News Update :

Terorisme Indonesia, Antara Ada dan Tiada

Kamis, 21 April 2011


Jakarta – Direktur REFORM Institute, Yudi Latief menilai
maraknya aksi terorisme belakangan ini menimbulkan banyak praduga. Bahkan, Yudi
yang juga pengamat politik ini menilai, sederet aksi teror adalah antara nyata
dan rekayasa.

“Terorisme ada di antara bayangan real-unreal, antara nyata dan rekayasa,”
ujar Yudi Latief setelah menyaksikan film dokumenter berjudul Inside Indonesia’s
War on Terror di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (18/4/2011).
Dia mengatakan, setelah menyaksikan film tersebut, memang aksi terorisme
perlu untuk dikutuk. Dalam perspektif apapun. “Setelah nonton film ini nampak
bahwa di satu sisi kita harus mengutuk tindak kekerasan atas nama apapun,” ujar
Yudi.
Namun, dari perspektif lain, Yudi melihat bahwa ada semacam dendam masa lalu.
Dimana aparat keamanan juga menjadi target sasaran dari rangkaian aksi ini. Dan
itu memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. “Di sisi lain kita
melihat terorisme itu selalu ada kaitannya dengan korban-korban kekerasan di
masa lalu dan dalam sejarah Indonesia ada tali temalinya dengan skenario
aparatur keamanan untuk target-target tertentu dalam tujuan-tujuan politik,”
jelasnya.

Dalam analisanya setelah menyaksikan film dokumenter ini, aparat keamanan
bermain-main dengan kekerasan. Tetapi, memiliki tujuan jangka pendek. “Film ini
juga menunjukkan bagaimana aparat keamanan bermain-main dengan kekerasan. Ada
tujuan-tujuan politik jangka pendek yang lain,” jelas Yudi.

Liputan6.com, Jakarta: “Aksi terorisme berada di antara nyata dan rekayasa. Dalam sejarah Indonesia, ada skenario aparatur keamanan dalam sejumlah aksi teror untuk target-target tertentu,” ujar Direktur Eksekutif Reform Institute Yudhi Latief usai menyaksikan film Inside Indonesia’s War on Terror di Kine Forum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (18/4).

Film dokumenter produksi SBS tersebut menyimpulkan bahwa mayoritas aksi teror
dan kerusuhan antaragama di Indonesia adalah proyek negara. “Di satu sisi kita
harus mengutuk tindak kekerasan atas nama apapun. Tapi di sisi lain kita melihat
terorisme itu selalu ada kaitannya dengan korban-korban kekerasan di masa lalu,”
kata Yudhi lagi.

Menurutnya, film ini menunjukkan bagaimana aparat memanfaatkan momentum aksi
teror tujuan-tujuan politik jangka pendek. “Terorisme memang ada di sana,
jaringannya ada di sana. Tapi cara-cara aparatur keamanan kapan menangkap
teroris, kapan teroris itu dipancing untuk melakukan kekerasan tertentu itu
sering terkait dengan situasi politik,” jelas Yudhi.

Yudhi beranggapan jika bertolak dari film ini, bukan tidak mungkin ada
permainan dari aparat keamanan. “Ini (aksi-aksi teror) bukan kasus yang berdiri
sendiri. Sering juga penangkapan teroris momentumnya dipaksakan dengan momentum
panggung politik yang lain,” ungkap Yudhi.

Film “Inside Indonesia’s War and Teror” Dokumentasikan Keterlibatan Negara Dalam Teror di Indonesia Terkait dengan aksi bom bunuh diri dan sejumlah teror bom buku yang marak
belakangan ini di Indonesia maka sejumlah aktivis kemanusiaan dan HAM menggelar
aksi nonon bareng di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin 18 April 2011. Salah
satu film yang mereka saksikan adalah dilm berjudul “DALANG DIBALIK TEROR DI
INDONESIA” atau dalam versi aslinya berjudul “Inside Indonesia’s War and
Teror”.

Film ini merupakan sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Dateline SBS
(Special Broadcasting Service), stasiun televisi terkenal di Australia.
Sesudah ditayangkan pada 12 Oktober 2005, SBS mendapat tekanan dan sempat
menghilangkan transkrip film tersebut dari situs mereka. Dikhabarkan reporter
SBS David O’Shea kemudian dicekal masuk ke Indonesia.

Film ini dibuat oleh reporter kawakan dari sebuah stasiun TV terpercaya
Proses pembuatannya bahkan memakan waktu tahunan. Isinya bercerita mengenai hal
yang cukup kontroversial, yaitu tudingan keterlibatan TNI, Polri dan intelejen
dalam sejumlah aksi teror di Indonesia.

Pada tahun 2006 seperti dikutip dari situs milik Ungkap (http://ungkap.atspace.com/dalang.html disebutkan bahwa film yang sempat dimuat di Youtube dalam beberapa potongan klip akhirnya di buat versi DVD dan diberi subtitle Indonesia.
Beberapa cuplikan wawancara dalam film ini:

“Peristiwa tragis tersebut tidak merenggangkan, justru sebaliknya mendekatkan
Australia dengan Indonesia” (PM. John Howard)
“Untuk meyakinkan asing maka bom meledak”. (John Mempi)
“…500 juta euro untuk polisi”. (Dai Bachtiar)
“Dari MILF juga hadir… Dari Pattani…dari Sulawesi dari Jawa Barat hadir dalam
pertemuan itu…. Pimpinan rapat itu Hambali”. (Lamkaruna Putra)
“Tidak satu pun kelompok politik Islam yang tidak dikooptasi intelijen” (Umar
Abduh)
“Kita yang tidak pernah berpikir pakai nama itu (Komando Jihad, ed.), tapi
kami disuruh menerima bahwa itulah nama organisasi kami”. (Timsar Zubil)
“Ini kotak amunisi milik Departemen Pertahanan RI”. (Pdt. Damanik)
“Laskar Jihad berperan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan”. (Soesilo
Bambang Yudhoyono)
“Setiap aparat keamanan mau mengakhiri masa tugasnya, bom meledak”. (H. Adnan
Arsan)
“Terorisme didanai dari hasil korupsi” (GJ. Aditjondro)
“Kalau ada oknum kita ambil tindakan”. (Syamsir Siregar)
“Semua bom itu milik pemerintah!”
“Polisi atau tentara…. Gak taulah!” (Gus
Dur)

Ratna Sarumpaet : Tudingan Kepada Baasyir Untungkan
Pelaku Teror Sebenarnya
Jakarta, Seruu.com - Seniman yang juga aktivis kemanusiaan Ratna Sarumpaet menyatakan bahwa tudingan terhadap Abu Bakar Baasyir akan menguntungkan pelaku teror sebenarnya di Indonesia. Hal ini dikatakan dalam kesempatan nonton bareng film dokumenter “Inside Indonesia’s War on Teror” bersama sejumlah aktivis HAM dari Kontras dan wartawan di Taman Ismail Marzuki,
Senin, 18 April 2011.

Menurutnya meski ia tidak sepakat dengan langkah-langkah Baasyir dalam banyak
hal namun tudingan sebagai otak terorisme Indonesia kepada Ustadz Abu menurutnya
hanya akan menguntungkan gerakan intelejen yang merupakan pelaku sebenarnya dari
teror di Indonesia. “Saya tidak sepakat dengan Baasyir, tapi dengan menuduh dia
(sebagai pelaku terorisme) mkaka hanya akan meguntungkan sejumlah pihak yang
menjadi pelaku teror sebenarnya,” paparnya disela acara tersebut.

Ia juga mengungkapkan data dan film dokumenter ini hanya satu dari sekian
banyak bukti dimana Polisi, TNI dan intelejen negara telah ‘bermain’ dan berada
di belakang sejumlah aksi teror di Indonesia. “Ini hanya satu dari sekian banyak
bukti yang ada, belum lagi kesaksian korban dan saksi mata peristiwa, ada grand
desain dalam teror di negeri ini,” ungkapnya.

“Inside Indonesia’s War on Teror” atau jika di Indonesiaken menjadi kurang
lebih “DALANG DIBALIK TEROR DI INDONESIA” adalah film dokumenter yang diproduksi
oleh Dateline SBS (Special Broadcasting Service), stasiun televisi terkenal di
Australia. Sesudah ditayangkan pada 12 Oktober 2005, SBS mendapat tekanan
dan sempat menghilangkan transkrip film tersebut dari situs mereka. Dikhabarkan
reporter SBS David O’Shea kemudian dicekal masuk ke Indonesia.

| Sumber http://www.indonesiamedia.com/2011/04/20/terorisme-indonesia-antara-ada-dan-tiada/
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016