Lhokseumawe | Acehtraffic.com –
Ratusan kepala keluarga di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua, Kota
Lhokseumawe krisis air bersih sehingga mereka menggunakan air payau yang
berasal dari sumur untuk berbagai
keperluan mandi cuci bahkan untuk diminum hingga menanak nasi karena persediaan air yang ada ditempat umum milik PDAM macet.
Irwandi, mahasiswa KKN Unimal yang
sedang melakukan survey social mapping di Gampong tersebut mengatakan sebanyak
470 kepala keluarga Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua kesulitan air bersih, “sumber
air disana asin dan kuning, jaringan PDAM nggak ada, masyarakat mengambil air
untuk kebutuhan sehari-hari di kran umum, kadang-kadang macet sampai satu
minggu, miliaran alokasi dana tiap tahun untuk PDAM Kota Lhokseumawe leh Hoka Iba?" tanya Irwandi.
Hal yang sama juga diungkapkan
oleh Lukman, warga setempat, dia mengatakan dikampung tersebut memang
kekurangan air bersih, mereka telah berusaha agar jaringan PDAM dipasang sampai
kerumahnya, “soal biaya kami bisa tanggung bersama, tapi warga yang ekonominya
lemah bagaimana karena mereka juga membutukan air bersih,” ungkapnya kepada
mahasiswa KKN Unimal, Minggu 13 Mei 2012.
Seperti yang dialami Raimah, seorang nenek tua renta kelahiran tahun 1950, dia seorang janda
ditinggal mati suaminya meninggalkan enam orang anak dan semuanya telah menikah
dan meninggalkan nenek Raimah seorang diri di gubuk reot, kehidupannya miris
bila diukur dengan kondisi ekonomi di Kota Lhokseumawe yang inflasinya sering
menukik tajam keatas. Untuk menyambungkan pipa PDAM kerumahnya bagi dia adalah
sesuatu yang mustahil.
Rumah yang di tempatinya tidak
tersentuh aliran listrik PLN, hanya lampu minyak tanah menerangi rumahnya dari
kegelapan malam. Perabotnya hanya rak piring karatan akibat siraman hujan yang
menembusi atap rumbia rumah miliknya yang bocor, periuk nasi dengan bagian punggungnya
hitam menebal tampak penyok disana-sini, duduk beralaskan tikar tua yang mulai
merapuh seakan ikut prihatin dengan kondisi kehidupan nenek Raimah.
Meski usia telah dirampas oleh
kerasnya zaman, nenek Raimah menggandeng jerigen untuk di isikan air PDAM. Untuk
mendapatkan air PDAM dia harus menempuh perjalanan sepanjang 300 meter dari
kediamannya menuju kran umum, sebuah langkah panjang bagi seorang nenek se
usianya.

Namun kedatangannya kali ini ke kran air tak berbuah hasil. Kran air PDAM milik umum itu tidak mengeluarkan setetes airpun. Maklum belakangan ini suplay air PDAM ke gampong tersebut sering macet bahkan hingga berminggu-minggu. Jika sudah begini biasanya warga sekitar menggunakan air sumur untuk keperluan sehari-hari termasuk untuk dikonsumsi walau air payau sekalipun.
Namun kedatangannya kali ini ke kran air tak berbuah hasil. Kran air PDAM milik umum itu tidak mengeluarkan setetes airpun. Maklum belakangan ini suplay air PDAM ke gampong tersebut sering macet bahkan hingga berminggu-minggu. Jika sudah begini biasanya warga sekitar menggunakan air sumur untuk keperluan sehari-hari termasuk untuk dikonsumsi walau air payau sekalipun.
Begitu juga dengan nenek Raimah,
dia harus menelan kekecewaannya dan melangkahkan kaki yang dirasa terlalu berat
untuk melangkah kembali ke gubuk reotnya, namun sebelum dia kembali pulang dia
harus mengisi air ke jerigennya terlebih dahulu dari sumur tetangga karena
nenek Raimah tidak memiliki cukup uang untuk membuat sumur dirumah panggungnya.
Dengan langkah gontai nenek
Raimah menggandeng jerigen berukuran 5 liter miliknya untuk dibawa pulang. Dengan
kondisi air berwarna kuning dan kotor terasa asin di ujung lidah nenek Raimah
merebus air itu untuk diminumnya, sebagiannya lagi digunakan untuk mencuci
beras yang sudah mulai berkutu dan mencuci sayuran yang tumbuh liar dibelakang
rumah untuk dijadikan lauk pauknya.
Dengan pandangan mata yang mulai mengabur nenek Raimah menaiki anak tangga gubuk reotnya untuk menyiapkan sajian makan malamnya. Seutas senyuman lebar terpancar dari kulit wajah keriputnya, dia menawarkan reporter Acehtraffic.com untuk menikmati makan malam buatannya.| AT | IS |
Dengan pandangan mata yang mulai mengabur nenek Raimah menaiki anak tangga gubuk reotnya untuk menyiapkan sajian makan malamnya. Seutas senyuman lebar terpancar dari kulit wajah keriputnya, dia menawarkan reporter Acehtraffic.com untuk menikmati makan malam buatannya.| AT | IS |

0 komentar:
Posting Komentar