
Kondisi itu membuat sedikit terhambat perjalanan kami menuju Gampong [desa] yang dalam seminggu terakhir menjadi sasaran "kunjungan" aparat kepolisian termasuk Densus 88 anti teror.
Jalan tak tersentuh aspal berliku-liku, dikiri kanan jalan terbungkus hutan lebat. Hutan itu membuat kami terhanyut juga dibarengi rasa takut. Wah.. tiba-tiba babi hutan melintas. Perjalanan ini membuat kami tersesat. Kesana kami ingin mengetahui apa yang sedang dicari aparat keamanan?
Kami menanyakan alamat rumah yang menjadi tujuan kami, terlihat warga enggan memberitahukan, bayangan kami toh insiden kriminal penembakan gudang BBM milik subkontraktor perusahaan seismik migas Zaratex NV yang terjadi belakangan di Kecamatan Sawang Aceh Utara itu. Warga hati-hati dengan orang yang belum dikenali.
Penangkapan beberapa warga desa setempat yang dilakukan aparat kepolisian dan Densus 88 terhadap beberapa warga didesa tersebut, yang khabarnya tanpa disertai surat penangkapan menimbulkan kepanikan dikalangan warga. Terutama keluarga dari yang kini sedang diburon polisi.
Seperti terjadi dua hari yang lalu, Selasa, 17 Januari 2012 polisi berpakaian preman menangkap ibu Ainol Marziah dan anaknya Zulfadli. Mereka ditangkap dalam perjalanan pada pagi hari itu, ketika Ibu dan anak itu menuju Gampong Blang Reuling dari Gampong Teupin Resep Kecamatan setempat.
Pada saat penangkapan sepeda motor yang dikendarai oleh Zulfadli [24] dengan memboncengi ibunya, Ainol Mardiah [56] dihadang tiga mobil Avanza hitam berpenumpang polisi. Polisi turun, dan langsung menodongkan senajata kearah Zulfadli [24] sang ibu mencoba menyelamatkan sang anak dari todongan senjata dengan menutup tubuh anaknya dengan cara memeluk.
Beberapa anggota polisi yang berbahasa Aceh mencoba menenangkan ibu itu, sedangkan petugas lainnya membentak ibu dan putranya dengan logat Batak. Sang ibu yang menjerit dan menangis histeris itu akhirnya jatuh pingsan ketika anaknya Zulfadli lepas dari pelukannya dan dimasukkan kedalam mobil berkaca gelap itu.
Penderitaan yang harus ditanggung keluarga ini tak lain karena seorang anak laki-lakinya Ainol Mardiah yang bernama Wila menjadi tersangka penembakan gudang BBM perusahaan Saripari Geosain atau sub kontraktor perusahaan Zaratex NV.
Wila buron. Sementara Zulfadli yang merupakan adik kandung Wila adalah santri pesantren Nurul Islam di Babah Buloh. Wila dan Zulkifli memang sekandung, namun hasil keterangan berbagai sumber The Acehtraffic.com dalam kasus penembakan Gudang BBM subkon Zaratex NV itu tidak ada kaitannya. Artinya Zulkifli tidak join dengan abangnya Wila.
Dia sempat bermalam di sel Polres Lhokseumawe, karena tidak terbukti bersalah maka Geuchik [kepala desa] desa setempat beserta perwakilan keluarga Wila diminta untuk menjemputnya pulang dan kembali ke pesantren di desa Babah Buloh.
Informasi tentang penangkapan ini cepat meluas dari mulut ke mulut, membuat warga disana dirundung kegelisahan, bertambah lagi, kawasan ini adalah area merah saat konflik Aceh dimasa silam. Apalagi setelah kejadian penembakan itu, banyak tamu aneh dan asing berdatangan, gayanya macam-macam. Ada pula yang jadi tukang semprot hama diladang tak bertuan.
Beberapa mobil avanza dan double cabin berisikan Densus 88 anti teror berseliweran di Gampong Teupin Resep Dusun Alue Seuke Kecamatan Sawang.
Seluruh warga terutama kaum laki-laki remaja dan dewasa menjadi panik. Ketika double cabin berhenti didepan rumah salah satu warga di Gampong Teupin Resep Dusun Alue Seuke karena trauma pada masa konflik beberapa tahun silam laki-laki yang tinggal didalam rumah memilih untuk segera beranjak melalui pintu belakang karena ketakutan dibawa dan ditanyai yang macam-macam.
Umumnya kaum laki laki di dusun tersebut sudah mengungsi/meninggalakn Gampong karena khawatir akan kena getah dari kasus tersebut, bukan tidak mungkin kemampuan berbahasa ditambah dengan perasaan takut, dikhawatirkan yang tidakpun akan terjawab i-ya.
Pokoknya keberadaan anak laki-laki dirumah yang masih muda-muda menjadi ancaman baru bagi warga desa itu. tempat tinggalnya, ada juga yang disuruh “Pokok jih kah bek le na i-Gampong, salah ka jaweub ka jipeusalah kah enteuk [pokoknya kamu anak laki-lakinya atau suaminya pergi saja, takut salah jawab nanti bisa berurusan] tidak boleh ada lagi dikampung],” Ujar seorang ibu menyisyaratkan ketakutan.
Warga gemetaran berhadapan dengan polisi, bahkanb saat ditanyakan tentang keberadaan buronan dengan suara terbata-bata warga menjawab “Tidak tau”.
Karena ketakutan, maka sesuai aplikasi dari pendidikan polisi adalah bahwa orang takut adalah memiliki kesalahan. Tapi dalam kontek warga pedalaman yang puluhan tahun didera konflik kesimpulan itu belum tentu benar.
Apalagi aparat langsung menghadiahi warga dengan bogem mentah, dan dibawa paksa masuk ke dalam mobil layaknya penagkapan orang yang tertuduh adn dicurigai terlibat GAM pada masa konflik dulu. Insiden ini dialami seorang pemuda berusia 21 tahun, Abdullah Bin Ismail, dia kena bogem karena salah jawab pertanyaan.
Dalam penyisiran untuk memburu pelaku penembakan gudang BBM Subkontraktor Zaratex NV, polisi utusan Polri yang dibantu oleh Densus 88 melakukan penyisiran di Dusun Alue Seuke Gampong Teupin Resep Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara.
Dalam penyisiran tersebut polisi menangkap tiga orang dan dibawa ke Polres Lhokseumawe untuk dimintai keterangan.
Keganjalan terjadi pada saat Abdullah bin ismail [21] bersama seorang temannya Wardi [21] melihat mobil mitra masyarakat [polisi] terjebak kedalam lumpur, Abdullah yang ketika itu sedang mengupas pinang bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk membantu mendorong mobil Densus 88 karena situasi jalan yang becek.
Setelah mobil pelindung masyarakat itu berhasil melewati jalanan becek dan berlumpur, Tim anti teror itu keluar dari mobil dan terjadi tanya jawab beberapa saat.
Entah tidak puas mendengar jawaban yang dilontarkan Si Lah, panggilan akrab Abdullah. Tiba-tiba seorang pemuda seusia Abdullah yang bernama Wardi yang kebetulan lewat dipanggil oleh Polisi.
Setelah Wardi mendekati polisi yang memanggilnya, Wardi disuruh buka bahu, dan baju Wardi dirobek, dengan sobekan baju wardi tangan Abdullah ditarik kebelakang dan diikat dengan baju itu lalu mendorong Abdullah masuk kedalam mobil dan dilarikan ke kantor Polres Lhokseumawe, sementara Wardi yang tidak ikut dibawa dengan telanjang dada dia lari terbirit-birit pulang kerumah.
Di Mapolres Lhokseumawe, Abdullah berusia 21 tahun yang hingga saat ini masih ditahan, berdasarkan keterangan warga dan keluarganya, saat dimintai keterangan Abdullah diintrogasi dan ....xxxx. Bahkan di p xxxx dia juga di sxxxx sehingga lemas dan kondisinya tak sanggup untuk berbicara lagi.
Padahal berdasarkan sejumlah keterangan yang dikumpulkan acehtraffic.com pemuda tanggung ini hanya mengenal pelaku karena satu kampung, dan berdasarkan sumber dia tidak terlibat dalam aksi penembakan gudang BBM Zaratex NV. Entah benar atu tidak keterangan ini kita juga tidak tahu.
Lucunya Tukang Kebun
Ditengah ketakutan warga desa disana, namun ada saja kisah lucu yang terjadi yang membuat masyarakat terbahak-bahak. Semenjak pencarian buronan itu, kebun -kebun masyarakat di beberapa desa dikecamatan tersebut, sering kedatangan tukang kebun Ekport. .
Mereka datang bukan layaknya pekebun rendahan layaknya didesa itu yang hanya mengandalkan sepeda motor hanya satu atau dua orang yang memiliki mobil. itupun dikenali.
Tapi kedatangan tukang kebun kali ini, mengendarai mobil bak terbuka ber-isikan perlengkapan untuk berkebun seperti, alat semprot hama, mesin potong rumput, cangkul dan perlengkapan kebun lainnya.
Setiba di areal kebun, tukang kebun turun mengambil alat semprot, cangkul dan mesin potong rumput masuk ke kebun yang berdekatan dengan jalan utama. Didalam kebun aktivitas hanya mutar-mutar seakan sedang terjadi simulasi penyemprotan. Begitu juga dengan mesin potong rumput.
Dan sempat pula ada pertanyaan dari tukang kebun tersebut yang menanyakan dimana kebunnya. mendengar pertanyaan tersebut, masyarakat menjadi bingung dan langsung berpikir bahwa yang datang itu bukan lah pemilik kebun. Apalagi masyarakat mengenal siapa pemilik kebun yang sebenarnya dikawasan itu walaupun bukan warga setempat.
Kalaupun yang datang anaknya, mun---gggkiiiin dulunya bersekolah di Washinton DC, dan ingin melihat kebun orangtuanya, pasti ada seseorang warga disana yang dulunya dijadikan ayahnya sebagai "Tukang lihat" dan si anak itupun yang baru pulang dari luar nanggroe, bila ingin mengelola kebun pastinya menghubungi kontak person tersebut.
Tapi Ini Tidak
Kita tinggalkan cerita kebun. Kni kita coba beranjak ke kisah perdagangan. Semenjak dua orang buronan penembak gudang BBM Subkon Zaratex NV itu, aktivitas perdagangan pun mulai ramai didesa itu.
Banyak anak muda yang tidak diketahui dari mana asalnya berpenampilan layaknya seorang sales alias rapi menjajakan l sepatu, baju dan celana. Namun aktivitas dagang ini tidak terlalu ber-interaksi dengan calon pembeli yaitu warga setempat. Malah warga setempat takut untuk mendekati sang penjual dadakan itu.
Sepinya desa ini dengan letak yang jauh dari kota, bagi kaum lelaki adalah sebuah ancaman, pasalnya beberapa kasus yang sudah terjadi laki-laki adalah sasaran pemeriksaan polisi.
Tidak ada lampu penerang dipinggir jalan membuat situasi gampong kian mencekam apalagi belakangan ini kegelapan malam dipinggir jalan Gampong itu hanya disinari cahaya mobil Avanza berisikan anggota kepolisian yang kerap menyusuri jalan-jalan di Gampong ini untuk mencari orang-orang yang dicurigai atau mengenal pelaku penembakan gudang BBM Zaratex NV.
Grebek Rumah "Itamong roet pintoe keu iteubiet roet pinto likoet"
Belum lagi hilang ketegangan situasi di gampong [desa] ini, Jum’at, 20 Januari 2012 sekitar pukul 10.00 WIB, Polisi menggrebek tiga rumah untuk mencari tahu keberadaan buron pelaku penembakan Subkon Zaratex NV.
Kali ini rumah yang menjadi sasaran penggrebekan itu antara lain, rumah milik Sofyan [30] kakak kandung Mukhlis [Buron] di dusun Alue Seuke, dan rumah milik Ainol Marziah ibu kandung Wila [Buron]. Sementara rumah milik mertua Sofyan yang berada di Dusun Cot Mancang Gampong Teupin Reusep di grebek pada sore hari.
Pada saat penggrebekan dirumah Sofyan, rumahnya dalam keadaan kosong karena istri Sofyan dengan membawa kedua bayi kembarnya berbaur bersama tetangga lainnya karena ketakutan. Sedangkan Sofyan tidak berada dirumah karena sedang bekerja di Patok Tujoeh perbatasan antara Kecamatan Timang Gajah Aceh Bener Meriah dan Sawang.
Kemudian petugas Anti Teror itu memanggil istri Sofyan, melalui telepon seluler polisi meminta Sofyan untuk segera pulang. Karena kondisi geografis yang jauh dari rumahnya maka Sofyan tidak mengindahkan panggilan polisi untuk segera pulang dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah polisi itu menghilang dari gampong tersebut, siang harinya adik ipar Sofyan membawa istri dan kedua bayi kembar Sofyan ke rumah mertuanya di Dusun Cot Mancang. Namun Masih dihari yang sama sekitar pukul 16.00 WIB giliran rumah mertua Sofyan yang digrebek.
“I tamong roet pintoe keue, i teubiet roet pintoe likoet [masuk lewat pintu depan, keluar lewat pintu belakang],” kata sumber kami menjelaskan.
Kepada reporter Acehtraffic.com, Sofyan mengatakan, “polisi harus bersahabat dengan masyarakat, saya tidak mau jika Mukhlis dan Wila yang bersalah tetapi orang seluruh kampung yang menerima imbas ditangkap untuk dimintai keterangan.
"Kalau dia yang salah maka cari dia jangan kami, saya tidak sanggup untuk mencarinya, jangan libatkan kami dalam hal ini, jika muklis ditemukan diproses secara hukum kalau pun ditembak mati kami tetap tidak mempermasalahkan karena dia telah berbuat hal yang salah,”Ujar Sofyan.
Sabtu 21 Januari 2012 pukul 11.00 WIB warga Cot Sileng dusun Alue Seuke Gampong Teupin Reusep kembali dikejutkan dengan rentetan dentuman senjata yang dimuntahkan oleh Polisi berpakaian preman ke arah semak belukar yang diperkirakan tempat Wila dan Mukhlis bersembunyi.
Setelah suara tembakan, beberapa menit kemudian aparat kepolisian berpakaian preman memerintahkan warga untuk mengambil mayat dua orang pria didalam semak belukar Cot Sileeng.
Setelah beberapa lama warga itu mencari dengan detak jantung layaknya goncangan mesin dompeng, tak ada satupun mayat yang mereka temukan melainkan beberapa pohon kayu yang meneteskan getahnya akibat goresan peluru.
Setelah kejadian tersebut, kaum laki-laki yang berusia muda dan remaja yang masih bertahan dikampung halamannya, tidak berani lagi bertahan. Dan mereka pun Bungkoh Baje Bulut [Bunkus pakaian basah] dan pergi.
Ternyata adanya kandungan minyak dan gas di Gampong kita, bukannya senang dan sejahtera, tetapi harus tancap gas karena malapetaka. | AT | HR | IS | RD

0 komentar:
Posting Komentar