Sungguh tak sesuai nasib kebanyakan penduduk Aceh, dengan bait lagu ini " Bumi Aceh cukup megah, emas dengan gas isi dalamnya.....
REDELONG- 'Pulangkan kami kenegeri Gayo'. Itu lah jeritan warga yang sejak puluhan tahun menetap di Aceh Timur dan Aceh Utara, lantaran telah diabaikan begitu saja.Sedangkan di kawasan mereka tersimpan sumber sedotan sumur gas alam yang cukup signifikan. Namun kehidupan mereka yang selama ini sebagai petani tetap menderita miskin.
Lalu lalang dikeliling kebun kelapa sawit, pipa gas dan sungai. Kehidupan warga disekitar itu terlihat sangat tersentuh hati, terkadang mereka kurang mendapat perhatian dari ayahnya terutama Aceh Timur. Akan tetapi, kehadiran sumur gas itu hingga kini malah lebih dianggap sebagai sumber penderitaan dari pada potensi untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Pasalnya, wajah kemiskinan dan kebodohan belum lepas dari kesehariaan warga terisolir itu, yang kini telah resmi menjadi penduduk Bener Meriah. Bukan karena warga tidak mengerti makna kekayaan alam yang melimpah tersebut, melainkan mereka sudah terlanjur kecewa karena harapan untuk memiliki hidup yang jauh lebih baik hanya isapan jempol belaka atau sebagai penonton.
Sebab, sedotan gas di kawasan itu tak kunjung mengubah hidup mereka sebelum ada kejelasan tentang tabal batas yang selama ini saling klaim antar dua kabupaten.
Untuk itu, dimana ribuan masyarakat di 4 kampung definitif dan puluhan dusun di daerah marginal itu, telah resmi mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Bener Meriah. Dan juga tercatat 1600 jiwa telah terdaftar dalam pemilu mendatang.
Mereka beranggap, hanya Kabupaten Bener Meriah, yang perduli dan prihatin kepadanya diantaranya memberikan saranan transpotasi kendaraan dinas gecik perahu boat, mesin perontok padi dan lain-lain. Secara resmi kami telah menjadi penduduk Bener Meriah, hal itu pun di iyakan oleh Bupati Bener Meriah, Ir.H.Tagore Abubakar.
Untuk itu, masyarakat meminta kepada Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, segera menuntaskan tabal batas yakni Aceh Timur dan Bener Meriah, yang selama ini saling klaim. Ironis lagi, masyarakat disana sangat membutuhkan meunasah dan WC. Dan sekitar 2500 jiwa dari beberapa perkampungan yakni, Sarah Reje, Sarah Gele, Puring, Rubik, Sejudo, Sejuk, Bidari Wali, Ranto Panyang, Pelalu, Garut, Karang Baru, Arul Spoi, Sarah Reje dua dan ketok, minta pindah ke tanah gayo (Bener Meriah).
Sedangkan 4 desa menjadi kampung defenitif atas perjuangan Tagore, Kampung Sarah Gele dengan kadesnya M. Yunus. Garut (M.Hasan) Ranto Panyang(Agani) dan Abd. Rahman Dana (Sejuk). Dikatakan Kades itu, Pemkab Aceh Tengah dulu dititipkan ke Aceh Timur pada pemilu 1971, ketika itu kesulitan mensuplai logistic pemilu. Sedangkan program PNPM dan BKPG tidak pernah disalurkan.
Sejak tahun 2010, masyarakat disini telah bergabung ke Kabupaten Bener Meriah, apalagi jarak tempuh sangat mudah meski harus menyebaringi aliran sungai.Camat Bidadari Burhanuddin SH, kini soal tabal batas telah ditangani oleh pemerintah provinsi. Jadi masyarakat diharapkan bersabar dan tidak melakukan bentuk anarkis.|Sumber Rakyat aceh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar