News Update :

Menteri PU: Akan Dibuat Terowongan di Geurutee, Biaya Ditaksir Rp 1,6 Triliun

Rabu, 11 Maret 2015

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadi Muljono bersama Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, Sekda Aceh Dermawan dan sejumlah kepala SKPA, menandatangani gambar rencana pembangunan terowongan geurutee pada saat meninjau lokasi proyek terowongan Geurutee, Aceh Jaya Senin (10/3). SERAMBI/HERIANTO
Banda Aceh | acehtraffic.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadi Moeljono, Selasa 10 Maret kemarin meninjau kondisi badan jalan nasional yang berada di pinggiran tebing Gunung Geurutee, Aceh Jaya. Ia menilai, kondisi jalan tersebut sangat rawan dan bisa membuat pengendara roda dua, empat, enam, dan lainnya di jalur itu sewaktu-waktu jatuh ke laut.

Atas dasar itu, Basuki Hadi sangat setuju dibangun terowongan di gunung yang berada di antara Kabupaten Aceh Besar dengan Aceh Jaya tersebut. “Usulan Gubernur Aceh kepada pusat agar dibangun terowongan di kawasan Gunung Geurutee, sudah sewajarnya kita respons,” katanya menjawab Serambi saat meninjau jalan nasional di kawasan Geurutee, Aceh Jaya, .

Menteri PU dan Perumahan Rakyat, Basuki Budi Moeljono meninjau lokasi rencana pembangunan terowongan di Geurutee didampingi Direktur Pembinaan dan Pelaksanaan (Binlak) Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Ir Wijaya Seta.

Sedangkan rombongan dari Pemerintah Aceh, selain Gubernur dr Zaini Abdullah, ikut hadir Sekda Dermawan MM, Kepala Bappeda Prof Dr Abubakar Karim MS, Kepala Dinas Bina Marga Ir Anwar Ishak, Kepala Dinas Pengairan Samsurizal, Kasatker Jalan Nasional, Ir Hilal, dan lainnya.

Menteri PU dan Gubernur Aceh menuju Geurutee setelah melepas Presiden Jokowi bersama Nyonya Iriana dan rombongan kembali ke Jakarta, setelah menyelesaikan kunjungan kerjanya dua hari di Aceh.

Sebelum naik ke kawasan Geurutee, Menteri PU bersama rombongan dan Gubernur Aceh duduk ngopi lebih dulu di kedai kopi yang terdapat di kaki Gunung Geurutee.

Setelah itu, pihak Kasatker Jalan Nasional memperlihatkan gambar perencanaan pembangunan terowongan yang akan dibangun di Geurutee. Setelah melihat gambar besar rencana pembangunan terowongan itu, Kadis Bina Marga Aceh, Ir Anwar Ishak, memberikan spidol kepada Gubernur Zaini untuk meneken gambar perencanaan pembangunan terowongan tersebut.

Dengan tangkas, Gubernur Zaini langsung membubuhkan tanda tangannya di atas gambar besar rencana pembangunan terowongan yang dibuat Kasatker Jalan Nasional untuk ditunjukkan kepada Menteri Basuki Budi Moeljono.

Kemudian, Menteri PU dan Perumahan Rakyat ikut membubuhkan tanda tangan dan menuliskan namanya di kertas gambar berukuran 2 x 2 meter itu. Adegan tersebut memancing semangat hadirin, sehingga semuanya bertepuk tangan. Dilanjutkan dengan foto bersama.

Menariknya, sebelum penandatangan gambar terowongan itu diteken Zaini, Menteri Basuki Budi Moeljono mencium tangan Gubernur Aceh. Ini penghormatannya kepada orang yang lebih tua dan dia segani, sekaligus sebagai komitmennya kepada Gubernur dan rakyat Aceh bahwa proyek ini akan diwujudkan dalam waktu tak terlalu lama.        Setelah adegan cium tangan, Menteri Basuki menyerukan kepada Kepala Bappeda Aceh dan Kepala Dinas Bina Marga Aceh serta Kasatker Jalan Nasional untuk membuat usulan program field study (FS) dan detail engineering design (DED)-nya pada tahun anggran 2015 ini.

Kalau dokumen FS, DED, dan lingkungannya bisa diselesaikan pada tahun anggran 2015 ini, maka pada tahun 2016 bisa diusul anggaran pembangunan fisik pembangunan terowongan dimaksud.

Semakin cepat FS dan DED serta dokumen lingkungannya dibuat, kata Basuki, maka semakin bagus. Tujuannya, suapay dalam penyusunan RAPBN 2016 usulan anggran pembangunan fisik terowongan tersebut sudah bisa diusulkan.

Gubernur Zaini mengatakan, usulan program pembangunan terowongan pada lintasan jalan nasional di kawasan Gunung Geurutee ini bisa menjadi yang pertama bagi Kementerian PU untuk Indonesia.

Terowongan yang dibangun di Aceh itu, kata Zaini, bisa menjadi model bagi daerah lainnya. Para insinyur di Indonesia yang ingin merancang pembangunan terowongan di daerahnya, bisa belajar dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan terowongan Geurutee di Aceh Jaya.

“Kalau ini nanti bisa diwujudkan, maka nama Indonesia di mata dunia ikut bagus, karena Indonesia sudah bisa membangun terowongan pada ruas jalan Banda Aceh-Meulaboh yang sebagian badan jalannya telah dibangun lebih dulu oleh USAID pada masa rehab rekons pascatsunami,” sebut Zaini.

Sementara itu, Ir Hilal mengatakan, berdasarkan pengalaman pembangunan terowongan di luar negeri, seperti di Sewdia, per kilometer bisa menghabiskan dana 800-900 miliar rupiah

“Jadi, kalau 1,9 km terowongan yang akan kita bangun, maka butuh dana antara 1,6-1,8 triliun rupiah,” ujar Hilal.

Namun, pembangunan terowongan sepanjang 1,9 km itu bisa memangkas panjang jalan lama yang mencapai 8-10 km. Jarak dan waktu tempuh dari Banda Aceh-Meulaboh akan lebih pendek dan singkat.

Rencana penanganan badan dan ruas jalan yang rawan di kawasan Gunung Kulu, paro dan Geurute, tidak hanya membangun terowongan pada kawasan jalan di Gunung Geurutee. Di beberapa kawasan badan jalan yang rawan, seperti di Gunung Kulu dan Paro pun bisa dilakukan hal yang sama demi menekan tingkat kerawanan jalan di kawasan yang bergunung itu.| acehtribunnews.com |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016