News Update :

Meunasah Blang Krisis Air Bersih, Irwandi: Miliaran Peng PDAM Kota Hoka Iba?

Minggu, 13 Mei 2012

Lhokseumawe | Acehtraffic.com – Ratusan kepala keluarga di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe krisis air bersih sehingga mereka menggunakan air payau yang berasal dari sumur  untuk berbagai keperluan mandi cuci bahkan untuk diminum hingga menanak nasi karena persediaan air yang ada ditempat umum milik PDAM macet.

Irwandi, mahasiswa KKN Unimal yang sedang melakukan survey social mapping di Gampong tersebut mengatakan sebanyak 470 kepala keluarga Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua kesulitan air bersih, “sumber air disana asin dan kuning, jaringan PDAM nggak ada, masyarakat mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di kran umum, kadang-kadang macet sampai satu minggu, miliaran alokasi dana tiap tahun untuk PDAM Kota Lhokseumawe leh Hoka Iba?" tanya Irwandi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lukman, warga setempat, dia mengatakan dikampung tersebut memang kekurangan air bersih, mereka telah berusaha agar jaringan PDAM dipasang sampai kerumahnya, “soal biaya kami bisa tanggung bersama, tapi warga yang ekonominya lemah bagaimana karena mereka juga membutukan air bersih,” ungkapnya kepada mahasiswa KKN Unimal, Minggu 13 Mei 2012.

Seperti yang dialami Raimah, seorang nenek tua renta kelahiran tahun 1950, dia seorang janda ditinggal mati suaminya meninggalkan enam orang anak dan semuanya telah menikah dan meninggalkan nenek Raimah seorang diri di gubuk reot, kehidupannya miris bila diukur dengan kondisi ekonomi di Kota Lhokseumawe yang inflasinya sering menukik tajam keatas. Untuk menyambungkan pipa PDAM kerumahnya bagi dia adalah sesuatu yang mustahil.

Rumah yang di tempatinya tidak tersentuh aliran listrik PLN, hanya lampu minyak tanah menerangi rumahnya dari kegelapan malam. Perabotnya hanya rak piring karatan akibat siraman hujan yang menembusi atap rumbia rumah miliknya yang bocor, periuk nasi dengan bagian punggungnya hitam menebal tampak penyok disana-sini, duduk beralaskan tikar tua yang mulai merapuh seakan ikut prihatin dengan kondisi kehidupan nenek Raimah.

Meski usia telah dirampas oleh kerasnya zaman, nenek Raimah menggandeng jerigen untuk di isikan air PDAM. Untuk mendapatkan air PDAM dia harus menempuh perjalanan sepanjang 300 meter dari kediamannya menuju kran umum, sebuah langkah panjang bagi seorang nenek se usianya.


Namun kedatangannya kali ini ke kran air tak berbuah hasil. Kran air PDAM milik umum itu tidak mengeluarkan setetes airpun. Maklum belakangan ini suplay air PDAM ke gampong tersebut sering macet bahkan hingga berminggu-minggu. Jika sudah begini biasanya warga sekitar menggunakan air sumur untuk keperluan sehari-hari termasuk untuk dikonsumsi walau air payau sekalipun.

Begitu juga dengan nenek Raimah, dia harus menelan kekecewaannya dan melangkahkan kaki yang dirasa terlalu berat untuk melangkah kembali ke gubuk reotnya, namun sebelum dia kembali pulang dia harus mengisi air ke jerigennya terlebih dahulu dari sumur tetangga karena nenek Raimah tidak memiliki cukup uang untuk membuat sumur dirumah panggungnya.

Dengan langkah gontai nenek Raimah menggandeng jerigen berukuran 5 liter miliknya untuk dibawa pulang. Dengan kondisi air berwarna kuning dan kotor terasa asin di ujung lidah nenek Raimah merebus air itu untuk diminumnya, sebagiannya lagi digunakan untuk mencuci beras yang sudah mulai berkutu dan mencuci sayuran yang tumbuh liar dibelakang rumah untuk dijadikan lauk pauknya.

Dengan pandangan mata yang mulai mengabur nenek Raimah menaiki anak tangga gubuk reotnya untuk menyiapkan sajian makan malamnya. Seutas senyuman lebar terpancar dari kulit wajah keriputnya, dia menawarkan reporter Acehtraffic.com untuk menikmati makan malam buatannya.| AT | IS |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016