PERHELATAN politik seringkali menggiring bangsa ini dalam keterpurukan sosial dan moral. Dimana hampir setiap tahun politik tiba, perpecahan, pertikaian dan caci maki menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Entah semua itu terjadi secara alami atau memang ada pihak yang mengkondisikan, yang jelas ‘huru hara’ itu membuat rakyat kembali larut dalam trauma ‘perang’.
Menjelang Pemilu Legislatif 2014, serangkaian pertikaian yang beraroma politik telah terjadi. Sebut saja, pembakaran mobil caleg, penyerangan posko partai, bentrok antarpendukung partai, dan baru-baru ini penembakan yang menewaskan seorang caleg di wilayah Barat-Selatan. Serangkaian insiden ini sungguh merunggut asa mereka yang masih rindu damai. Rakyat jelata mengelus dada, menggeleng-geleng kepala seakan berkata “duhai elite-elite negeri ini, kami tak berharap banyak, kami hanya ingin satu hal, hidup damai!”.
Rentetan-rentetan kejadian memilukan yang kerap terjadi menjelang pemilu membuat dunia politik menjadi momok menakutkan. Setiap kali genderang politik ditabuh, suasana negeri ini mulai panas seakan perang akan mulai. Politik benar-benar memporak-porandakan tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan dan meretakkan semangat persaudaraan antarsesama. Sehingga muncul pertanyaan, apakah memang ini wajah asli politik?
Jika ditelisik lebih dalam, hakikat politik itu baik. Hari politik adalah hari pesta rakyat menentukan masa depannya. Namun kemudian wajah politik berubah menjadi buram karena disebabkan oleh adanya pergeseran-pergeseran dalam memahami dan memaknai politik. Inilah yang penulis sebut sebagai ‘aliran sesat’ politik.
‘Perang’ kekuasaan
Dalam dunia politik kita, muncul persepsi yang salah dalam menafsirkan persaingan politik. Persaingan politik dipandang sebagai ‘perang’ kekuasaan. Sehingga lawan politik diposisikan sebagai musuh yang harus dijauhi dan dilenyapkan. Paradigma berpikir ini mereduksi semangat persaudaraan antarsesama. Semangat ukhwah Islamiah yang menjadikan setiap muslim sebagai saudara di dunia dan akhirat menjadi pudar. Akhirnya warna bendera partai politik pun menjelma sebagai identitas. Identitas yang menyekat antara satu dengan yang lainnya.
Paham ini mengkerdilkan perbedaan dan memaknai kawan dan lawan dalam pengertian yang sempit. Sebutan kawan hanya disematkan pada orang-orang yang se-pertai dengannya, sementara yang lain lazim disebut sebagai musuh. Celakanya lagi, paham semacam ini tidak hanya dianut oleh orang-orang yang terlibat langsung dalam pusaran politik. Tetapi ikut menjadi iktikad bagi masyarakat awan yang hanya men-taklid (mendukung) salah satu partai atau calon anggota legislatif (caleg) dari partai tertentu. Sehingga tidak jarang, politikus-politikus kedai kopi pun ikut terlibat perang mulut dengan orang-orang yang mendukung partai yang berbeda dengannya. Bahkan ada keluarga yang terpecah hanya gara-gara anggota keluarga tersebut mendukung partai yang berbeda.
Suka tidak suka, pemahaman seperti ini harus diluruskan. Sebab penempatan lawan politik sebagai musuh akan menimbulkan resistensi dan menyulut api kebencian antar orang-orang yang berbeda partai. Sehingga pertikaian, cacian dan fitnah memfitnah antar mereka pun akan menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan. Maka untuk meluruskan paham ini, ada satu hal yang harus benar-benar diingat. Yaitu bahwa setiap muslim itu saudara dan setiap muslim mesti memperlakukan muslim lain layaknya saudara. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh ia menzalimi dan membiarkannya (dalam bahaya), siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Iman dan Islam adalah harus dan mesti dijadikan sebagai identitas utama umat Islam. Tiada identitas lain yang lebih tinggi selain identitas ke-Islamannya. Artinya seorang muslim, walau ia memiliki status lain yang membedakan ia dengan muslim lain, tetap saja antar mereka terikat hubungan persaudaraan dibawah kesamaan Iman dan Islam. Ras, golongan, bangsa, warna kulit maupun status sosial bukanlah sekat pemisah. Tetapi semua itu hanyalah identitas semu yang bersifat alamiah yang tidak lebih tinggi dari status muslim.
Dalam Islam, ada etika-etika persaudaraan yang harus dihormati dalam setiap interaksi sosial antar muslim. Etika-etika tersebut merupakan penjabaran dari semangat ukhwah Islamiah yang sangat ditekankan dalam Islam. Semua etika-etika ini include dalam kaedah la dharara wa la dhirara. Artinya dalam interaksi sosial muslim tidak boleh ada yang menyakiti dan tersakiti. Artinya seorang muslim berhak untuk tidak disakiti dan berkewajiban untuk tidak meyakiti yang lain.
Berpijak pada semangat ukhwah Islamiah yang tertanam dalam Islam, sudah semestinya kita umat Islam hidup secara berdampingan dalam setiap perbedaan. Perbedaan partai politik bukan alasan untuk kita saling memusuhi, mencaci atau saling memfitnah. Perbedaan adalah seseuatu yang lazim terjadi. Tetapi bagaimana perbedaan itu harus membuat kita semakin baik, kreatif dan inovatif. Bakan malah membuat energi kita tersedot oleh amarah permusuhan yang berhujung pada kerugian diri kita sendiri.
Bersaing secara sportifKhusus kepada elite-elite partai politik, penulis berpesan. Silahkan bersaing dengan lawan-lawan politik untuk memenangkan pemilu. Tetapi persaingan jangan sampai membuat lahirnya permusuhan dan resistensi antarsesama. Rebut hati rakyat dengan cara-cara yang baik dan sportif. Tarik simpati mereka dengan membutikan bahwa kitalah yang terbaik. Jangan membuktikan kita baik dengan cara mengumbar aib, kejelekan apalagi memfitnah yang lain. Karena hakikatnya semua itu akan menjauhkan kita dengan rakyat.
Bagi para belasan ribu caleg yang akan merebut kursi DPRK, DPRA, DPR RI dan DPD pada April mendatang, mari kita bersaing dengan saudara-saudara kita yang lain secara sehat dan santun. Caleg lain bukan musuh kita. Tetapi mereka adalah partner yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Yakni sama-sama ingin berbuat dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Perlakukan saudara-saudara kita yang maju dari partai yang berbeda dengan kita layaknya kita memperlakukan seorang saudara yang kita kasihi.
Dan kepada rakyat yang ikut mendukung salah satu partai, penulis juga berpesan. Silahkan dukung partai manapun yang saudara suka. Tetapi ingat bahwa orang-orang yang mendukung partai yang berbeda dengan kita itu tetaplah saudara kita. Hormati orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Toh kita boleh berbeda dengan mereka, mengapa mereka tidak?
Akhirnya kita berharap bahwa persaingan politik senantiasi berdiri pada jalurnya. Jangan sampai persaingan politik menabrak tatanan kehidupan umat yang telah tertata dengan baik dalam Islam. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujarat: 13).
Menjelang Pemilu Legislatif 2014, serangkaian pertikaian yang beraroma politik telah terjadi. Sebut saja, pembakaran mobil caleg, penyerangan posko partai, bentrok antarpendukung partai, dan baru-baru ini penembakan yang menewaskan seorang caleg di wilayah Barat-Selatan. Serangkaian insiden ini sungguh merunggut asa mereka yang masih rindu damai. Rakyat jelata mengelus dada, menggeleng-geleng kepala seakan berkata “duhai elite-elite negeri ini, kami tak berharap banyak, kami hanya ingin satu hal, hidup damai!”.
Rentetan-rentetan kejadian memilukan yang kerap terjadi menjelang pemilu membuat dunia politik menjadi momok menakutkan. Setiap kali genderang politik ditabuh, suasana negeri ini mulai panas seakan perang akan mulai. Politik benar-benar memporak-porandakan tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan dan meretakkan semangat persaudaraan antarsesama. Sehingga muncul pertanyaan, apakah memang ini wajah asli politik?
Jika ditelisik lebih dalam, hakikat politik itu baik. Hari politik adalah hari pesta rakyat menentukan masa depannya. Namun kemudian wajah politik berubah menjadi buram karena disebabkan oleh adanya pergeseran-pergeseran dalam memahami dan memaknai politik. Inilah yang penulis sebut sebagai ‘aliran sesat’ politik.
‘Perang’ kekuasaan
Dalam dunia politik kita, muncul persepsi yang salah dalam menafsirkan persaingan politik. Persaingan politik dipandang sebagai ‘perang’ kekuasaan. Sehingga lawan politik diposisikan sebagai musuh yang harus dijauhi dan dilenyapkan. Paradigma berpikir ini mereduksi semangat persaudaraan antarsesama. Semangat ukhwah Islamiah yang menjadikan setiap muslim sebagai saudara di dunia dan akhirat menjadi pudar. Akhirnya warna bendera partai politik pun menjelma sebagai identitas. Identitas yang menyekat antara satu dengan yang lainnya.
Paham ini mengkerdilkan perbedaan dan memaknai kawan dan lawan dalam pengertian yang sempit. Sebutan kawan hanya disematkan pada orang-orang yang se-pertai dengannya, sementara yang lain lazim disebut sebagai musuh. Celakanya lagi, paham semacam ini tidak hanya dianut oleh orang-orang yang terlibat langsung dalam pusaran politik. Tetapi ikut menjadi iktikad bagi masyarakat awan yang hanya men-taklid (mendukung) salah satu partai atau calon anggota legislatif (caleg) dari partai tertentu. Sehingga tidak jarang, politikus-politikus kedai kopi pun ikut terlibat perang mulut dengan orang-orang yang mendukung partai yang berbeda dengannya. Bahkan ada keluarga yang terpecah hanya gara-gara anggota keluarga tersebut mendukung partai yang berbeda.
Suka tidak suka, pemahaman seperti ini harus diluruskan. Sebab penempatan lawan politik sebagai musuh akan menimbulkan resistensi dan menyulut api kebencian antar orang-orang yang berbeda partai. Sehingga pertikaian, cacian dan fitnah memfitnah antar mereka pun akan menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan. Maka untuk meluruskan paham ini, ada satu hal yang harus benar-benar diingat. Yaitu bahwa setiap muslim itu saudara dan setiap muslim mesti memperlakukan muslim lain layaknya saudara. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh ia menzalimi dan membiarkannya (dalam bahaya), siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Iman dan Islam adalah harus dan mesti dijadikan sebagai identitas utama umat Islam. Tiada identitas lain yang lebih tinggi selain identitas ke-Islamannya. Artinya seorang muslim, walau ia memiliki status lain yang membedakan ia dengan muslim lain, tetap saja antar mereka terikat hubungan persaudaraan dibawah kesamaan Iman dan Islam. Ras, golongan, bangsa, warna kulit maupun status sosial bukanlah sekat pemisah. Tetapi semua itu hanyalah identitas semu yang bersifat alamiah yang tidak lebih tinggi dari status muslim.
Dalam Islam, ada etika-etika persaudaraan yang harus dihormati dalam setiap interaksi sosial antar muslim. Etika-etika tersebut merupakan penjabaran dari semangat ukhwah Islamiah yang sangat ditekankan dalam Islam. Semua etika-etika ini include dalam kaedah la dharara wa la dhirara. Artinya dalam interaksi sosial muslim tidak boleh ada yang menyakiti dan tersakiti. Artinya seorang muslim berhak untuk tidak disakiti dan berkewajiban untuk tidak meyakiti yang lain.
Berpijak pada semangat ukhwah Islamiah yang tertanam dalam Islam, sudah semestinya kita umat Islam hidup secara berdampingan dalam setiap perbedaan. Perbedaan partai politik bukan alasan untuk kita saling memusuhi, mencaci atau saling memfitnah. Perbedaan adalah seseuatu yang lazim terjadi. Tetapi bagaimana perbedaan itu harus membuat kita semakin baik, kreatif dan inovatif. Bakan malah membuat energi kita tersedot oleh amarah permusuhan yang berhujung pada kerugian diri kita sendiri.
Bersaing secara sportifKhusus kepada elite-elite partai politik, penulis berpesan. Silahkan bersaing dengan lawan-lawan politik untuk memenangkan pemilu. Tetapi persaingan jangan sampai membuat lahirnya permusuhan dan resistensi antarsesama. Rebut hati rakyat dengan cara-cara yang baik dan sportif. Tarik simpati mereka dengan membutikan bahwa kitalah yang terbaik. Jangan membuktikan kita baik dengan cara mengumbar aib, kejelekan apalagi memfitnah yang lain. Karena hakikatnya semua itu akan menjauhkan kita dengan rakyat.
Bagi para belasan ribu caleg yang akan merebut kursi DPRK, DPRA, DPR RI dan DPD pada April mendatang, mari kita bersaing dengan saudara-saudara kita yang lain secara sehat dan santun. Caleg lain bukan musuh kita. Tetapi mereka adalah partner yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Yakni sama-sama ingin berbuat dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Perlakukan saudara-saudara kita yang maju dari partai yang berbeda dengan kita layaknya kita memperlakukan seorang saudara yang kita kasihi.
Dan kepada rakyat yang ikut mendukung salah satu partai, penulis juga berpesan. Silahkan dukung partai manapun yang saudara suka. Tetapi ingat bahwa orang-orang yang mendukung partai yang berbeda dengan kita itu tetaplah saudara kita. Hormati orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Toh kita boleh berbeda dengan mereka, mengapa mereka tidak?
Akhirnya kita berharap bahwa persaingan politik senantiasi berdiri pada jalurnya. Jangan sampai persaingan politik menabrak tatanan kehidupan umat yang telah tertata dengan baik dalam Islam. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujarat: 13).
Tgk. Ihsan M. Jakfar, Penulis adalah Ketua Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA), berdomisili di Jeunieb, Bireuen. Email: ihsan_jeunieb@yahoo.com | Tulisan ini sudah dipublikasi oleh Serambi (aceh.tribunnews.com)
