
Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Membuat tugas akhir atau skripsi bagi mahasiswa merupakan syarat yang harus diselesaikan untuk mendapatkan gelar sarjana. Mahasiswa unimal khususnya mahasiswa dari fakultas ekonomi kesulitan membuat skripsi. Masalah yang dihadapi dalam penyusunan skripsi terganjal pada BAB 4 yang menjelaskan tentang pembahasan hasil menggunakan program SPSS.
SPSS [Statistical Package for the Social Sciences atau Paket Statistik untuk Ilmu Sosial] merupakan sebuah program komputer yang digunakan untuk membuat analisis statistika. Konsep dasar yang berfungsi sebagai teori untuk melandasai dalam mengoperasikan SPSS dan menfasir keluaran secara benar, yakni variable, model hubungan antar variable, tingkat kepercayaan (Confindence Interval, tingkat signifikansi atau probabilitas (significance level), pengertian data atau kasus, pengertian uji hipotesis satu sisi (one tailed) dan uji hipotesis dua sisi (two tailed), hipotesis, derajat kebebasan (degree of freedom), nilai kritis, statistik parametrik dan nonparametrik.
Sulitnya program tersebut membuat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh pusing tujuh keliling, bahkan ada yang mengambil jalan pintas menggunakan jasa orang lain dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Berdasarkan hasil penelusuran Reporter Acehtraffic.com dilapangan, untuk menyelesaikan bagian BAB 4 ini mereka harus merogoh koceknya sebesar satu juta rupiah. Bagi mahasiswa yang ekonominya kurang beruntung seperti temannya yang lain tentunya biaya ini sangatlah memberatkan.
Setiap tahun Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh menelurkan ratusan sarjana. Gemerlap pesta wisuda pun meriah digelar, tak jarang membuat suasana haru terutama dari kalangan wali mahasiswa karena bangga anaknya telah menjadi seorang sarjana.
Namun bagaimana rata-rata para sarjana itu menyelesaikan skripsinya, apakah itu hasil karyanya atau milik orang lain dengan membeli atau menyuruh orang lain mengerjakannya. Maka tak heran jika lulusannya justru menjadi pengangguran bertitel menjadi beban bagi masyarakat (sampah masyarakat) bahkan Negara karena tidak mandiri serta tidak memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar tenaga kerja.
Ketika Acehtraffic mewawancarai salah seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, dia mengatakan “kami tidak dapat menyelesaikan skripsi kami karena tidak adanya pengetahuan mengenai program SPSS, BAB I hingga BAB III kami diajarkan hingga berminggu-minggu, namun ketika praktek SPSS hanya satu kali saja diruang Lab computer fakultas ekonomi itupun computer tidak semuanya dalam kondisi bagus, jadi terpaksa kami menggunakan satu computer untuk beberapa mahasiswa,” ujar mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Mahasiswa yang lain juga mengatakan “dosen tidak menjelaskan secara terperinci mengenai SPSS tersebut sehingga membuat kami bingung mendengar penjelasannya. Dan tidak semua materi SPSS dijelaskan, kami terpaksa ikut les diluar kampus karena ilmu yang didapat didalam kampus sangat kurang, padahal di Unimal banyak dosen yang menguasai program tersebut tapi tidak ada yang mengajarkan kami, seharusnya tentang program SPSS harus benar-benar diprioritaskan baik materi maupun praktek yang memadai” terangnya.
Siapa yang harus disalahkan, mahasiswa yang tidak pintar atau dosen yang bersangkutan karena tidak mampu mendidik mahasiswanya? Pihak fakultas seolah-olah menutup mata, mereka menuntut mahasiswanya agar segera meninggalkan bangku kuliahnya tepat waktu, jika tidak sanksi DO (Drop Out) akan menimpa. Sedangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama duduk dibangku kuliah tidak diperoleh secara maksimal, entah itu karena sarana lab yang tidak lengkap ataupun dosen yang tidak memiliki sertifikasi dalam mengajar, entahlah yang pasti tiap tahun ada yang diwisuda. | AT | HR | YD |

0 komentar:
Posting Komentar