News Update :

Kilas Silam : Menawarkan kondom dan asrama AIDS

Rabu, 25 Mei 2011

DI depan puluhan penonton, ia memasukkan kondom ke dalam mulutnya. Lalu, dengan luwes, tanpa malu-malu, pelacur Gang Dolly Surabaya ini mengulum alat peraga berbentuk kemaluan lelaki. 

Dan, hop! Waitje, sebut saja begitu, meniup sarung karet itu. Hasilnya, penis buatan tadi sudah berjaket rapi! Hadirin bertepuk riuh. 

Waitje bukan lagi memperkenalkan teknik baru dalam berhubungan seks -- kalau cuma layanan seperti itu, sih, mereka telah kenal betul. Di depan teman-teman sekerjanya, Waitje sedang mendemonstrasikan cara memasang kondom yang aman, tapi tak mengganggu kenikmatan pelanggan. 

Maklum, dalam dunia bisnis seks, masalah kenyamanan tampaknya amat penting. Seperti pengalaman Waitje, banyak tamu yang malah tersinggung ketika disodori sarman alias sarung pengaman itu. Tapi kini, berkat jurus "kondom karaoke" tadi, mereka tak perlu lagi takut kehilangan pelanggan. 

Malah, "Tamu-tamu tambah deras mengalir," katanya. Yang dikejar Waitje dkk. pasti bukan soal ramainya pengunjung. Dalam dua bulan ini, ia dan sejumlah temannya gencar mengampanyekan bahaya penularan AIDS di kawasan Dolly. Hasilnya, diperkirakan lebih dari 500 pelacur di sana tangkas merekatkan kondom tanpa sungkan. 

Andai keterampilan ini betul- betul dijalankan dalam pelayanan seksual mereka sehari-hari, tak bisa dihitung lagi berapa banyak kemungkinan penularan virus HIV bisa dicegah. Apa yang dilakukan Waitje dan kawan-kawannya tadi hanyalah satu contoh bagaimana lembaga swadaya masyarakat (LSM) ikut peduli dalam soal mencegah sindrom hilangnya kekebalan tubuh alias AIDS itu. Belakangan ini, keterlibatan LSM dalam soal AIDS sedang marak di mana-mana. 

Kegiatannya macam-macam. Dari yang sekadar melayani pertanyaan lewat hot line services, menyebarkan kondom, menyumbang obat-obatan gratis, sampai aktif melatih bagaimana hidup bersama penderita. Bahkan ada yang menangani langsung perawatannya. 

Misalnya, Kelompok Kerja Gay Nusantara (KKGN) di Surabaya dan Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) di Denpasar. Persoalannya, mencari orang yang sukarela merawat penderita AIDS tentu tak mudah. Maklum, sejumlah kejadian menunjukkan betapa para penderita itu seperti jadi momok yang menakutkan. 

Lagi pula, para pekerja sosial itu kadang kala harus menghadapi pandangan yang melecehkan dari sebagian orang. Tak jarang, "Jika anggota wanita kami bertugas, malah dikira pelacurnya," kata Dede Oetomo, Ketua KKGN. Dan, betapapun kecilnya, pekerjaan mereka tetap berisiko. 

Padahal, kehadiran kelompok "penampung" ini agaknya sudah mendesak. Korban yang terserempet virus HIV makin banyak (data terakhir ada 213 penderita di Indonesia). Laju pertumbuhannya pun dirasakan semakin cepat. Sementara itu, seperti diakui dokter yang merawat banyak pasien AIDS di RSCM Jakarta, Zubairi Djoerban, daya tampung rumah sakit masih terbatas. 

Belum lagi kalau mengingat banyaknya keluarga penderita yang keberatan menerima kembali mereka yang terjangkit AIDS. Barangkali karena itu juga, sebuah LSM AIDS di Jakarta berniat membangun shelter, tempat perawatan -- setidaknya untuk sementara -- bagi para penderita. LSM itu, namanya Yayasan Pelita Ilmu, baru saja usai melakukan sebuah studi penjajakan ke Australia dan Thailand. 

Kegiatan ini akan menghabiskan dana sekitar Rp 750 juta. Tapi, lepas dari apa pun yang telah dicapai, kehadiran LSM- LSM ini terasa agak menenteramkan. Setidaknya, mereka dianggap mampu menambal keterbatasan pemerintah akibat langkanya dana. Tak bisa dimungkiri, beban pemerintah terlalu berat kalau harus menangani persoalan AIDS sendirian. Untuk memeriksa sampel darah mereka yang berisiko tinggi saja, tak sedikit dana yang harus dikeluarkan. 

Hitung saja. Menurut laporan Departemen Sosial, kini ada sekitar 120 ribu pelacur yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini data resmi, belum termasuk mereka yang praktek gelap- gelapan: perempuan panggilan, gigolo, atau pramuseks lainnya. Untuk menguji darah yang sebagian itu saja, dengan tes Elisa, setidaknya diperlukan Rp 5,5 miliar. Belum lagi kalau harus dilanjutkan dengan Western Blot. Kantong harus dirogoh lebih dalam, setidaknya Rp 30 miliar. 

Kasus Bali dapat menjadi contoh betapa beratnya beban itu. Provinsi ini tidak hanya menduduki tempat ketiga terbesar di Indonesia dalam jumlah penderitanya. 

Di Pulau Dewata ini pula, peluang merebaknya virus HIV boleh jadi paling besar lantaran suburnya bisnis pelancongan dan pelayanan seks komersial. Tapi, Departemen Kesehatan hanya bisa menguji sebagian darah pelacur dan sopir truk jarak jauh. 

Soalnya, "Kami tak punya dana khusus AIDS," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali, I Dewa Putu Sudana. Barangkali lantaran sampelnya terbatas, virus HIV yang terjaring juga cuma satu orang. 

Untung, Yayasan Citra Usadha Indonesia, dengan dukungan dana luar negeri, menguji darah kelompok berisiko tinggi lainnya. Hasilnya, ditemukan enam orang kena HIV. Di samping membantu dana, LSM juga bisa lebih luwes.

Dalam kampanye kondom di Gang Dolly tadi misalnya. Tak bisa dibayangkan, andai yang datang satu truk pegawai Kota Madya Surabaya, lengkap dengan seragam hansip dan seperangkat atributnya. 

"Pasti bubar, karena dipikir ada oprakan (razia)," kata Dede Oetomo. Tentu, tak semuanya digantungkan pada LSM. Banyak yang harus ditangani pemerintah. Yang paling mendesak: deregulasi perdagangan obat penderita AIDS, yang hingga kini masih harus diimpor.
|Majalah Tempo 28 Mei 1994 silam.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016