BANDA ACEH - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Aceh meminta Polisi menangkap anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Padang Tijie, Pidie, yang menganiaya wartawan. Selain itu, organisasi wartawan ini juga mendesak penegak hukum mengusut tuntas kasus pemukulan itu.
"Tindakan premanisme seperti ini tidak bisa ditolerir," kata Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman kepada wartawan The Atjeh Post, Kamis, (27/4).
Menurut Tarmilin, penganiayaan terahadap wartawan adalah upaya untuk menghambat informasi untuk masyarakat. "Kejahatan ini tak hanya bentuk fisik saja, tetapi juga bertujuan mengintimidasi wartawan agar tak memberitakan berbagai kejahatan lain dan penyimpangan yang sangat merugikan masyarakat," katanya.
Sejumlah wartawan juga menyatakan kekecewaannya dengan aksi premanisme yang ditunjukkan oknum anggota KPA Padang Tijie itu. Menurut sejumlah wartawan yang tergabung dalam organisasi Aliansi Jurnalis Independen dan PWI, anggota KPA harusnya melindungi kepentingan masyarakat Aceh yang selama ini memang mendukung gerakan mereka sebelum perdamaian, bukannya melindungi kontraktor yang merugikan masyarakat.
Karena itulah, para wartawan di Aceh, mendesak polisi bertindak tegas dan membawa kasus ini ke meja hijau. "Jika keberatan dengan pemberitaan media seharusnya dapat memngunakan hak jawab atau hak koreksi,bukan malah mengunakan cara-cara yang brutal," kata Tarmilin.
Rahmad Idris adalah Ketua PWI Pidie yang juga wartawan Harian Analisa, Medan. Bertugas di Kabupaten Pidie dia dianiaya anggota KPA Sagoe Padang Tijie, pada Selasa 25 April 2011. Penganiayaan diduga karena korban ingin menulis pembangunan irigasi di Desa Wacik, Padang Tijie yang dikeluhkan masyarakat sekitar.
Mulanya Rahmad dan beberapa wartawan di Sigli berangkat meliput ke Wacik terkait keluhan masyarakat bahwa pembangunan irigasi yang salah satu sub proyeknya ditangani oleh KPA Sagoe Padang Tijie.
Warga mengeluhkan pembangunan irigsi justru mengakibatkan kawasan itu menjadi defisit air. Liputan itu diduga diketahui oleh kontraktor proyek, mereka tak suka proyek yang dikerjakan disorot media massa.
Usai liputan Rahmad dan teman-temannya kembali ke Sigli. Setiba di sana, Rahmad ditelpon anggota DPRK Pidie Lukman Hakim, meminta dia bersama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pidie, Said Ramadhan, menjumpai KPA Padang Tijie di Balai Benih Ikan setempat. Saat tiba di sana, Rahmad langsung dikeroyok oknum KPA tanpa basa basi. Pelakunya diduga Wakil Ketua KPA Sagoe Padang Tijie.
Menurut Tarmilin , Rahmad telah memberikan keterangan tentang kronologis kejadian kepada polisi. PWI juga menyiapkan tim untuk mengadvokasi korban. Sejauh ini kata Tarmilin, PWI belum menyurati Pimpinan KPA Pusat atas tindakan anggotanya itu. PWI Aceh juga meminta KPA tidak melindungi anggotanya yang bermasalah dengan hukum.
"Kita akan terus mendampingi rekan wartawan agar kasus ini selesai secara hukum di pengadilan, pelakunya harus dihukum seadil-adilnya," ujarnya.[]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar