.JPG) |
| Lapas Klas II A Lhokseumawe |
Lhokseumawe | acehtraffic.com - Bangunan
tembok tinggi menjulang dengan lilitan kawat berduri diatasnya seakan menjadi
dinding pemisah antara penghuninya dengan dunia luar, warna cat dindingnya yang
memudar dari bagian luar menambah kesan ke angkerannya. Bersama rombongan badan
pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga sejahtera dari pemko
Lhokseumawe reporter acehtraffic.com, Senin, 27 Februari 2012 mengunjungi lapas
klas II A Lhokseumawe.
Ternyata kesan seram dan angker
yang tampak dari dinding luar penjara ini tidaklah tampak dari dalam. Para warga
binaan yang mendekam di hotel prodeo ini mempunyai keahlian untuk berkarya. Didalam
sel terlihat seperti sebuah bengkel perabot dimana sebagian besar tahanan
mencoba melakukan suatu hal yang positif dengan perlengkapan seadanya mereka menciptakan
karya ketrampilannya, beberapa diantaranya banyak yang sudah selesai dikerjakan
dan telah dijual bahkan ada yang menerima orderan dari pihak luar lapas.
Kasi Kegiatan Kerja, M. Nur
berharap agar pemda memberikan pelatihan dan dana sehingga jika bebas nanti
mereka bisa berkarir. Dia juga mengatakan, kebanyakan dananya dari para warga binaan sendiri untuk membeli peralatan
serta bahan baku sedangkan perlengkapan milik kantor lapas untuk mendukung
pekerjaan warga binaan banyak yang sudah aus/rusak.
.JPG) |
| Kasi Kegiatan Kerja M. Nur bersama M. Yusuf warga binaan lapas berdiri dibelakang lemari rak piring hasil karya warga binaan lapas klas II A Lhokseumawe |
Salah satu warga binaan lapas
klas II A Lhokseumawe yang berkreasi, Ishak Raden [51] mengatakan, “setelah
selesai dibuat saya berikan ke bagian binker untuk dijual keluar lapas seperti Rekal
Al Quran minimalis telah laku dijual ke toko buku, dan dengan dibantu oleh
sesama pegawai LP, pot bunga hasil kreatifitas saya laku dipasaran,” ujar
Ishak.
 |
| Ibu-ibu dari badan pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga sejahtera membeli Rekal Al-Quran hasil karya Ishak Raden |
Warga binaan lainnya, Mustafa Kamal
[26] dengan dibantu rekan-rekan sesama warga binaan memproduksi beraneka ragam
perabot stainless dan almanium. Mustafa menuturkan, “langkah kami sangat
terbatas sehingga sulit untuk melakukan promosi dan berpengaruh terhadap
penghasilan yang agak tersendat. Selama ini promosi yang dilakukan melalui
keluarga kami yang datang membesuk karena hanya itu cara yang dapat kami
lakukan,” keluhnya.
.JPG) |
| Ruang untuk tukang perabot warga binaan berkarya |
Mustafa yang dijatuhi hukuman
tujuh tahun penjara akibat narkoba juga berharap agar pemda mau membuat pameran
khusus lapas agar dapat mempromosikan hasil karyanya. “selama ini belum ada
bantuan dari pemerintah, untuk sementara pihak lapas yang membantu,” ujar
Mustafa.
.JPG) |
| Warga binaan sedang membuat lemari dari kardus |
Sementara diruang tahanan perempuan,
warga binaan yang berjumlah 14 orang ini dibawah bimbingan badan pemberdayaan
perempuan perlindungan anak dan keluarga sejahtera dilatih ketrampilan
membordil dan menjahit karena mereka sama sekali tidak memiliki keahlian.
.JPG) |
| Warga binaan perempuan mengikuti pelatihan bordir dan menjahit |
Instruktur pelatihan bordir dan
menjahit, Zahriani [52] mengatakan, “setelah ada pelatihan ini baru mereka
menyesal bahwasanya menjahit ini lebih bagus daripada menjual narkoba. Karena menjahit
ini bisa dinikmati oleh seluruh kalangan pihak baik dari kalangan atas maupun
dari kalangan bawah. Berbeda dengan menjual narkoba karena hanya pemakai
narkoba yang membelinya, lagipula dengan menjahit derajat kitapun bisa
terangkat bila dibandingkan dengan menjual narkoba,” katanya.
.JPG) |
| 14 Warga binaan perempuan mengikuti pelatihan bordir dan menjahit |
Dia juga menambahkan, “Setelah selesai
menjalani ini mereka boleh belajar menjahit lagi daripada didalam kamar hanya
merenungi sesuatu yang tidak jelas. Selama ini mereka belum ada sentuhan menjahit
di LP. Peralatannya pun belum memadai karena mesin jahitnya hanya ada enam dan
itupun ada yang rusak, mesin bordir juga tidak ada. “ ujar Zahriani.
Zahriani juga berharap perlu ada
binaan dari pemerintah agar jika mereka bebas nanti ada keahlian yang dimiliki.
| AT | HR |
0 komentar:
Posting Komentar