
JAKARTA - Mayjen Purn Syamsir Siregar adalah salah seorang perwira lulusan Akademi Militer [Akmi] 1965. Generasi ini memiliki posisi yang khas di antara lulusan Akmil lainnya, karena jumlah lulusan Akmil 1965 paling banyak di antara generasi lainnya, lebih dari 400 perwira. Karena jumlah lulusannya yang banyak, maka ketika lulusan Akmil 1965 memasuki level perwira tinggi, yang menjadi jenderal juga banyak, beberapa diantaranya muncul sebagai figur yang menonjol, seperti Theo Sjafei dan Yunus Yosfiah.
Begitu banyaknya jenderal dari Akmil 1965, jejak mereka masih terasa, hingga jauh hari setelah mereka memasuki masa purna tugas, salah satunya adalah Syamsir Siregar. Syamsir pensiun pada akhir 1996, dengan jabatan terakhir adalah Asisten Intelijen (Asintel) Mabes ABRI, merangkap Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA). Tak disangka-sangka namanya muncul kembali pada Desember 2004, ketika dirinya ditetapkan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), di masa awal periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selain Syamsir, dari generasi Akmil 1965, yang juga mendapat posisi adalah Letjen Purn M Maruf, yang diangkat sebagai Mendagri. Kebetulan baik Syamsir maupun Maruf, masuk dalam tim sukses saat SBY maju sebagai calon presiden 2004.
Penunjukan Syamsir dulu sebagai Kepala BIA (Agustus 1994September 1996), dianggap aneh juga, karena pengalaman Syamsir di bidang intelijen terbilang minim. Syamsir pernah bertugas di bidang intelijen, jauh sebelumnya, saat masih berpangkat kapten, diantaranya sebagai Kepala Seksi (Pasi) Intel Yonif Linud 305 (Karawang, 1971), Kasi Intel Brigif Linud 17/Kostrad (1973), dan perwira intelijen Kopur Linud Kostrad (1975). Setelah itu praktis Syamsir tak pernah lagi berdinas di bidang intelijen, sampai dirinya ditunjuk sebagai Kepala BIA (merangkap Asintel Mabes ABRI), setelah sebelumnya menjabat sebagai Pangdam II/Sriwijaya.
Salah satu yang bisa diingat saat Syamsir menjabat Kepala BIA adalah pecahnya “Peristiwa 27 Juli 1996”. Terkait peristiwa itu, Syamsir pernah mengatakan: “Saya juga korban dari peristiwa 27 Juli. Karena peristiwa tersebut, saya dipecat dari posisi Kepala BIA. Alasan pencopotannya, saya dianggap telah mendukung gerakan Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan juga memerintahkan membakar toko-toko.”
Peristiwa 27 Juli 1996, sampai kini masih meninggalkan misteri, bila boleh disebut hutang, itulah hutang Syamsir sebagai Kepala BIA saat itu. Pada saat menjabat Kepala BIN, Syamsir kembali “berhutang”, yaitu soal kasus kematian aktivis HAM, Munir. Memang Munir meninggal, saat Kepala BIN masih dijabat Hendro Priyono, namun proses pengungkapan kasus itu terjadi di masa Syamsir, dan masih juga gelap hingga sekarang. Seandainya Syamsir sempat berjalan-jalan ke negeri Belanda, bisa jadi dia kurang nyaman, karena di Belanda, nama Munir diabadikan sebagai nama jalan (Munirstraat), yang seolah mengingatkan Syamsir atas hutangnya.
| SUMBER KANALINFORMASI

0 komentar:
Posting Komentar