News Update :

Kilas Silam : Bisnis Seks Di Aceh Bukan Wanita Komersial Biasa

Rabu, 25 Mei 2011

Banda Aceh - Hampir setiap jam telepon genggam Sherly berdering. Bahkan saatmalam tiba semakin sering saja, hingga hitungan menit, ada saja orang yang menghubunginya.

"Biasanya yang telepon para pelanggan yang minta dicarikan teman berkencan," jelas Sherly saat berbincang dengan detikcom di sebuah kedai di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sherly adalah seorang waria yang sehari-hari berkerja di salah satu salon di
wilayah Peunayong, Banda Aceh. Rupanya, selain ahli menata rambut dan merias
wajah, Sherly punya kerjaan sampingan sebagai mucikari. Ia mengurusi
setidaknya 26 wanita dari berbagai lapisan, ada pelajar, mahasiswi, maupun ibu
rumah tangga yang bisa diajak berkencan.

Sambil berpromosi, Sherly kemudian memberikan telepon genggamnya yang berisi
foto-foto wanita 'binaan'-nya. Omongan Sherly ternyata bukan isapan jempol
belaka. Ketika detikcom membuka-buka folder foto yang ada di selulernya,
terlihat foto-foto wanita cantik dengan pose yang beragam. Rata-rata usianya
di bawah 30-an. Bahkan ada juga seorang gadis muda yang mengenakan seragam
SMU.

Menurutnya, untuk gadis yang satu ini agak spesial karena banyak peminatnya.
Tak heran bila ingin berkencan dengan gadis yang diakuinya masih duduk di
kelas 1 SMU itu, pelanggan harus memesannya jauh-jauh hari.

Paling tidak, kata Sherly, pelanggan harus memesan tiga hari sebelum waktu
berkencan. Harga yang ditawarkan Sherly untuk gadis SMU ini juga agak spesial,
yakni Rp 1 juta untuk sekali kencan. Bila ingin membooking semalaman harganya
lebih tinggi lagi tentunya.

Gadis-gadis 'binaan' Sherly umumnya memang spesial. Mereka tidak seperti
pekerja seks komersial (PSK) biasa karena tidak setiap waktu pria hidung
belang bisa berkencan dengan wanita-wanita tersebut. "Mereka mau melayani
pelanggan jika memang butuh uang. Kalau tidak butuh atau sedang tidak ada
waktu mereka bisa menolak diajak kencan," jelas Sherly.

Perkataan Sherly itu dibenarkan Monik, sebut saja namanya demikian, salah
seorang PSK 'binaan' Sherly yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi
semester VI di sebuah universitas di Banda Aceh. Kata Monik, ia hanya mau
melayani kencan kalau memang sedang butuh uang. "Kalau ada uang buat apalah
layani kencan," katanya dengan logat Aceh yang kental.

Monik bercerita, ia terpaksa nyambi sebagai wanita panggilan untuk menutupi
biaya kuliah maupun biaya hidup. Soalnya gadis asal Lhokseumawe ini hidup
mandiri di Banda Aceh. Ia kos di wilayah Darussalam. Sebenarnya, kata Monik,
orang tuanya rutin mengirimkan uang untuk biaya kuliah, sewa kamar kos, makan,
dan lain-lain. Tapi bagi Monik uang yang dikirim tersebut dianggap belum
cukup.

Soalnya, kata Monik, untuk menutupi ongkos gaulnya sangat tinggi. Setidaknya
hampir setiap malam ia kumpul-kumpul bersama teman-teman di kafe atau
kedai-kedai yang tersebar di Banda Aceh. "Belum untuk beli pakaian dan pulsa
Bang," imbuh gadis berusia 22 tahun tersebut saat ditemui detikcom di lounge
Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Nah, ketika ia sedang rebonding di sebuah salon di wilayah Peunayong, ia
membicarakan hal itu kepada Sherly yang sedang merawat rambutnya itu. Di
tengah pembicaraan, Sherly kemudian melontarkan sebuah gagasan, yakni
menyarankan agar Monik mendekati pria berduit. "Hanya untuk iseng-iseng saja,"
ujar Monik menirukan ucapan Sherly waktu itu.

Awalnya ia menganggap obrolan itu sambil lalu belaka. Tapi beberapa hari
setelah pertemuan dengan Sherly, Monik ternyata menimbang-nimbang usulan itu.
Seminggu berselang, ia malah datang lagi ke salon tempat Sherly bekerja, untuk
menanyakan usulan Sherly waktu itu.

Sherly yang sudah enam tahun berprofesi sebagai mucikari tentu tidak merasa
kesulitan. Ia banyak mengenal sejumlah pria dari beragam kalangan di Banda
Aceh. Buktinya, tidak berapa lama ia menghubungi beberapa nomer telepon, Monik
sudah dapat pelanggan. Monik yang mengaku sudah kehilangan kegadisannya oleh
teman sekampusnya kemudian diminta datang ke Hotel Sultan. Di hotel itulah
Monik melakukan hubungan intim dengan pria selain pacarnya.

Menutupi Biaya Hidup Tinggi

Kisah Monik hampir serupa dengan para wanita yang jadi 'binaan' Sherly. Mereka
umumnya memilih melayani pria hidung belang dengan dalih menutupi biaya hidup
yang tinggi di Banda Aceh. Namun meski tamu-tamu mereka kebanyakan berasal
dari relasi Sherly, bukan berarti mereka tidak bisa berkencan di luar kenalan
sang mucikari.

Seperti dikatakan Sherly, hubungannya dengan mereka tidak terikat. Jadi kalau
mereka butuh uang akan menghubungi Sherly. Begitupun sebaliknya, Sherly akan
menghubungi salah satu diantara mereka bila ada relasinya yang meminta layanan
kencan.

Dengan kata lain, otoritas Sherly terhadap PSK binaanya tidaklah mutlak. Sebab
fungsi waria asal Medan ini tidak lebih sebagai perantara. Adapun keputusan
harga atau kesiapan melayani ada di tangan PSK tersebut. Untuk harga per
sekali kencan, tarif mereka berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung
negosiasi.

Jika harga sepakat, Sherly hanya mendapatkan komisi dari relasinya atau PSK
tersebut. "Paling-paling saya dapat komisi sekadar untuk mengganti pulsa saja
dan transportasi," ujar Sherly tanpa menyebut angka komisi yang ia dapatkan.
Tapi biasanya, lanjut Sherly, para PSK itu akan memberikan persenan paling
tidak 20 persen dari bayaran mereka.

Komisi itu sudah termasuk jasa untuk mengamankan PSK atau pelanggan dari
operasi Wilayatul Hisbah (polisi syariat Aceh). Sebab, kata Sherly, dirinya
banyak mengenal oknum TNI/Polri maupun WH di Banda Aceh. "Kalau ditangkap WH
bilang saja ke saya. Nanti saya yang urus," jelas Sherly sambil menunjukkan
foto-fotonya bersama beberapa pria berambut cepak.

Pastinya Sherly merasa enjoy dan aman-aman saja melakukan bisnis sampingannya
sebagai mucikari di daerah yang menerapkan syariat Islam. Alasannya, semua
aturan yang ada dapat diatasi dengan uang. Apalagi omset yang ia dapat sangat
lumayan. Sebab dalam sehari-semalam, paling sedikit lima PSK 'binaan'-nya
dapat pelanggan.

Untuk menjaga omsetnya, Sherly gencar melakukan pendekatan pada
karyawan-karyawan hotel yang ada di Banda Aceh. Langkah Ini sebagai upaya
memeperluas jaringan pelanggan. Paling tidak, trafik permintaan layanan kencan
dari pria hidung belang bisa tetap terjaga. | Detik.com 26/06/2008


Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016