Jakarta | acehtraffic.com - Kasus penculikan dan pembunuhan 2 orang
personel Komando Distrik Militer 0103 Lhokseumawe, Aceh Utara, dipimpin
oleh kepolisian. Sementara, pihak TNI hanya berperan memasok data
intelijen soal dugaan kelompok pelaku.
"Ini kan pidana umum. Otomatis, Polisi leading dalam kasus
ini. Kalau TNI data intelejennya kan kuat, tentu kita butuh itu," ujar
Anton di Mabes Polri pada Jakarta pada Rabu (25/3/2015).
"Sesuai kewenangan TNI dan Polri masing-masing saja. Soal penegakan
hukumnya, ya mohon percayakan saja kepada kepolisian," lanjut Anton.
Sejauh ini, Anton mengakui belum mendapat informasi soal perkembangan
kasus tersebut. Polisi masih melakukan pengembangan atas kasus
tersebut. Polisi tengah mendalami apa kelompok bersenjata terkait
gerakan radikal atau tidak. (Baca: Diculik Kelompok Bersenjata, Dua Intel Kodim Aceh Utara Ditemukan Tewas)
Kasus penculikan dan pembunuhan yang dimaksud adalah yang menimpa dua
anggota Kodim 0103 Lhokseumawe bernama Serda Indra Irawan (41) dan
Sertu Hendrianto (36). Senin (23/3/2015) kemarin, Indra dan Hendri pergi
ke Kampung Alu Papan, Desa Alumbang, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten
Aceh Utara untuk bertemu kepala desa setempat.
Disebutkan, kedatangan Indra dan Hendri adalah untuk melakukan
pembinaan teritorial masyarakat atau sosialisasi nilai-nilai Pancasila.
Aksi itu menyusul laporan masyarakat tentang adanya aktivitas kelompok
bersenjata yang sering meminta uang ke masyarakat. Pada sore hari,
sosialisasi keduanya selesai. (Baca: Kadispen TNI Bantah Dua Anggota Intelijen Kodim Tewas di Aceh)
Namun, baru berjarak sekitar 300 meter dari kediaman kepala desa,
kelompok bersenjata menyergap mereka dan menculik memakai mobil.
Keduanya ditemukan meninggal dunia pada Selasa pukul 08.30 WIB. Keduanya
ditemukan dalam keadaan tangan terikat ke belakang, tubuh penuh luka
tembak dan hanya mengenakan celana dalam. Selain itu, ada 12 selongsong
peluru AK47 dan tiga selongsong peluru M16 ditemukan di sekitar jenazah.| kompas.com |

