Dua berita tentang tragisnya proses menjemput ajal akibat jiwa yang krisis kemarin menghiasi banyak media, terutama yang terbit di Jawa Timur. Dalam sehari dua orang melakukan aksi bunuh diri dengan cara eksentrik dan lain dari biasanya. Bukan gantung diri di kamar atau minum racun seperti yang sering kita dengar.
Di Probolinggo, Ahmad, seorang pekerja bagian kebersihan di sebuah rumah sakit, melakukan aksi bunuh diri dengan cara menggorok leher sendiri di jalan raya bagai atraksi debus. Meski mengerikan, terdapat aspek pertunjukan yang kuat karena punya unsur live!
Bunuh diri jelas menyakitkan. Tapi, melihat orang melakukannya dengan cara memotong leher sendiri sambil berjalan di jalan raya, seolah aksi tidak takut mati itu harus ditonton banyak orang, adalah pemandangan yang tidak kalah menyakitkannya.
Ketika leher telah disayat dan darah mengucur ke sekujur tubuh, Ahmad berjalan-jalan di depan ratusan penonton sambil mengacung-acungkan pisau. Memang aksi nekat Ahmad tak sampai membuat pria yang tinggal di Desa Jrebeng Lor, Kedopok, Probolinggo, itu kehilangan nyawa. Sebab, warga dan polisi berhasil merampas pisau dan segera melarikannya ke rumah sakit.
Masih di Jawa Timur, Armond Maulana, 34, juga mengakhiri hidup dengan cara terjun bebas dari papan reklame setinggi 30 meter. Mirip dengan aksi Ahmad, Armond juga melakukan aksi fatalnya dengan cara mempertunjukkan kepada ribuan penonton. Pria berambut gondrong asal Cakung, Jakarta Timur, itu menyedot banyak penonton karena terlebih dulu nangkring di atas billboard di tengah kompleks pertokoan hampir tiga jam. Setelah rayuan warga dan polisi tak berhasil membujuknya, Armond langsung membuat puncak "pertunjukan" dengan cara terjun bebas dengan posisi kepala di bawah hingga membentur aspal. Aksi pemungkas itu dia lakukan di tengah di tengah kerumunan penonton di siang hari.
Kita belum tahu latar belakang apa yang membuat kedua orang itu hingga bunuh diri dengan cara anehnya. Kalau karena persoalan, persoalannya serumit apa? Kalau karena krisis, krisisnya separah apa? Bunuh diri yang ditempuh kedua orang di atas jelas bukan jenis bunuh diri seperti yang sering kita dengar selama ini. Bedanya dengan mereka yang mengakhiri hidup dengan cara minum racun seranga di kamar, misalnya, Ahmad dan Armond cenderung ingin memamerkan aksi brutalnya. Tidak seperti mereka yang putus asa lalu gantung diri di kamar mandi, kedua pria ini cenderung membuat atraksi, meskipun kita tak tahu apa tujuan pamernya yang sesungguhnya.
Ini adalah fenomena masyarakat yang sedang sakit. Sakit yang diakibatkan banyak sebab, yang untuk mengurainya dibutuhkan banyak pendekatan. Kerusakan jiwa yang terjadi pada masyarakat sekarang ini tidak hanya disebabkan persoalan-persoalan ekonomi yang terus mengimpit. Memang, problem ekonomi masih menjadi penyebab paling tinggi hingga makin banyak orang stres, depresi, dan nekat.
Di Probolinggo, Ahmad, seorang pekerja bagian kebersihan di sebuah rumah sakit, melakukan aksi bunuh diri dengan cara menggorok leher sendiri di jalan raya bagai atraksi debus. Meski mengerikan, terdapat aspek pertunjukan yang kuat karena punya unsur live!
Bunuh diri jelas menyakitkan. Tapi, melihat orang melakukannya dengan cara memotong leher sendiri sambil berjalan di jalan raya, seolah aksi tidak takut mati itu harus ditonton banyak orang, adalah pemandangan yang tidak kalah menyakitkannya.
Ketika leher telah disayat dan darah mengucur ke sekujur tubuh, Ahmad berjalan-jalan di depan ratusan penonton sambil mengacung-acungkan pisau. Memang aksi nekat Ahmad tak sampai membuat pria yang tinggal di Desa Jrebeng Lor, Kedopok, Probolinggo, itu kehilangan nyawa. Sebab, warga dan polisi berhasil merampas pisau dan segera melarikannya ke rumah sakit.
Masih di Jawa Timur, Armond Maulana, 34, juga mengakhiri hidup dengan cara terjun bebas dari papan reklame setinggi 30 meter. Mirip dengan aksi Ahmad, Armond juga melakukan aksi fatalnya dengan cara mempertunjukkan kepada ribuan penonton. Pria berambut gondrong asal Cakung, Jakarta Timur, itu menyedot banyak penonton karena terlebih dulu nangkring di atas billboard di tengah kompleks pertokoan hampir tiga jam. Setelah rayuan warga dan polisi tak berhasil membujuknya, Armond langsung membuat puncak "pertunjukan" dengan cara terjun bebas dengan posisi kepala di bawah hingga membentur aspal. Aksi pemungkas itu dia lakukan di tengah di tengah kerumunan penonton di siang hari.
Kita belum tahu latar belakang apa yang membuat kedua orang itu hingga bunuh diri dengan cara anehnya. Kalau karena persoalan, persoalannya serumit apa? Kalau karena krisis, krisisnya separah apa? Bunuh diri yang ditempuh kedua orang di atas jelas bukan jenis bunuh diri seperti yang sering kita dengar selama ini. Bedanya dengan mereka yang mengakhiri hidup dengan cara minum racun seranga di kamar, misalnya, Ahmad dan Armond cenderung ingin memamerkan aksi brutalnya. Tidak seperti mereka yang putus asa lalu gantung diri di kamar mandi, kedua pria ini cenderung membuat atraksi, meskipun kita tak tahu apa tujuan pamernya yang sesungguhnya.
Ini adalah fenomena masyarakat yang sedang sakit. Sakit yang diakibatkan banyak sebab, yang untuk mengurainya dibutuhkan banyak pendekatan. Kerusakan jiwa yang terjadi pada masyarakat sekarang ini tidak hanya disebabkan persoalan-persoalan ekonomi yang terus mengimpit. Memang, problem ekonomi masih menjadi penyebab paling tinggi hingga makin banyak orang stres, depresi, dan nekat.
Sendi-sendi sosial, rapuhnya mental, dan rusaknya moral juga punya andil besar dalam mendorong orang untuk mengakhiri hidup dengan cara paling konyol. Krisis global menjadi pemicu paling populer di banyak negara untuk meregang nyawa dengan cara bunuh diri. Di negeri ini krisis ekonomi hanya satu di antara sekian banyak krisis yang bisa membuat rumitnya persoalan hingga orang kehilangan akal sehat dan memilih segera mengakhiri hidup.|AT/jpnn

0 komentar:
Posting Komentar