
Didalam hiruk pikuk kemenangan politik pada Pilkada 2006 dan Pemilu 2009; dan penggelembungan keuangan GAM (KPA/PA) yang ditandai dengan kemunculan toke-toke baru yang “steady” (bergaya), mengapa muncul sosok seperti Gambit. Mengapa manusia seperti Gambit muncul, padahal “tong politek” dan “tong uang” Aceh sudah dikuasai oleh golongan politik ini?
Jikalau Gambit menuntut keadilan, bukankah tinggal mengambilnya di “tong politek”? Jikalau Gambit menuntut kesejahteraan bagi anggota GAM, anak yatim dan para janda korban perjuangan, bukankah tinggal mengambilnya di “tong uang” yang telah di tangan golongan politiknya sendiri? Lalu, menghantarkannya dengan mobil-mobil yang bagus, yang mampu menjangkau hingga ke gunung hingga ke sebalik gunung? Akan tetapi, nampaknya, ada gejala sosial penting yang selama ini kurang diperhatikan.
Gambit yang nyata, sebagaimana ia sendiri telah katakan, adalah anggota KPA, sebuah organisasi yang menjadi wadah petempur di masa konflik. Ia menjadi petempur sejak 1999 melalui sebuah pelatihan. Ada peluru yang masih bersarang di tubuhnya, semakin membuktikan keabsahan dirinya sebagai seorang petempur. Ia juga memiliki kelompok sesama petempur, bahkan masih bisa memobilisasi sekitar 100 petempur. Lalu, yang dilupakan Gambit adalah untuk menyatakan, siapa panglima petempur dari Gambit?
Namun, hal yang nyata bahwa Gambit telah menjadi mentimun bengkok di dalam keranjang petempur yang disebut KPA. Tindakannya tidak sejalan dengan perjuangan politik KPA saat ini. Bahkan, Gambit telah menjadi musuh bersama bagi KPA dan kepolisian.
Gambit adalah sebuah fenomena sosial yang menarik. Ia menunjukkan sikap kepahlawanan untuk kesejahteraan dan keadilan bagi para petempur, anak yatim dan para janda korban peperangan, yang dia sendiri termasuk sebagai bagian dari para pihak. Sebenarnya, KPA tidak perlu “terlalu tipis daun telinganya”, sebab Gambit menyerang pemerintahan yang lalai terhadap keadilan dan kesejahteraan anak yatim dan janda. KPA juga tidak perlu terlalu terburu-buru untuk melontarkan Gambit keluar dari kawanan petempur, sebab ia menyatakan kesetiaannya pada PA sebagai alat perjuangan politik bagi rakyat Aceh.
Tindakan penyerangan yang dilakukan Gambit lebih ditujukan pada perseorangan anggota PA, baik yang duduk di parlemen maupun tidak. Hal ini adalah gaya Gambit memperingatkan kaum politiknya sendiri.
Fenomena Gambit sangat membantu dalam me-reka perkembangan sosial di Aceh pasca perang. Saya lebih tertarik untuk melihat Gambit secara simbolik, yakni sebagai akronim dari Gam Ubiet, yang merupakan lawan dari Gamyek (Gam Rayeuk).
Secara makro, ada fenomena umum yang menunjukkan kondisi ekonomi yang belum membaik di Aceh. Bahkan di Sumatera berada pada peringkat 3 dari bawah. Artinya, lapisan bawah dari piramida populasi Aceh relatif belum cukup tersentuh oleh kesejahteraan yang datang dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi.
Namun, ekonomi konsumtif bergerak naik sangat signifikan. Hal terakhir ini menjelaskan dua hal. Pertama, mempertegas kemunculan golongan ekonomi menengah atas baru di Aceh. Kedua, kehadiran mereka ditandai dengan gaya hidup yang sangat konsumtif.
Kondisi demikian juga berlaku dalam hirarki sosial golongan politik petempur itu sendiri.
Lapisan menengah ke atas, kesejahteraannya meningkat pesat, yang bisa dilihat dari kenderaan yang dipakai oleh mereka. Dari kenderaan roda dua, segera beralih ke Kijang Inova, lalu ke mobil yang lebih mewah. Pemilikan rumah mereka juga memberikan penjelasan dari betapa cepatnya kesejahteraan mereka melesat. Mereka juga semakin terasingkan dari lapisan sosial yang dahulu memberikan perlindungan. Mereka termasuk golongan sosial Gamyek.
Namun, fenomena itu membuat lapisan sosial menengah bawah petempur yang masih hidup ditengah-tengah masyarakat yang memberikan nasi bungkus pada mereka menjadi korban cemoohan masyarakat. Mereka harus menanggung malu dari perilaku Gamyek yang sangat demonstratif dalam menunjukkan peningkatan kesejahteraannya yang meroket.
Karena itu, petempur yang berada di dalam masyarakat berusaha dengan menyatakan apologi: bahwa perjuangan mereka adalah suci, dan memang ada oknum petempur yang sudah melupakan masyarakatnya. Mereka yang mencoba tetap berpegang pada adagium itu termasuk golongan sosial bawah yang dapat disebut sebagai Gambit di dalam golongan politik yang baru muncul ini.
Namun, karena lama kelamaan kesenjangan kesejahteraan di dalam golongan mereka sendiri semakin tajam, yakni antara Gamyek dan Gambit. Sementara masyarakat semakin berani menunjukkan sikap resistennya.
Maka dari golongan Gambit ini muncul semacam tindakan kontrol sosial, yakni Gambit yang memusuhi Gamyek yang dianggap korup, tidak perduli pada kesejahteraan “anak buah petempur” yang dulu melindungi mereka, serta mengabaikan anak yatim dan para janda yang sebagian adalah dari keluarga para petempur itu sendiri di samping masyarakat sipil kelas sosial bawah pada umumnya. Gambit tampil menjadi aktor-aktor sosial yang menegur perilaku Gamyek. “Saya hanya memberi peringatan kepada teman-teman lain agar tidak lupa kepada rakyatnya.”
Kita sangat nyakin Gambit-gambit akan semakin banyak tampil menjadi hero sosial, jika kondisi kesejahteraan semakin memburuk, dan gaya hidup Gamyek semakin konsumtif dan demonstratif. |AT/Yd/Modus
Penulis: Otto Syamsuddin Ishaq (Sosiolog In Acheh)

0 komentar:
Posting Komentar