New York - Managing
Director Badan Moneter Internasional (IMF), Dominique Strauss-Kahn,
ditangkap polisi dengan tuduhan kekerasan seksual terhadap seorang
pekerja hotel di New York. Juru bicara kepolisian New York, Paul Browne,
mengatakan Strauss-Kahn diciduk ketika hendak terbang ke Paris dari
Bandara Internasional John F. Kennedy pada Sabtu sore. Strauss-Kahn, masih diperiksa hingga saat ini.
Pekerja
hotel berusia 32 tahun itu melapor ke polisi bahwa saat memasuki kamar
Strauss-Kahn pada pukul 13.00 waktu setempat, Strauss-Kahn melakukan
kekerasan seksual terhadapnya. Dia kemudian segera lari dari kamar dan
melapor ke polisi.
Browne
mengatakan Strauss-Kahn telah meninggalkan ponsel dan barang-barang
pribadinya di kamar di Hotel Sofitel yang beralamat di 45 West 44th
Street, dekat Times Square. Strauss-Kahn disergap di pesawat Air France
oleh polisi dari New York dan New Jersey kemudian digiring ke kantor
polisi di Manhattan.
Penangkapan
terjadi sekitar pukul 16.45 ketika polisi bandara berpakaian preman
tiba-tiba masuk ke dalam pesawat Air France bernomor penerbangan 23.
Penerbangan pun tertunda selama 10 menit.
Bila
terbukti bersalah, kasus ini akan menjadi sandungan bagi Strauss-Kahn
yang menjadi kandidat Presiden Prancis dari Partai Sosialis.
Strauss-Kahn akan melawan Presiden Nicolas Sarkozy.
Strauss-Kahn
adalah bekas profesor di bidang ekonomi yang kemudian merambah dunia
politik sebagai Deputi Parlemen di era 1980-an dan menjadi Menteri
Keuangan di era Perdana Menteri Lionel Jospin, sampai 1999.
Strauss-Kahn
sempat melancarkan kampanye Front Anti-Sarkozy dalam rangka menjadi
presiden partai, namun gagal melawan Segolene Royal. Beberapa bulan
kemudian dia diangkat menjadi pemimpin IMF dan mendapat dukungan
Sarkozy.
Strauss-Kahn,
yang menikahi seorang mantan reporter televisi, tak lepas dari skandal
berbau seks. Pada 2008, dia terlibat skandal seks dengan salah seorang
petinggi IMF, Piroska Nagy. IMF kemudian menggelar investigasi yang
membuat Nagy meninggalkan badan itu dan pindah ke European Bank.
DEDDY SINAGA | AP | NEW YORK TIMES

0 komentar:
Posting Komentar