
GAMBIT alias Sukriadi yang mengklaim diri sebagai pejuang untuk keadilan mantan kombatan, korban konflik, anak yatim, dan janda korban perang tampaknya harus berjuang sendiri atau paling tidak dengan kelompok yang sepaham dengannya. Pihak KPA sebagai wadah berhimpunnya para kombatan GAM tidak merestui cara perjuangan yang dilakukan Gambit cs. KPA mendukung tindakan aparat hukum terhadap siapa pun yang melanggar hukum.
Gambit yang mengaku sebagai mantan kombatan kini menjadi target aparat keamanan karena serangkaian kasus kriminalitas menggunakan senjata api yang dilakoninya. Kalau benar pria yang mengaku dari Desa Blang Batee, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur itu adalah mantan kombatan, berarti dia kembali menjadi ‘gerilyawan’ karena harus berhadapan dengan aparat keamanan yang bertekad akan terus memburunya.
Menurut sejumlah sumber yang dihimpun Serambi, sebelum menjadi buronan akibat aksi kriminal yang dilakukannya, Gambit tergolong mantan GAM yang aktif menyuarakan kepentingan masyarakat, khususnya di pedalaman Aceh Timur. Beberapa kali ia berdelegasi ke DPRK Aceh Timur sebagai koordiantor KPA untuk tujuan tersebut. Bahkan, ia tak segan-segan mengecam tindakan oknum PA/KPA yang berlaku amoral. Misalnya, terkait kasus mesum anggota dewan, MY.
Gambit cs menuntut dengan tegas kepada pihak DPRK Aceh Timur agar memecat oknum anggota dewan terlibat mesum tersebut. Gambit juga pernah mengingatkan secara keras anggota DPRK Aceh Timur agar jangan sekali-kali mengontrak rumah di Kota Langsa serta tanpa kecuali harus berdomisili di wilayah Aceh Timur, karena wakil rakyat dari Kabupaten Aceh Timur harus berada di tengah rakyatnya.
Mantan kombatan GAM tersebut juga pernah mengingatkan agar anggota DPRK dari PA jangan sekali-kali meremehkan atau tidak mengindahkan statemen mereka (Gambit cs). Gambit juga kerap mengeritik anggota dewan asal PA agar jangan menari-nari di atas penderitaan rakyat.
Bisa jadi, ketika Gambit merasa warning-nya diabaikan, dia pun mengingatkan dengan cara yang lain. Sasarannya adalah fasilitas yang diberikan/dimiliki kader PA, termasuk yang duduk di lembaga dewan. “Apa yang saya lakukan semata-mata untuk menuntut keadilan bagi mantan kombatan GAM, korban konflik, anak yatim, dan janda korban perang,” begitu pernyataan Gambit yang secara khusus menelepon Serambi, Minggu malam, 7 Agustus 2011 sekitar pukul 23.30 WIB.

0 komentar:
Posting Komentar