News Update :

Khawatir Perang, Ratusan Orang Somalia Tinggalkan Rumah

Jumat, 17 Februari 2012

Mogadishu | acehtraffic.com - Ratusan orang Somalia meninggalkan rumah mereka, Kamis 16 Februari 2012 karena khawatir akan pertempuran setelah pasukan Uni Afrika [AU] menyerang posisi milisi Al-Shabaab di daerah pinggiran Mogadishu, ibu kota Somalia.

Sejumlah kendaraan yang bermuatan penuh bergerak menuju kota itu dari daerah-daerah Elashabiyaha dan KM13 di luar Mogadishu, ketika pasukan AU memasuki posisi yang mereka rebut dari gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida itu pekan ini setelah pertempuran hebat.

Daerah itu terletak di jalan menuju kota Afgoye yang dikuasai militan, sekitar 30 kilometer sebelah baratlaut Mogadishu yang juga akan diserang oleh pasukan AU. "Ratusan pengungsi kembali lagi ke Mogadishu karena khawatir akan pertempuran di koridor Afgoye," kata Moalim Abudule, seorang pejabat daerah, kepada wartawan.

"Kami menerima banyak pengungsi di sini di distrik Dharkinley, namun sayangnya kami tidak memiliki tempat perlindungan yang layak untuk membantu mereka," katanya.

Banyak penduduk Mogadishu lari ke daerah Afgoye, yang kata PBB merupakan tempat pengungsian terbesar dunia, setelah pertempuran sengit antara pasukan AU dan gerilyawan Al-Shabaab dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun, mereka kini meninggalkan Afgoye karena khawatir akan terjadi serangan dalam waktu dekat setelah wakil kepala Misi Uni Afrika di Somalia [AMISOM] mengatakan bahwa pasukan akan segera meluncurkan serangan sebagai bagian dari operasi untuk mengalahkan Al-Shabaab.

Pasukan AMISOM yang berkekuatan 10.000 orang berperang untuk mengamankan Mogadishu, enam bulan setelah Al-Shabaab meninggalkan pangkalan mereka di sana dan melakukan perang gerilya, termasuk serangan-serangan bom bunuh diri dan bom mobil.

Somalia dilanda kelaparan parah tahun lalu akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaida.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli 2011 mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu. Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.  Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida. Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei dua tahun lalu. Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. | AT | AN |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016