Kini Tahun 2011 masa jabatan Gubernur
dan beberapa bupati dan walikota beberapa kabupaten kota hampir habis masa
jabatan. Pertempuran sengit kembali terjadi, kali ini tentunya berbeda dengan
pertempuran sebelumnya.
Dulu pertempuran melawan pasukan TNI dan
Polri dengan peluru. Tapi kini Partai
Aceh bertempur di internal seperti persilisihan dengan Kelompok Irwandi, Sofyan
Daod dan sejumlah petinggi lainnya juga dengan masyarakat yang kecewa.
Di tengah pertempuran sengit itu, Partai
Aceh tanpa tedeng aling-aling mengusung DR Zaini Abdullah dan Muzakkir manaf
sebagai calon gubernur dan wakil dalam pemilukada ke depan. Zaini Abdullah di kalangan GAM di sebut
Mentroe, sementara Muzakkir di sebut Muallem atau Pelatih.
Tokoh GAM ini dulu tinggal di Swedia,
beberapa waktu lalu ia kembali ke NKRI dan menjadi warga Negara Indonesia,
begitu juga dengan Malek Mahmud yang sedang di gembar-gemborkan akan menjadi
kandidat kuat Wali Nanggroe.
Pencalonan Zaini Muzakkir yang semula di
singkat dengan ZAIM, akhirnya berubah menjadi Zikir. Kembali mengulang kisah
pemilukada 2006 lalu, dimana di internal Partai Aceh dan KPA organisasi mantan
combatan itu terjadi kontraversi.
Bahkan tersiar kabar, pendeklarasikan pasangan
Zaini dan Muzakkir yang sangat cepat itu, untuk membendung gerak dan harapan
Irwandi untuk mencalokan kembali sengai Gubernur lewat Partai Aceh.
Kontra versi pun pecah, petinggi Partai
Aceh mati-matian berjuang agar jalur independen dibatalkan untuk Aceh. Namun keinginan
ini mengundang musuh yang lebih banyak bagi Partai Aceh sendiri, dimana
sejumlah tokoh dan masyarakat yang mengerti akan mamfaat jalur independen dan
alergi dengan kekuasaan partai politik memandang Jalur ini sangat penting ada
di Aceh.
Pertempuran media pun terjadi, kalangan
pro independen dan masyarakat yang memahami tahta hukum di Indonesia melihat
putusan MK adalah putusan mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Sementara
partai Aceh Pusat ber-usaha agar jalur itu di hapuskan saja.
Bahkan sampai ke lapangan sejumlah
mantan combatan dan anggota Partai Aceh yang masih sangat setia terhadap
peunutoh [arahan,maklumat] petinggi yang
pro pasangan DR Zaini –Muzakkir masih ada yang meyakini bahwa jalur Independen
tidak ada di Aceh.
Namun masyarakat yang sering membaca
surat kabar, dan mau mendengarkan orang yang lebih mengerti hukum, dan mengerti tentang tahta hukum, hanya
meng-iyakan saja. “Ketimbang ribut’
Bahkan sejumlah masyarakat juga
menganggap penentangan terhadap jalur idependen yang berlebihan itu, dianggap
sebagai bentuk keserakahan dan tidak ingin ada “ Ayam Jantan lain “ karena untuk saat ini partai Aceh lah yang
bisa dengan serta merta mengajukan calon Gubernur karena porsi perolehan kursi di DPRA.
Namun penentangan dari partai Aceh itu
sepertinya sia-sia saja, karena berkat
usaha empat warga Aceh yang menggugat pasal itu ke Mahkamah Kontitusi di
Jakarta, akhirnya ketentuan itu berubah
dan MK mengabulkan bahwa jalur Independen masih berlaku hingga saat ini di
Aceh.
Perseteruan antara Irwandi dan petinggi
Partai Aceh dan KPA di Pusat itu menjadi tontonan baru di Aceh, berbagai
insiden aneh –aneh pun terjadi. Sejumlah mantan combatan atau yang memegang
jabatan baik di partai maupun di KPA yang dianggap oleh KPA pusat tidak
mendukung pasangan DR Zaini di pecat.
Seperti Linggadinsyah petinggi GAM dari
Tanah Gayo, Muksalmina petinggi GAM Aceh Rayeuk. Saiful Alias Cage petinggi GAM
di Bireun yang mundur karena menganggap Partai Aceh tidak demokrasi dalam menentukan
calon Gubernur. Dan sejumlah mantan GAm juga banyak berpihak kepada kelompok
yang di pecat ini, walaupun secara
diam-diam.
Dan kejadian terbaru, penggeseran posisi
Tengku Sanusi sebagai ketua partai Aceh
di Pereulak Aceh Timur. Penggantian posisi ini juga di duga terkait
dengan sikap bijaksana Abu Sanusi dalam menjalankan partai. Abu Sanusi tidak
mau dengan serta merta tunduk sesuai keinginan hati petinggi Partai Aceh, tapi
dia memilih berdasarkan aturan yang berlaku. Bahkan dia juga di anggap mendukung
Irwandi Yusuf.
Kejadian pecat memecat ini menambah
catatan buruk, bertambah lagi berbagai
kejadian lain, seperti pemukulan wartawan di Pidie. Belum lagi sikap individual
yang di pertontonkan di masyarakat, soal proyek,dll. Di kalangan internal juga
terjadi kesenjangan yang luar biasa, kesenjangan yang sangat jelas terjadi
sesama pasukan, penjaga Radio.
Dimana ada sebagian yang kini bisa
menikmati hidup dengan kemewahan, sementara kebanyakan yang lain, jangankan
untuk memakai mobil, untuk susu anaknya pun tak sanggup di beli.
Di tataran lain adalah dengan pendukung,
seperti yang menyembunyikan mereka saat konflik dulu, pengantar obat, pengantar
nasi, dan pengirim pulsa. Untuk masyarakat yang kategori ini juga menyimpan
kekecewaan yang luar biasa. Pasalnya mereka dulunya menganggap bahwa perjuangan
ini untuk kesejahteraan semua, tapi ternyata tidak.
“Jangankan di kasih bantuan, kenal pun
tidak lagi, waktu jumpa kek tidak kenal lagi,” begitulah ungkapan-ungkapan di
masyarakat.
Bagi anggota yang memiliki hirarki
jabatan juga banyak di temukan hal serupa. Terkadang ada anggota yang memiliki
kesulitan, dan hendak menghubungi sang komandan, namun jawaban di balik telpon
seluler bukan seperti yang di harapkan.
“Saya lagi di luar kota,namun tak berapa
lama, mobil meluncur di hadapan kita,”
sang anak buahpun bersabar, mungkin ini takdir yang harus di terima
sekarang.
Masih ada terdengar yang lain, perubahan
hidup atau berdirinya rumah mewah yang cepat secepat kilat bagi sebagian
pejuang, juga menimbulkan kritikan dari para anggota yang masih hidupnya
mencret.
Mungkin
apa yang sudah terpaparkan diatas adalah harapan yang berlebihan, namun
diakui atau tidak itulah yang terjadi, dan itulah yang di temukan di berbagai
sudut Aceh sekarang.
Kini, pasangan di usung Partai Aceh
dalam berbagai kesempatan terutama kunjungan Maulid ke berbagai daerah, Namun
kemeriahan kunjungan petinggi GAM kali ini sepertinya secara perlahan meredup dari
antusiasme warga, tidak layaknya seperti diawal awal damai berlangsung di Aceh .
Entah Kenapa?
Dalam berbagai kesempatan kunjungan, DR
Zaini Abdullah di hadapan para undangan yang hadir menyatakan akan maju sebagai
calon Gubernur, bertujuan demi kesejahteraan
Aceh Kedepan.
Sementara Mentro Malik yang juga selalu
mendampingi, sering menyatakan Aceh ini
sangat makmur dengan hasil Alam, namun masyarakat masih miskin. Kemiskinan ini
menurut dia karena pusat belum adil terhadap Aceh ?
Di lapangan juga sering kita dengarkan
karena DR Zaini yang tanda tangan MOU, maka dia akan membereskan MOU setelah
terpilih menjadi Gubernur ?
Tapi masyarakat di Aceh sepertinya tidak
sanggup meneropong hingga jauh sampai ke Jakarta, masih adil atau tidak pusat
itu urusan lain, bagi masyarakat awam yang
saat ini sedang di landa Paceklik di sektor ekonomi, hanya meluhat yang
jelas-jelas saja.
Untuk saat ini memang kandidat dari
Partai Aceh merupakan salah satu calon yang sangat mahal modal politiknya, bayangkan GAM berjuang sejak tahun 1976
hingga 2005 baru tercapai perdamaian. Kini para kandidat dan pengusung terlihat berkunjung kemana-mana. begitu juga dengan calon kandidat lain, seperti Irwandi Yusuf, juga berkunjung ke daerah-daerah baik secara dinas sebagai Gubernur maupun secara pribadi.
Muhammad Nazar yang juga kelihatan sangat bernafsu untuk naik sebagai Gubernur, juga tidak kalah gesit, ia sejak lama sudah membentuk puluhan nama tim ses, seperti Muhammad Nazar Centre
[MNC], Baranadi dll. Sementara calon lain yang di isukan juga mencalonkan diri, seperti Tarmizi Karim terlihat meredup, begitu juga calon lainnya.
Muhammad Nazar yang juga kelihatan sangat bernafsu untuk naik sebagai Gubernur, juga tidak kalah gesit, ia sejak lama sudah membentuk puluhan nama tim ses, seperti Muhammad Nazar Centre
[MNC], Baranadi dll. Sementara calon lain yang di isukan juga mencalonkan diri, seperti Tarmizi Karim terlihat meredup, begitu juga calon lainnya.
Pemilukada sudah di depan mata, tentunya
cap jempol masyarakat sangat menentukan terpilih atau tidak seorang kandidat. Semuanya terserah masyarakat mau memilih siapa
baik calon yang di usung Partai Aceh, Partai nasional, Partai gabungan maupun
Jalur Independen.
Tentunya mereka punya barometer
tersendiri dalam menilai, dan tergantung sisi mana yang akan dinilai. Mana yang
dianggap “enak dan menyenangkan tentunya kesana masyarakat akan memilih.
Masyarakat Aceh di zaman ini juga
sepertinya hanya melihat yang dekat dan yang terjadi didepan mata.
Sinyal masyarakat tidak begitu kuat untuk memimpikan yang terlalu muluk-muluk dan aneh –aneh serta mimpi-mimpi, apalagi "sinyal" masyarakat banyak yang sudah terputus disambar “Petir –Petir” yang mereka tontonkan selama ini.| Tamat
Sinyal masyarakat tidak begitu kuat untuk memimpikan yang terlalu muluk-muluk dan aneh –aneh serta mimpi-mimpi, apalagi "sinyal" masyarakat banyak yang sudah terputus disambar “Petir –Petir” yang mereka tontonkan selama ini.| Tamat
Penulis
adalah Muhammad Al Hariri
[Coba mengamati apa yang terjadi
di Aceh saat ini]

0 komentar:
Posting Komentar