Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Gemelut perang politik pemilukada 9 April 2012 pasca pecah kongsi Partai Aceh di Kota Lhokseumawe masih terasa hawa politik hotnya, bukan tidak mungkin situasi politik dan gesekan politik kedua kubu dari partai merah di Kota Lhokseumawe itu yang menyebabkan Ketua DPRK Kota Lhokseumawe Saifuddin Yunus alias Pon Panglima harus menjadi korban muntahan timah panas beberapa waktu lalu [8 Maret 2012] oleh OTK yang hingga kini belum diungkap oleh kepolisian impotent terkesan merawat konflik politik kekerasan di Aceh.
Keributan sesama gerakan merah [PA] di Lhokseumawe antara A2 [Alfian Lukman/Amri Bin Ibni alias Atoek] yang maju melalui jalur independen dengan calon yang diusung oleh PA kota Lhokseumawe Suaidi Yahya yang berpasangan dengan Nazaruddin masih terjadi hingga kini. Pengrusakan baliho, spanduk memang tidak terbukti pasukan Suaidi Yahya yang melakukannya, namun pasukan Atoek itu selalu mendapat perlakuan tidak demokratis dari berbagai klaim hingga pasukan Atoek dilebeli pengkhianat, sama seperti gelar yang dianugerahi untuk panglima-panglima yang dipecat dulunya dan bergabung dengan Irwandi.
Perihal maraknya perkataan “Pengkhianat” yang dengan mudah di keluarkan dari bibir-bibir kering kerontang oleh anak-anak yang baru memegang bendera PA, Pon Pang Gerah. Saifuddin Yunus yang sejak tahun 1989 sudah mengatakan seorang perjuangan atau sudah 23 tahun didalam perjuangan hingga saat ini menurut pengakuannya belum pernah dia melenceng satu titik pun didalam perjuangan.
“Saya diajukan menjadi ketua DPRK Lhokseumawe oleh PA. Jadi apa yang telah saya perbuat selama ini saya bukan pengkhianat. Kalau orang PA mengatakan saya pengkhianat ya dikomitmenkan bahwa saya pengkhianat,” ujar Saifuddin Yunus, Ketua DPRK Lhokseumawe.
Dia juga menambahkan, “Kalau anak-anak yang berbicara dilapangan mengatakan saya pengkhianat dia tidak tahu siapa sejarah saya didalam partai PA, kalau darah saya masih menetes itu masih darah PA. Jadi kenapa hari ini saya mendukung Alfian ini saya ada komitmennya dan ada keputusannya bagi saya. Yang penting saya itu ada komitmennya.”
Menurut Pon pang mereka yang memvonis orang lain pengkhianat adalah anak-anak dilapangan yang baru tiga hari membawa-bawa bendera PA dan mereka itu adalah bukan GAM melainkan hanyalah simpatisan PA belaka.
Pon Pang yang sudah tiga kali nyaris kehilangan nyawanya akibat peluru tajam bersarang didalam tubuhnya ketika pulang sendiri tanpa pengawal dan menganggap bahwa tidak ada permusuhan dengan kota Lhokseumawe menjelaskan, “Pada hari ini ada orang yang memukuli saya dia tidak tahu sejarah GAM, dia hanya tahu sejarah PA. GAM dan PA berbeda, GAM masih ada senjata sebelum turun kepada masyarakat, kalau sekarang itu peralihan daripada GAM itu adalah KPA. Jadi KPA sekarang tidak ada lagi tentara hanya ada masyarakat sipil GAM.”
Dia juga menantang orang yang mengatakan dirinya pengkhianat untuk menunjukkan batang hidungnya, “Jadi siapa yang mengatakan kepada saya pengkhianat, tolong tunjuk tangan, jangan diam-diam, jangan sembunyikan diri, jangan melempar batu sembunyi tangan. Saya berhak mengatakan saya adalah yang membunuh, kalau kata orang tua dulu ada sejarah bahwa Teungku Mu’alem geupoh Geureuda. Saya termasuk orang yang poh geureuda. Jangan orang lain sudah mati geureudanya dia golek-golek didarah geureuda, kami yang pasukan GAM cuma diam saja,” jelas Pon Pang.
Dengan semangat yang berapi-api Pon Pang melanjutkan, “Jangan berkomitmen kepada orang yang tidak salah, saya tidak mengatakan PA bukan hak saya. PA darah jantung saya. Mengapa saya mendukung Alfian, saya tidak menyetujui walikota Suaidi yahya dengan Nazar itu saja.”
Pon pang sendiri tidak pernah berpikir bahwa ada pengkhianat, entah dari para kandidat, demokrat atau dari partai mana saja selain PA. Karena menurutnya mereka itu wajar saja berdemokrasi dan tidak perlu marah terhadap lawan kandidat lain apalagi intimidasi terhadap orang lain.
Dia juga telah meminta kepada pihak berwajib yang berada dikota Lhokseumawe pada hari sebelum hari pemilihan atau tiga hari lagi menjelang pemilihan untuk melaksanakan tugas ke gampong-gampong [desa-desa] agar tidak ada intimidasi-intimidasi. “Ada sebagian orang kalau tidak menang akan perang, apa dia panglima GAM? Apa dia wali nanggroe? Apa yang dia katakan? Tadi saya meminta kepada kandidat-kandidat yang ada dikota Lhokseumawe tolonglah dengan normal, damai, dan tentram. Mengapa? karena wali nanggroe Aceh sudah berdamai dengan RI mengapa kita bermusuhan?,” kata Pon Pang.
Dia juga sudah meminta kepada KIP serta Panwaslu sesudah pemilihan agar diteliti kembali dengan jeli kertas suara tersebut bahkan bila perlu direkap dikantor Camat, karena menurut Pon pang, jika tidak jeli maka akan kacau. “Bukan kacau perang, siapa yang mau perang lagi? dia orang GAM tidak tahu perang, dulu ketika konflik ada kita kasih dia senjata kayu untuk menakut-nakuti orang. saya bukan orang intimidasi, kami siap kalah dan siap menang. Kalau menang dikasih Allah kami pimpin kota Lhokseumawe. Kalau kalah dikasih Allah ya bahwa kita belum sepatutnya menjadi pemimpin di Kota Lhokseumawe,” ujar Pon pang merendah.
Terkait masalah penerapan 100% UUPA di Aceh, Pon pang optimis bahwa jika mereka [Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf] terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur maka UUPA dapat dijalankan 100% karena mereka adalah tumpuk pimpinan. Karena menurut Pon pang dulu orang GAM memberontak untuk memperoleh perdamaian Aceh yang paling bagus. Dan apabila yang memenangkan Gubernur kandidat yang lain maka tidak memungkinkan UUPA akan berjalan. Meskipun di Lhokseumawe kandidat dari PA menang sebagai walikota namun UUPA tetap tidak bisa dijalankan juga kalau tidak menang di Banda aceh. Yang diharapkan adalah di provinsi yaitu Zaini Abdullah dan Muzakkir manaf menang sebagai Gubernur dan wakil Gubernur Aceh.
“Saya sudah tiga kali mati sesudah itu saya dikasih hidup lagi oleh Allah SWT, untuk memimpin kota Lhokseumawe dengan do’a masyarakat kota Lhokseumawe, dengan do’a fakir miskin, do’a anak yatim dan do’a ulama-ulama Lhokseumawe,” tutur Pon pang bersyukur. | AT | HR | IS |


0 komentar:
Posting Komentar