Enam ratus tahun silam, dialah bintang yang terang. Kita kenal Cheng
Ho, laksamana hebat itu, melalui deskripsi ini: tingginya di atas dua
meter, wajahnya tampan, alisnya tebal, matanya besar, suaranya keras dan
nyaring seperti dentang bel raksasa, dan armadanya luar biasa.
Ya, waktu itu, seorang lelaki yang pernah berdiri di titik paling
selatan Sri Lanka menyaksikan pemandangan yang membuatnya takjub.
Mulanya, kata si lelaki, tampak bayangan begitu pekat di garis horizon.
Bayangan itu bergerak perlahan. Dan manakala awan dan kabut tersibak,
kelihatanlah sosoknya yang lebih jelas. Mendekati bentuk sebuah kota
terapung, hanyut mendekati pantai Samudra Hindia.
Iring-iringan mayestis itu membentang hampir 1.000 meter di garis
cakrawala, dan memanjang dengan jarak antara kapal pertama dan terakhir
mencapai 1,5 kilometer. Kekuatan laut ini mengangkut 30 ribu serdadu,
ratusan pejabat, 180 dokter, lima astrolog, puluhan akuntan, penjahit,
juru masak, pedagang, dan penerjemah. Ma Huan, salah seorang di antara
mereka, mencatat dalam bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan (Survei
Menyeluruh Daratan-daratan Samudra).
Ma Huan seorang muslim-Ma di sini sama dengan Muhammad. Ia
menguasai bahasa Arab dan Persia, tapi punya minat melimpah mengenai
segalanya yang asing: dari ritual pemakaman, perkawinan, kepercayaan
masyarakat, arsitektur, dunia flora-fauna, hingga kuat-lemahnya
pemerintah di tempat-tempat yang dikunjunginya. Dalam Ying-yai
Sheng-lan, ia mengungkap keterpesonaannya terhadap aneka burung yang
hidup di Jawa (Chao Wa). Secara khusus, ia menyebut sejenis burung yang
mampu menirukan suara manusia.
Waktu itu, dalam pelayaran keempat Cheng Ho (1413), Ma Huan masih
di usia 25 tahun. Dan ia menangkap suatu fenomena sosial yang
merisaukan hatinya: frekuensi pembunuhan yang tinggi di tanah Jawa .
"Mereka menusuk di antara tulang iga, sehingga korban
langsung mati," tulisnya. Ya, pembunuhan yang dinilainya berangkat dari
hal sepele, juga yang berangkat dari keyakinan yang susah dipahaminya.
Memegang kepala orang lain sama dengan penghinaan. Penghinaan yang
bermuara kematian. Jawa, di mata Ma Huan, juga merupakan tempat dengan
penduduk lelakinya-dari usia tiga sampai seratus tahun-membawa pisau.
Saat itu, kapal yang ditumpangi Ma Huan bertolak dari Campa (kini
bagian dari Vietnam), berlabuh di Surabaya. Empat bulan armada Cheng Ho
merapat di kota itu, sebelum akhirnya mengangkat sauh pada Juli, ketika
angin bertiup ke Barat. Surabaya adalah landasan sebelum destinasi
mereka selanjutnya: Palembang, Sri Lanka, Kalkuta, Hormuz, dan
seterusnya.
Menurut catatan Ma Huan, Jawa yang sebelumnya dikenal sebagai
Shepo memiliki empat kota, tanpa dikelilingi dinding. Kapal mendarat di
Tupan (Tuban), lalu di kota yang bernama Desa Baru atau Koerhhsi
(Gresik), dan terakhir Sulumai (Surabaya). Setelah itu, rombongan sampai
ke Kota Manchepoi (Majapahit), tempat tinggal raja.
Ma Huan menggambarkan istana Majapahit bertembok bata, dengan
gerbang dua lapis. Rajanya berambut kusut, terkadang bermahkota daun
emas, tapi tanpa jubah, bertelanjang dada dan kaki. Ia hanya mengenakan
selembar atau dua lembar kain sutra dengan ikat pinggang, untuk
menyelipkan dua bilah pisau yang disebutnya pulatou.
Banyak cerita tentang Majapahit. Tapi, di luar catatan MaHuan
itu, jejak armada Cheng Ho hanya terdeteksi pada sepotong kayu aji,
balok kayu yang berwarna hitam. Willy Pangestu, ahli sejarah Cheng Ho di
Surabaya, merasa yakin itulah bagian dari ekspedisi. Kayu balok hitam
itu sudah dites di laboratorium Cina. Hasilnya, "Berkait dengan
masa-masa armada Cheng Ho singgah," kata Willy. "Kayu aji sekarang
disimpan di Kelenteng Mbah Ratu, Surabaya."
Kita memang hanya melihat bukti-bukti kehadiran Cheng Ho yang
terbatas: kayu aji di Surabaya, lonceng Cakra Donya di Banda Aceh,
jangkar di Semarang dan Tuban. Sejauh ini hubungan jangkar di Tuban dan
Semarang dengan Cheng Ho masih diragukan.
Bahkan Ma Huan sendiri tidak
menyebut Semarang sebagai salah satu titik singgah armada Cheng
Ho-begitu juga juru tulis Fei Xin dan Gong Zheng (lihat: Cheng Ho, oleh
Remy Silado). Bagaimana dengan lonceng Cakra Donya di Aceh? Kehadiran
armada Cheng Ho di Aceh sangat jelas dicatat dalam buku Ma Huan,
Ying-yai Sheng-lan. Ma menyebutnya Semudra, pertanda mereka berhubungan
dengan Kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-15.
Pada ekspedisi pertama, Cheng Ho berlabuh di Semudra (Lhok
Seumawe), Lambri (Aceh secara umum). Samudra dan Lambri tempat yang
selalu disinggahi dalam setiap ekspedisinya. Bahkan pada ekspedisi
ketujuh, ada catatan rinci. Pada 3 Agustus 1432, kapal mereka sampai di
Malaka dan kembali berlayar pada 2 September 1432. Sampai Sumentala atau
Samudra dekat Kuala Pasai, 12 September 1432. Kapal berlabuh di
Taluman, yang dalam catatan perjalanan Ibnu Battuta dalam Raja-raja
Pasai disebut Sarhi atau Sarha.
Tidak jelas letak Taluman sekarang. Ada perkiraan kapal-kapal
Cheng Ho merapat di Kuala Pedena di Desa Beringin, Kecamatan Samudra
Gedong. Namun, tidak ada sisa-sisa tetenger tertinggal di sana, karena
pelabuhan tersebut sudah tergerus air. Arus air memang bisa menghapus
bekas tempat berlabuh armada Cheng Ho.
Sejarawan Sumatera Selatan, Johan
Hanafia, menemui kesulitan untuk mengumpulkan bukti arkeologis Cheng Ho
di Palembang. Dan Palembang adalah Kukang, pelabuhan lama. Dan ciri
khas kota pelabuhan zaman dulu, semua bangunan berdiri di atas air.
Padahal bahan bangunan umumnya kayu, dan tidak akan bertahan hingga 100
tahun.
Nasib Palembang dan Aceh serupa. Keduanya sama-sama kekurangan
bukti kehadiran armada Cheng Ho, juga sama-sama pernah merasakan otot
kekuatan militer armada itu. Ada 63 kapal, dengan 28.560 orang awak
dalam ekspedisi ke empat.
Cheng Ho turun tangan ketika pemberontak bernama Sekander
(mungkin maksudnya Iskandar) sekonyong-konyong mengambil alih kekuasaan.
Di Nanking, kaisar Cina tidak senang melihat perubahan ini. Seraya
memerintahkan Zheng Ho mengembalikan takhta yang lepas dari tangan
Sultan Zainal Abidin (1420-1428).
Pasukan Cheng Ho terus memburu
Sekander, yang sudah kalah dan lari ke Lambri. Sekander bersama anak dan
istrinya dapat ditangkap hidup-hidup. Ketika ekspedisi pulang kampung,
Cheng Ho menyerahkan Sekander kepada kaisar. Kaisar Cina memutuskan:
eksekusi di hadapan publik buat sang pemberontak.
Samudra Pasai negeri yang mempunyai arti penting, dan perubahan
pemerintah bisa mengganggu kerja sama selama ini. Menurut Ali Akbar,
Penasihat Majelis Adat Aceh, Samudra Pasai istimewa karena, "Pasai bisa
menjadi pengekspor utama sutra."
Sebelum itu, pada ekspedisi pertama, Cheng Ho membersihkan jalur
Selat Bangka dan Selat Malaka dari perompak, sekaligus melindungi
komunitas kecil Tionghoa di sana. Sebelum armada Zheng Ho tiba di
Palembang, sudah banyak orang Cina tinggal di sana.
Termasuk Chen Tsu I,
bekas pendukung dinasti Mongol, rezim terdahulu, yang lari dengan tujuh
kapal dan menjadi perompak tangguh. Chen Tsu I menjadi ancaman setelah
pimpinan masyarakat Palembang, Shi Jingging, pergi ke Cina, melaporkan
kejahatan perompak itu.
Cheng Ho dikirim untuk menyelesaikan masalah. Ia mendekatinya
secara baik-baik, namun Cheng Tsu I justru menyerang. Pertempuran laut
yang hebat berkobar. Sekitar 5.000 orang terbunuh dan 17 kapal dibakar,
sedangkan Cheng Tsu I yang tak berdaya dibawa ke Nanking untuk dihukum.
Akibat pertempuran ini, ekspedisi terlambat tiga bulan. Cheng Ho kembali
ke Nanking pada 2 Oktober 1407, dan kaisar Cina menjatuhkan vonis mati
bagi perompak itu.
Dalam catatan Cheng Ho, Palembang "tempat perlindungan tua", juga
disebut SanFochi atau Polinpang. Negara ini berada di bawah kekuasaan
Chaowa (Jawa). Kapal-kapal dari segala penjuru merapat di pelabuhan yang
memiliki banyak tugu batu bata, untuk mendapatkan air segar.
Tapi,
untuk mencapai ibu kota, para pendatang harus menempuh muara dan
menggunakan kapal yang lebih kecil. Yang menarik, Ma Huan menggambarkan
rumah-rumah sungai yang dibangun di atas rakit kayu. Jika air pasang,
penduduk menggunakan tali untuk mencancang rumah rakit mereka ke
pinggiran sungai. Bila mereka bosan tinggal di satu tempat, rumah rakit
dengan mudah dipindah ke lokasi lain.
Palembang adalah kota tua. Prasasti Kedukan Bukit Kerajaan
Sriwijaya menunjuk tahun kelahirannya 682 Masehi. Artinya, Palembang
lebih tua daripada Bagdad (762 M) dan Kyoto (794 M). Sayangnya, "kota
tua" ini tak punya catatan sejarah antarwaktu. Bukti-bukti arkeologi
yang bisa menghubungkan dengan Palembang masa kini baru ditemukan pada
abad ke-18 dan 19. Johan Hanafiah, pembina adat Palembang, mengkritik
pengajaran sejarah yang cenderung mengingat Majapahit, melupakan
Sriwijaya. Jejak Cheng Ho tak terekam. "Waktu saya kecil, saya tidak
mendengar Sriwijaya, tapi Majapahit," katanya.
Gambaran sebaliknya tentang Majapahit bisa kita dapat dalam karya
Ma Huan. Ma Huan mencatat masyarakat Majapahit yang terbagi dalam tiga
kelas, yaitu muslim, Tang, dan penduduk asli. Kelompok muslim adalah
orang dari negara-negara Barat (Timur Tengah) yang semula pedagang dan
kemudian tinggal di Majapahit. Pakaian dan makanan mereka bersih.
Begitu
juga dengan Tang, para pendatang yang umumnya dari Tiongkok, dan banyak
masuk Islam. Sedangkan penduduk asli sangat buruk, berambut kusut dan
bertelanjang kaki. Mereka makan makanan aneh seperti ular, semut,
berbagai serangga dan cacing yang hanya dibakar. Penduduk Majapahit,
begitu ditulisnya, terbiasa tidur bersama anjing.
Ma Huan memang tak memiliki gambaran indah tentang Majapahit.
Tapi menurut catatan sejarah Cina, Cheng Ho punya keterkaitan cukup erat
dengan Majapahit. Pada 1407, sekitar 170 anak buah Cheng Ho dibunuh
pasukan Majapahit. Lalu, Dinasti Ming menuntut ganti rugi 60.000 liang
atau sekitar 22 kilogram emas.
Karena tuntutan tersebut tak dipenuhi,
tentara Cheng Ho pun menyerang Majapahit. Catatan tersebut dibuat
sebelum kematian Raja Wikramawardhana pada 1428. Tidak ada tulisan Ma
Huan tentang pembunuhan 170 anak buah Cheng Ho, karena Ma Huan memang
tidak ikut dalam ekspedisi pertama.
Tujuh ekspedisi Cheng Ho-dari pelayaran pertama 1405, dan
terakhir 1433-tentu berisi rangkaian program yang ambisius. Kontroversi
tentang motif ekspedisi tak kunjung selesai diperdebatkan: adakah itu
semacam gun boat diplomacy, sebagaimana dipraktekkan adikuasa dewasa
ini?
Sekadar salam damai yang bakal membuka simpul-simpul diplomasi dan
potensi perdagangan? Atau eksplorasi ilmiah yang ditunjang logistik
berskala besar, baik militer maupun nonmiliter? Usaha menjalin kerja
sama Cina dengan kerajaan-kerajaan Islam waktu itu untuk menghadapi
kekuatan Hindu lewat poros India-Siam-Jawa? Ataukah akumulasi semua
kepentingan itu?
Pengamat budaya Remy Silado menangkap "akibat" ekspedisi. Armada
Cheng Ho adalah armada yang mayoritas anggotanya pemuda, dan mereka
menghabiskan masa mudanya di tengah laut. Cheng Ho punya kebiasaan
meninggalkan beberapa anak buahnya di tempat-tempat yang disinggahi.
Mereka berbaur, kawin-mawin dengan masyarakat setempat. Mereka juga
mengajarkan ilmu tertentu, seperti teknik bercocok tanam dan menenun
benang dari ulat sutra.
"Perpisahan" dengan anak buah dianggap biasa saja hingga
peristiwa ketika berlabuh di Chialupa (Sunda Kelapa). Juru masak
kepercayaan Cheng Ho-karena ia muslim dan tidak akan memasukkan babi
dalam masakannya-Sam Poo Soei Soe, menikah dengan Tiwati, gadis
setempat, dan tinggal. Cheng Ho pun sedih. Hingga kini patung pasangan
pengantin juru masak dengan gadis Sunda Kelapa bisa dilihat di Wihara
Bahtra Bhakti di Ancol.
Ya, sejauh ini kita hanya mendengar "akibat" ekspedisi. Tapi,
dari pelbagai telaah, semua setuju bahwa Cheng Ho berkarakter kuat, dan
bernama asli Ma Ho. Ayahnya Ma Ha Ze, dan kakek buyutnya asli Bayan,
keturunan Mongol-Arab. Ma Ha Ze seorang haji. Ma Ho dikebiri kala
berusia 12 tahun, saat tentara Ming menyerbu tempat tinggalnya di
Provinsi Yunan. Ia dibawa ke Nanking, ibu kota, dan beberapa tahun
berselang berhasil menimbulkan kekaguman orang di sekitarnya. Ia pintar,
dan terbukti sebagai ahli strategi perang yang dahsyat.
Cheng Ho telah berlayar jauh, sangat jauh. Dalam pelayaran
terakhir, 1433, Cheng Ho membuat keputusan bersifat pribadi. Ia
memerintahkan armadanya menuju Mekah. Sama seperti ayahnya, di sana ia
menunaikan haji. Dua tahun kemudian, dalam perjalanan pulang, ia
meninggal dunia. Sebuah nisan besar didirikan di Nanking. Tapi para
sejarawan telah percaya, mayatnya ditenggelamkan di Laut Malabar.
Bagaimana halnya dengan Ma Huan?
Yang terang, ia berwawasan luas. Dan ia menulis beberapa buku
lain sesudah Ying-yai Sheng-lan. Ma Huan dikaruniai umur panjang. Ia
meninggal pada usia 80-an tahun.
Majalah Tempo 29 Agustus 2005
| Bina Bektiati, Imran MA. (Lhok Seumawe), Kukuh S. Wibowo (Surabaya), Arif Ardiansyah (Palembang), Sohirin (Semarang)



0 komentar:
Posting Komentar