Arab Saudi berlandaskan pada persekutuan dengan Amerika Serikat, dan oleh karena itu kita tidak akan mendengar pernyataan negatif atau gerakan massal anti-Amerika di Saudi, seakan tidak pernah terjadi penistaan terhadap Rasulullah Saw," tuturnya.| AT | M | Irib |

