Lhokseumawe | acehtraffic.com - Pameran pembangunan dan promosi kawasan prioritas gampong [desa] Tumpok Teungoh hari ini resmi dibuka oleh walikota Lhokseumawe Munir Usman dihalaman RRI Lhokseumawe. Dalam acara tersebut turut dihadiri muspika, muspida dan dinas-dinas lain yang ada di Kota Lhokseumawe.
Gampong [desa] Tumpok Teungoh
yang terdiri dari lima dusun dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 8000 jiwa
telah mendapatkan dana sebesar Rp 1 milyar yang bersumber dari dana pusat. Acara
Tumpok Teungoh Fair 2012 ini dilakukan selama dua hari yang dimulai dari hari
ini, Sabtu, 25 Februari 2012 hingga besok, Minggu, 26 Februari 2012 dan
didukung oleh RRI, PNPM mandiri perkotaan, PLBBK dan ASOKA.
Dalam acara Tumpok Teungoh Fair
2012 ini turut dipamerkan beberapa pameran foto, lomba fashion show anak,
pagelaran seni, lomba bungkus nasi kulak, beberapa hasil kerajinan warga
binaan Lapas klas II A Lhokseumawe dan produksi kopi luak.
Ketua panitia untuk pemasaran,
Salmi Agus menjelaskan, “dana yang bersumber dari pusat ini berjumlah Rp 1
milyar dan yang sudah terserap Rp 700 juta sementara sisanya Rp 300 juta belum
dicairkan. Hanya dua desa yang menerima anggaran ini yaitu Tumpok Teungoh dan
Kutablang yang berada di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe,”
jelasnya.
Kabid KHP [ Kwalitas Hidup
Perempuan], Ratna di Stand Kegiatan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan
Anak dan Keluarga Sejahtera Kota
Lhokseumawe mengatakan, “ pada awalnya kami berencana memamerkan hasil bordir
dan menjahit yang dilakukan warga binaan perempuan Lapas Lhokseumawe namun
karena belum siap lantas kami memboyong hasil karya warga binaan laki-laki Lapas
Klas II A Lhokseumawe di acara Tumpok Teungoh Fair 2012 untuk dipamerkan, karena
mereka tidak tahu mau dijual kemana” katanya.
Lanjutnya, “tujuan kami adalah
untuk membuka mindset mereka, agar setelah bebas dari Lapas mereka tetap melanjutkan
karyanya,” ujar Ratna.
Sementara walikota Lhokseumawe,
Munir Usman saat acara peresmian pameran tersebut mengatakan, “ saya sangat
memberikan apresiasi semoga menjadi contoh bagi desa lain. Lhokseumawe meski
kecil namun kecil-kecil cabe rawit. Lhokseumawe sudah mampu menurunkan angka
pengangguran dan ini merupakan suatu prestasi. APBK biar dikelola pihak desa,
kalau pemkot hanya meucawoe-cawoe APBK semua orang bisa melakukannya, tapi
bagaimana caranya kita mendapatkan dana dari pihak luar dan dana APBK yang ada
janganlah difoya-foya,” terang Munir Usman.
Munir juga menambahkan, “kalau
ada desa lain yang juga ingin mengekspos hasil karyanya seperti Tumpok Teungoh
Fair tolong didukung. Jangan hanya melakukan produksi saja tapi juga harus
disertakan dengan promosi,” ujarnya. | AT | HR |

0 komentar:
Posting Komentar