
Banda Aceh | Acehtraffic.com -- Berikut kronologis penangkapan peserta aksi Gerakan Mahasiswa Aceh di Simpang Lima Banda Aceh pada Sabtu, 09 Oktober 2011.
Kejadian berawal ketika pihak mahasiswa Unsyiah, IAIN-Arraniry dan Universitas Serambi Mekkah yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Aceh (GMA) melakukan aksi Damai
Pihak Kepolisian dari Polresta Banda Aceh melakukan pembubaran secara paksa.
Awalnya, Koordinator lapangan aksi, Fakhrurrazi yang ditemani Sopian melakukan negosiasi dengan Kasat Intelkam Polresta Banda Aceh perihal aksi damai yang mereka lakukan atas nama Gerakan Mahasiswa Aceh (GMA).
Negosiasi berlangsung sekitar 10 menit, namun kedua belah pihak tidak menemukan titik temu, hingga akhirnya pihak mahasiswa melakukan breafing beberapa saat menanggapi larangan melakukan aksi oleh Pihak Polresta Banda Aceh dengan alasan larangan tersebut merupakan perintah langsung dari Kapolda Aceh.
Padahal, mahasiswa mendapatkan informasi bahwa untuk melakukan aksi pada malam itu boleh dilakukan dalam durasi waktu 30 menit, mendapat informasi tersebut, pihak Mahasiswa yang tergabung dalam GMA meminta waktu yang telah diizinkan tersebut.
Namun pihak kepolisisan mengatakan “Tidak Boleh”, Kalau kalian tidak bubar sekarang, maka akan dibubarkan secara paksa”, dimana polisi terus mendorong mahasiswa hingga beberapa orang dari mahasiswa terjatuh.
Untuk tahapan kedua, pihak mahasiswa hanya meminta waktu lima menit untuk membacakan tuntutan aksi yang telah mereka buat, namun pihak kepolisisan tetap memaksa untuk bubar, hingga salah seorang dari anggota kepolisisan merebut Toa yang digunakan oleh mahasiswa untuk orasi direbut paksa oleh Polisi dan menarik tali wayer toa tersebut hingga terputus.
Selanjutnya, mahasiswa mundur, namun pihak kepolisisan tetap mendorong dan menangkap serta memukul secara membabi buta beberapa orang demontrans antara lain, Zikirullah, Basyaruddin Asya, serta beberapa orang lainnya, melihat kejadian tersebut, beberapa dari mahasiswa mencoba meleraikan tindakan pihak kepolisian saat itu,
Namun, pihak mahasiswa yang awalnya berniat mendamaikan malah ditangkap, dipukuli dan dilempar kedalam mobil Reo yang sudah disediakan, didalam mobil beberapa mahasiswa dan komunitas Punk dipukuli habis-habisan, walau sudah minta ampun tapi masih juga dipukuli, yang paling mengejutkan adalah ada beberapa orang yang bertubuh kekar menggunakan Pisau hingga melukai tangan salah satu dari komunitas Punk, tidak ada yang tau siapa mereka, yang jelas kami meyakini mereka adalah pihak Intelkam Polresta Banda Aceh.
Setelah berada dalam truk reo milik Polresta Banda Aceh tersebut, para mahasiswa dan Punk dibawa ke Mapolresta Banda Aceh, setiba disana mereka dibarisi dan dipukuli satu-persatu, setelah dipukuli, para mahasiswa dan Punk diperintahkan untuk buka baju dan tali ikat pinggang, setelah buka baju, para mahasiswa diperintahkan untuk maju satu-persatu serta dipukuli secara membabi buta.
Hingga pukul 00.00 Wib mahasiswa dan komunitas Punk agak sedikit merasa lega, ketika telah berada dalam ruang interogasi, walau intimidasi terus dilakukan, namun kebanyakan dari mahasiswa dan Punk tidak dipukul lagi. |AT/Yd

0 komentar:
Posting Komentar