Waduk di Kota Lhokseumawe merupakan
salah satu lokasi terfaforit bagi kaula muda berpasangan untuk melaju
kendaraannya, selain bebas macet para penghuni waduk ini tak mau ambil pusing
terhadap apa yang akan dilakukan pasangan tersebut. Setiba ditengah
perjalanannya masih di areal waduk pasangan muda-mudi non muhrim itu singgah
sejenak untuk menikmati keindahan remang-remang malam yang disajikan di waduk
tersebut.
Semenjak waduk ini dibangun
sejumlah lampu penerangan hanya berfungsi sekedar hiasan pelengkap jika dilihat
pada siang harinya, namun jika berkendara dimalam hari pastikan lampu kendaraan
yang anda kendarai harus menyala karena lampu penerangan di seputaran waduk itu
tak berfungsi atau tidak di aliri listrik.
Namun bagi pasangan muda-mudi
situasi ini merupakan keindahan dan kenikmatan tersendiri terutama malam minggu
selain gelap petugas Wilayatul Hisbah/polisi syariat juga enggan merazia
dimalam hari. Meskipun malam-malam lainnya para pasangan non muhrim juga gencar
melakukan ritual percintaan namun tak semeriah malam minggu.
Romantika malam minggu di Kota
Lhokseumawe tampak membara, dari balik belakang batu waduk para pasangan
berjibun memadu kasih. Beberapa mobil berkaca gelap berhenti ditengah gelapnya
jalan waduk, tak ada musik maupun irama namun mobil tersebut asyik berdendang.
Bagi para pengendara sepeda motor harus cukup bersabar dengan hanya mencolek
paha atau pinggul pacar yang ditumpanginya.
Jika tidak sanggup menahan nafsu yang
membara mereka mengambil alternatif memarkirkan sepeda motornya di samping
pedagang jagung bakar, setelah memesan jagung pasangan inipun beranjak menaiki
batu yang berada dibelakang penjaja jagung bakar dan kemudian bersama-sama
tiarap untuk mencicipi ‘jagung’ tak peduli bau busuk yang berasal dari lumpur
dan sampah menusuk lubang hidung sekalipun jika dua sejoli telah dirasuki setan
cupid.
Kemeriahan romansa tidak hanya
dari belakang batu waduk maupun didalam mobil akan tetapi pembatas trotoar yang
berfungsi untuk melindungi pengendara kendaraan agar tidak jatuh terjungkal
kedalam air waduk pun berjengger puluhan pasangan layaknya seperti kerumunan pasangan
burung gereja, kata-kata tokoh film kartun Teletubbies ‘berpelukkan’
dipraktekkan disini. Salah seorang pasangan muda-mudi yang tak mau disebutkan
namanya bahkan gambarnya juga tidak boleh diambil berkomentar, “Jangan
kemarilah bang lagi sedap ini,” ujarnya setengah kesal.
Bergeser ketempat lain, “Woi..apa
kau ambil-ambil photo,” bentak seorang pria yang mencoba melindungi kekasihnya
dari jepretan kamera yang tidak jadi diambil. Malam mulai larut, pengendara
kendaraan yang melintasi waduk mulai sepi namun pasangan yang sedang dilanda
mabuk asmara tak mau beranjak dari tempatnya seakan makin sunyi makin asyik,
yang dibelakang batu waduk.
Yang didalam mobil terparkir dipinggiran jalan waduk, yang bertengger diatas trotoar atau dibawah trotoar mengalun lirikan pujangga cinta diikuti irama desahan menggoda dengan tangan yang tak pernah mau berhenti meraba. Tak tahan menjadi penonton, dan sudah tidak sanggup lagi digerayangi nyamuk, pengintip memilih pulang.| AT | HR |
Yang didalam mobil terparkir dipinggiran jalan waduk, yang bertengger diatas trotoar atau dibawah trotoar mengalun lirikan pujangga cinta diikuti irama desahan menggoda dengan tangan yang tak pernah mau berhenti meraba. Tak tahan menjadi penonton, dan sudah tidak sanggup lagi digerayangi nyamuk, pengintip memilih pulang.| AT | HR |

0 komentar:
Posting Komentar