
Banda Aceh | Acehtraffic.com - Isak tangis mewarnai kepulangan 18 pemain ‘Timnas’ Aceh setelah mendarat dengan pesawat Lion Air di bandara internasional Sultan Iskandar Muda [SIM] Blang Bintang, Aceh Besar, Sabtu [19/11] siang kemarin. Ini merupakan kali pertama mereka kembali ke Tanah Rencong setelah berguru ilmu sepakbola selama tiga tahun di Paraguay.
Para pemain masa depan Aceh yang memakai seragam jas lengkap layaknya pesepakbola profesional tak bisa membendung lagi kerinduan bertemu dengan orang tua masing-masing yang sudah menanti di lobi kedatangan bandara. Pemandangan haru langsung menyelimuti pemain dan anggota keluarga yang saling berpelukan. Air mata pun tumpah seketika dari anggota keluarga dan pemain demi melepas rindu yang sudah lama terpendam.
Kondisi ini terlihat sangat manusiawi mengingat tiga tahun berpisah bukanlah waktu yang singkat. Jauh di Amerika Latin, sang buah hatinya belajar ilmu sepakbola sejak akhir 2008 dan kembali akhir 2011. Para pemain yang berangkat dengan status pelajar kelas I SMAN 9 Tunas Bangsa Banda Aceh mampu menamatkan pendidikannya di Paraguay. Sebelumnya, para orang tua hanya mengandalkan kecanggihan teknologi untuk bisa berhubungan dengan anak-anaknya. Setelah melepas rindu sekitar 10 menit, barulah rombongan pemain menuju Meuligoe Gubernur Aceh.
Rombongan pemain, guru pendamping, pelatih yang didampingi Kadispora Aceh Hasan Basri selama perjalanan dari Jakarta, disambut oleh Kabid Olahraga Dispora Nuzuli MS dan Ketua Panitia Pelaksana turnamen segitiga muda, M Zaini Yusuf di bandara. Setiba di Meuligoe mereka disambut oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bersama Sekjen PKS Anis Matta, yang kebetulan sedang ada acara partainya di Anjong Mon Mata.
Dalam arahannya, Irwandi mengucapkan selamat datang kepada para pemain yang pulang ke Aceh. Ia berpesan agar para pemain yang sudah bagus bermain sepakbola supaya jangan mengecewakan publik Aceh yang sudah membiayai program ini. “Harapan sepakbola Aceh ada di tangan para pemain ini,” katanya.
Gubernur juga berpesan agar pemain menjaga makanan dan menjadi pemain profesional. Jangan asal main di tim, apalagi bermain tarkam (antar kampong-red) karena rawan cidera. Pemain juga diminta agar kompak dalam pertandingan dan patuh kepada pelatih. “Sejarah membuktikan seseorang tidak akan berhasil kalau melawan guru dan pelatih,” pesan Irwandi.
Sedangkan Nuzuli MS mengatakan, para pemain akan kembali dan berkumpul dengan keluarga di kampung masing-masing selama satu minggu setelah turnamen segitiga muda. “Setelah itu para pemain akan balik lagi untuk berkumpul di Banda Aceh melanjutkan program latihan,” ujar Nuzuli. | AT | SI

0 komentar:
Posting Komentar