News Update :

Semua Calon, Demi Bangsa Aceh [5 Penutup]

Rabu, 25 Mei 2011

Kini Tahun 2011 masa jabatan Gubernur dan beberapa bupati dan walikota beberapa kabupaten kota hampir habis masa jabatan. Pertempuran sengit kembali terjadi, kali ini tentunya berbeda dengan pertempuran sebelumnya. 

Dulu pertempuran melawan pasukan TNI dan Polri dengan peluru.  Tapi kini Partai Aceh bertempur di internal seperti persilisihan dengan Kelompok Irwandi, Sofyan Daod dan sejumlah petinggi lainnya juga dengan masyarakat yang kecewa. 

Di tengah pertempuran sengit itu, Partai Aceh tanpa tedeng aling-aling mengusung DR Zaini Abdullah dan Muzakkir manaf sebagai calon gubernur dan wakil dalam pemilukada ke depan.  Zaini Abdullah di kalangan GAM di sebut Mentroe, sementara Muzakkir di sebut Muallem atau Pelatih.

Tokoh GAM ini dulu tinggal di Swedia, beberapa waktu lalu ia kembali ke NKRI dan menjadi warga Negara Indonesia, begitu juga dengan Malek Mahmud yang sedang di gembar-gemborkan akan menjadi kandidat kuat Wali Nanggroe. 

Pencalonan Zaini Muzakkir yang semula di singkat dengan ZAIM, akhirnya berubah menjadi Zikir. Kembali mengulang kisah pemilukada 2006 lalu, dimana di internal Partai Aceh dan KPA organisasi mantan combatan itu terjadi kontraversi. 

Bahkan tersiar kabar, pendeklarasikan pasangan Zaini dan Muzakkir yang sangat cepat itu, untuk membendung gerak dan harapan Irwandi untuk mencalokan kembali sengai Gubernur lewat Partai Aceh. 

Kontra versi pun pecah, petinggi Partai Aceh mati-matian berjuang agar jalur independen dibatalkan untuk Aceh. Namun keinginan ini mengundang musuh yang lebih banyak bagi Partai Aceh sendiri, dimana sejumlah tokoh dan masyarakat yang mengerti akan mamfaat jalur independen dan alergi dengan kekuasaan partai politik memandang Jalur ini sangat penting ada di Aceh. 

Pertempuran media pun terjadi, kalangan pro independen dan masyarakat yang memahami tahta hukum di Indonesia melihat putusan MK adalah putusan mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Sementara partai Aceh Pusat ber-usaha agar jalur itu di hapuskan saja. 

Bahkan sampai ke lapangan sejumlah mantan combatan dan anggota Partai Aceh yang masih sangat setia terhadap peunutoh  [arahan,maklumat] petinggi yang pro pasangan DR Zaini –Muzakkir masih ada yang meyakini bahwa jalur Independen tidak ada di Aceh. 

Namun masyarakat yang sering membaca surat kabar, dan mau mendengarkan orang yang lebih mengerti hukum,  dan mengerti tentang tahta hukum, hanya meng-iyakan saja. “Ketimbang ribut’
Bahkan sejumlah masyarakat juga menganggap penentangan terhadap jalur idependen yang berlebihan itu, dianggap sebagai bentuk keserakahan dan tidak ingin ada “ Ayam Jantan lain “  karena untuk saat ini partai Aceh lah yang bisa dengan serta merta mengajukan calon Gubernur  karena porsi perolehan kursi di DPRA.

Namun penentangan dari partai Aceh itu sepertinya sia-sia saja,  karena berkat usaha empat warga Aceh yang menggugat pasal itu ke Mahkamah Kontitusi di Jakarta,  akhirnya ketentuan itu berubah dan MK mengabulkan bahwa jalur Independen masih berlaku hingga saat ini di Aceh.

Perseteruan antara Irwandi dan petinggi Partai Aceh dan KPA di Pusat itu menjadi tontonan baru di Aceh, berbagai insiden aneh –aneh pun terjadi. Sejumlah mantan combatan atau yang memegang jabatan baik di partai maupun di KPA yang dianggap oleh KPA pusat tidak mendukung pasangan DR Zaini di pecat. 

Seperti Linggadinsyah petinggi GAM dari Tanah Gayo, Muksalmina petinggi GAM Aceh Rayeuk. Saiful Alias Cage petinggi GAM di Bireun yang mundur karena menganggap Partai Aceh tidak demokrasi dalam menentukan calon Gubernur. Dan sejumlah mantan GAm juga banyak berpihak kepada kelompok yang di pecat ini,  walaupun secara diam-diam. 

Dan kejadian terbaru, penggeseran posisi Tengku Sanusi sebagai ketua partai Aceh  di Pereulak Aceh Timur. Penggantian posisi ini juga di duga terkait dengan sikap bijaksana Abu Sanusi dalam menjalankan partai. Abu Sanusi tidak mau dengan serta merta tunduk sesuai keinginan hati petinggi Partai Aceh, tapi dia memilih berdasarkan aturan yang berlaku. Bahkan dia juga di anggap mendukung Irwandi Yusuf. 

Kejadian pecat memecat ini menambah catatan buruk, bertambah lagi  berbagai kejadian lain, seperti pemukulan wartawan di Pidie. Belum lagi sikap individual yang di pertontonkan di masyarakat, soal proyek,dll. Di kalangan internal juga terjadi kesenjangan yang luar biasa, kesenjangan yang sangat jelas terjadi sesama pasukan, penjaga Radio. 

Dimana ada sebagian yang kini bisa menikmati hidup dengan kemewahan, sementara kebanyakan yang lain, jangankan untuk memakai mobil, untuk susu anaknya pun tak sanggup di beli.
Di tataran lain adalah dengan pendukung, seperti yang menyembunyikan mereka saat konflik dulu, pengantar obat, pengantar nasi, dan pengirim pulsa. Untuk masyarakat yang kategori ini juga menyimpan kekecewaan yang luar biasa. Pasalnya mereka dulunya menganggap bahwa perjuangan ini untuk kesejahteraan semua, tapi ternyata tidak. 

“Jangankan di kasih bantuan, kenal pun tidak lagi, waktu jumpa kek tidak kenal lagi,” begitulah ungkapan-ungkapan di masyarakat.

Bagi anggota yang memiliki hirarki jabatan juga banyak di temukan hal serupa. Terkadang ada anggota yang memiliki kesulitan, dan hendak menghubungi sang komandan, namun jawaban di balik telpon seluler bukan seperti yang di harapkan. 

“Saya lagi di luar kota,namun tak berapa lama, mobil meluncur di hadapan kita,”  sang anak buahpun bersabar, mungkin ini takdir yang harus di terima sekarang. 

Masih ada terdengar yang lain, perubahan hidup atau berdirinya rumah mewah yang cepat secepat kilat bagi sebagian pejuang, juga menimbulkan kritikan dari para anggota yang masih hidupnya mencret. 
Mungkin  apa yang sudah terpaparkan diatas adalah harapan yang berlebihan, namun diakui atau tidak itulah yang terjadi, dan itulah yang di temukan di berbagai sudut Aceh sekarang.

Kini, pasangan di usung Partai Aceh dalam berbagai kesempatan terutama kunjungan Maulid ke berbagai daerah,   Namun kemeriahan kunjungan petinggi GAM kali ini sepertinya secara perlahan meredup dari antusiasme warga, tidak layaknya seperti diawal awal damai berlangsung di Aceh . Entah Kenapa? 

Dalam berbagai kesempatan kunjungan, DR Zaini Abdullah di hadapan para undangan yang hadir menyatakan akan maju sebagai calon Gubernur, bertujuan  demi kesejahteraan Aceh Kedepan.
Sementara Mentro Malik yang juga selalu mendampingi,  sering menyatakan Aceh ini sangat makmur dengan hasil Alam, namun masyarakat masih miskin. Kemiskinan ini menurut dia karena pusat belum adil terhadap Aceh ? 

Di lapangan juga sering kita dengarkan karena DR Zaini yang tanda tangan MOU, maka dia akan membereskan MOU setelah terpilih menjadi Gubernur ? 
Tapi masyarakat di Aceh sepertinya tidak sanggup meneropong hingga jauh sampai ke Jakarta, masih adil atau tidak pusat itu urusan lain,  bagi masyarakat awam yang saat ini sedang di landa Paceklik di sektor ekonomi, hanya meluhat yang jelas-jelas saja. 
Untuk saat ini memang kandidat dari Partai Aceh  merupakan salah satu calon yang  sangat mahal modal politiknya, bayangkan GAM berjuang sejak tahun   1976 hingga 2005 baru tercapai perdamaian. Kini para kandidat dan pengusung  terlihat berkunjung kemana-mana.  begitu juga dengan calon kandidat lain, seperti Irwandi Yusuf,  juga berkunjung ke daerah-daerah baik secara dinas sebagai Gubernur maupun secara pribadi. 

Muhammad Nazar yang juga kelihatan sangat bernafsu untuk naik sebagai Gubernur, juga tidak kalah gesit, ia sejak lama sudah membentuk   puluhan nama tim ses,  seperti Muhammad Nazar Centre
[MNC], Baranadi dll. Sementara calon  lain yang di isukan juga mencalonkan diri, seperti  Tarmizi Karim terlihat meredup, begitu juga calon lainnya. 

Pemilukada sudah di depan mata, tentunya cap jempol masyarakat sangat menentukan terpilih atau tidak seorang kandidat.  Semuanya terserah masyarakat mau memilih siapa baik calon yang di usung Partai Aceh, Partai nasional, Partai gabungan maupun Jalur Independen.  

Tentunya mereka punya barometer tersendiri dalam menilai, dan tergantung sisi mana yang akan dinilai. Mana yang dianggap “enak dan menyenangkan tentunya kesana masyarakat akan memilih. 
Masyarakat Aceh di zaman ini juga sepertinya hanya melihat yang dekat dan yang terjadi didepan mata. 

Sinyal masyarakat tidak begitu kuat  untuk memimpikan yang terlalu muluk-muluk dan aneh –aneh serta mimpi-mimpi, apalagi "sinyal" masyarakat banyak  yang sudah terputus disambar “Petir –Petir” yang mereka tontonkan selama ini.| Tamat

Penulis adalah Muhammad Al Hariri
[Coba mengamati apa yang terjadi di Aceh saat ini]
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016