

Acehtraffic.com - Sebuah kelompok pembela hak asasi manusia asal Amerika Serikat mengatakan tentara Myanmar menembak kerumunan etnis Rohingya dalam sebuah kampanye antikekerasan di tengah konflik sektarian yang sedang berlangsung di negara itu.
Human Rights Watch yang bermarkas di New York, AS mendesak agar dunia internasional merespon "kekejaman" yang terjadi dalam konflik yang pecah antara etnis Rakhine dengan Rohingya di barat Myanmar yang setidaknya telah menyebabkan 78 orang tewas dan puluhan ribu kehilangan tempat tinggal.
"Pemerintah mengklaim akan mengakhiri konflik dan kekerasan etnis tetapi peristiwa baru-baru ini di Rakhine menunjukan bahwa penyiksaan dan diskriminasi yang didukung negara tetap terjadi," kata Brad Adams, direktur Human Rights Watch Asia dalam sebuah pernyataan.
Dia juga mendesak komunitas internasional untuk tidak terlena dengan cerita manis tentang perubahan di negara itu.
Laporan Human Rights Watch itu dirilis berbarengan dengan kunjungan dari utusan khusus PBB Tomas Ojea Quintana ke negara bagian Rakhine. Quintana memastikan penyelidikan konflik itu akan menjadi prioritas dari kunjungannya di Myanmar. Ia telah mengunjungi sejumlah lokasi kunci kerusuhan pada Selasa (31/7) dan Rabu, hari ini.
Banyak yang belum diketahui, terutama apa yang sebenarnya terjadi dalam hampir dua pekan konflik sektarian di Rakhine karena negara bagian itu sangat tertutup dari dunia luar.
Sementara itu Win Myaing, juru bicara dari pemerintah di negara bagian Rakhine menyangkal kritik dari organisasi itu dan mengatakan tuduhan yang menyebutkan bagaimana tentara pemerintah hanya duduk dan menyaksikan ketika kekerasan terjadi adalah "kebohongan".
"Kondisi keamanan terus meningkat setiap hari ketika tentara pemerintah diterjunkan untuk mengendalikan situasi," kata Win Myaing.
Senin (30/7) lalu Menteri Luar Negeri Myanmar, Wunna Maung Lwin mengatakan bahwa pemerintah menolak keras tuduhan bahwa tentang penggunaan kekuatan berlebihan dalam mengendalikan situasi konflik di wilayahnya.
Ketegangan antara Rakhine dan Rohingya sendiri telah berlangsung lama, karena banyak warga Myanmar yakin bahwa etnis Rohingya adalah pemukim ilegal dari negara tetangga Bangladesh.
Pecahnya konflik di wilayah itu diawali oleh laporan bahwa seorang perempuan etnis Rakhine dan beragama Budha diperkosa dan dibunuh oleh seorang lelaki Muslim pada Mei silam. Kabar itu lantas memantik serangan massa dari pedesaan Rakhine yang kemudian membakar sebuah bus pada 3 Juni silam dan menewaskan sepuluh warga muslim.(AP) | Z | BeritaSatu.com

0 komentar:
Posting Komentar